Review Buku Agensi Rumah Tangga Karya Almira Bastari

Karya Almira Bastari termasuk salah satu buku dari penulis Indonesia yang selalu saya tunggu, termasuk buku Agensi Rumah Tangga ini. Gaya penulisan Almira Bastari ini sangat cocok di saya yang suka buku-buku ringan.

Tema yang diangkat dalam buku-bukunya selalu relate dengan kehidupan sehari-hari. Dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami pembaca, tapi tetap ada pesan yang disampaikan.

Begitu juga dengan buku Agensi Rumah Tangga ini. Bukan hanya persoalan membuat agensi penyaluran pembantu dan konflik antara kehidupan rumah tangga saja, tapi ada konflik orang tua dan anak yang kenyataannya banyak dialami oleh kita.

Mau tahu lebih lanjut? Baca sampai selesai ya.

Informasi Tentang Buku Agensi Rumah Tangga

Judul : Agensi Rumah Tangga
Penulis : Almira Bastari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cover : Withly
Editor : Novera Kresnawati
ISBN : 9786020678085
ISBN Digital : 9786020678092
Tebal : 272 hlm
Cetak Pertama : 2024
Harga : Rp. 89.000

Sebenarnya beli buku Agensi Rumah Tangga dari akhir 2024, terus bacanya di awal tahu 2025. Hanya saja baru mengulasnya sekarang, tapi menurut saya buku ini masih seru untuk dibaca sekarang.

Blurb Agensi Rumah Tangga

PHK! Tiga hurup yang mengguncang dunia Katia yang selama ini bangga banget kerja di starup. Berbulan-bulan menganggur, terjepit cicilan KPR, ditambah ocehan ibunya yang pensiunan PNS, Katia nekat membuat rumahnya menjadi Yayasan penyalur pembantu.

“Agensi Rumah Tangga, solusi untuk rumah tangga Anda. Ada yang bisa saya bantu?” adalah tagline Katia. Mengadu keberuntungan dengan cara memilih siapa yang paling cocok untuk tiap calon majikan, membuat hidup Katia yang pengangguran makin penuh drama, mulai dari pembantu genit, suka pinjam duit, sampai yang suka berkelit!

Apakah Katia akan selalu berhasil menempatkan tiap ART ke majikan yang tepat, agar bisa dapat uang cepat, demi menyelamatkan rumah yang cicilannya nyaris telat?

Review Buku Agensi Rumah Tangga

Pandemi sudah lewat, tapi badai dingin starup belum selesai. Itulah yang dialami Katia, ia terhenyak melihat email Pemutusan Hubungan Kerja yang diterimanya.

Bukan hanya Katia, bosnya yang bernama Banu pun masuk daftar angkatan awal yang kena PHK.

“Gila nih, masa marketing kena melulu? Kan kita yang cari duit!” Sashi, teman satu tim Katia, bercak pinggang.

“Tapi tiga bulan terakhir target kita dinaikin terus, sampai ke level yang menurut gue nggak masuk akal,” Katia berkomentar.

Bekerja di starup yang mengkampanyekan berbelanja sayur-mayur lewat platform perusahaan mereka, Toko Tani bukanlah hal yang mudah. Apalagi masyarakat kita yang sensitif masalah harga, sedangkan di sisi lain Toko Tani mulai kehilangan subsidi dari para investornya.

Delapan bulan setelah di-PHK, Katia mulai stress. Tabungan mulai menipis, sedangkan ia tetap harus bayar KPR. Sudah mencoba melamar ke banyak Perusahaan tapi tak kunjung ada panggilan.

Padahal beberapa tahun lalu Katia bangga menolak nasihat sang Ibu untuk menjadi PNS. Namun sekarang, dia malah jadi pengangguran.

“Kalau bikin usaha gampang, niscaya semua orang jadi pengusaha.” – Manusia Mental Pekerja, hal 12

Delapan bulan jadi pengangguran Katia mulai pusing, KPR tetap harus dibayar, tabungan yang tersisa mulai menipis. Dan ibunya akan pensiun di bulan ini. Bahkan ia sampai memasang iklan untuk menjual rumahnya, tapi tak semudah itu. Jangankan ada yang minat, yang menanyakan harga saja tidak ada.

Kepulangan ART Katia ke kampung menjadi titik balik. Ketika dia mengantar sang ART ke terminal, tanpa sengaja Katia bertemu seorang perempuan yang bercerita kalau dia ditipu oleh agen penyalur ART dan hendak pulang kampung.

“Buka usaha dengan modal sekecil-kecilnya dan mengharapkan untung sebanyak-banyaknya, itu seperti berharap bisa memikat konglomerat.” – Pengusaha Modal Dengkul, hal 25

Cerita perempuan itu memberi ide untuk Katia, dia akan memanfaatkan rumah KPR-nya untuk membuat Agensi Rumah Tangga. Dengan sisa uang yang ada dia membuat CV, mengubah rumahnya menjadi yayasan penyalur pembantu, serta menyiapkan kamar yang layak dan peralatan untuk pelatihan. Dengan memanfaatkan sosial media Katia memberikan pelatihan kepada calon ART dan mempromosikan usahanya.

Dibantu oleh temannya, Sashi. Katia berhasil memasukan mantan ART-nya ke rumah Kafka. Seorang artis misterius sekaligus temannya Sashi. Ini menjadi awal dari kisah Buku Agensi Rumah Tangga dengan segala dramanya.

“Dalam keharmonisan rumah tangga, selain uang dan kesetian, juga diperlukan ART yang mumpuni.” – Pasangan Kerja Rodi, hal 51

Bagaimana usaha Katia dengan Agensi Rumah Tangganya? Apakah berhasil atau kebalikannya? Kamu harus baca sendiri sih.

Opini Pribadi Tentang Buku Agensi Rumah Tangga

“Untuk mamaku yang selalu mengusahakan yang terbaik dan menjadikanku seperti hari ini, semoga suatu hari aku bisa seperti mama.”

Di awal membuka buku ini, langsung dibuat terharu dengan kalimat di atas. Setiap anak pasti ingin mengusahakan yang terbaik agar orang tuanya bangga. Namun apa hubungannya dengan buku Agensi Rumah Tangga ini? Kamu akan paham ketika sudah membacanya.

Buku ini bukan hanya bercerita tentang Katia yang di-PHK dan gambaran sulitnya mencari kerja saja. Pembaca juga diajak mengenal sedikit cara kerja starup, jadi sedikit tahu kenapa banyak starup yang tak bertahan lama. Ya karena cara kerjanya, bakar uang di awal dengan promosi yang ugal-ugalan dan diskon yang menggoda. Kemudian lama-lama diskon akan berkurang dan hilang, platform pun akan ditinggalkan oleh penggunanya karena sudah tak menarik lagi.

“Menyalurkan pembantu ke calon majikan seperti berjudi. Meski sudah melewati banyak mitigasi dan kalkulasi, bisa saja terjadi ketidakcocokan dan penyalur bisa rugi.” – Pengusaha yang Berharap Untung, hal 57

Ide Katia membuat Agensi Rumah Tangga, mengedukasi calon pembantu dan mencarikan calon majikan yang sesuai bukanlah hal yang mudah. Pembaca diajak mengetahui banyak hal drama ART dan majikan yang sering terjadi.

“Yang abadi itu masalah. Sudah selesai, ada lagi yang baru.” – Penyalur ART yang Pusing, hal 142

Membangun sebuah bisnis bukanlah hal yang mudah, di buku Agensi Rumah Tangga ini kamu akan melihat perjuangan Katia.

“Kasta terendah dari penghuni rumah adalah lajang dan pengangguran.” – Pengangguran Senior, hal. 17

Bukan hanya itu, konflik Katia dan ibunya membuat cerita di buku ini sangat relate dengan kebanyakan anak perempuan alami. Disuruh jadi PNS, disindir ketika penggaguran, disinggung soal jodoh. Kombo yang lengkap, luka batin yang secara tidak sengaja digores oleh orang yang paling disayang.

“Gimana sudah dapat kerjaan baru?”

“Kalau ada yang nawarin tapi gajinya lebih rendah, terima aja, Kat. Kalau menurut Ibu, gaji kamu di starup kemarin ketinggian.”

“Biarpun kamu masih nganggur, mesti dibiasakan bangun pagi. Ibu lihat kamu mulai bangun siang terus. Nggak baik itu, nanti kebiasaan.”

“Jangan lupa juga, kamu itu sudah 31 tahun. Coba dong, Kat cari jodoh. Kerjaan nggak ada, pacar juga nggak ada. Minimal salah satu ada.”

“Lebih baik jadi PNS, Kat. Capek-capek dulu kamu bersikeras nolak nasihat Ibu, sekarang jadi penyalur pembantu.”

Mungkin untuk orang tua pertanyaan-pertanyaan di atas sangatlah biasa, tapi tanpa sadar pertanyaan tersebut melukai hati sang anak. Itulah yang dirasakan Katia, dia sangat pusing dengan pertanyaan-pertanyaan Ibunya yang tajam, tapi dilawan pun ya namanya orang tua kan. Jadi serba salah.

Pada dasarnya anak dan orang tua selalu saling sayang dan ingin melakukan yang terbaik, hanya saja cara komunikasinya yang tanpa sadar saling menyakiti. Dari kisah Katia dan Ibunya bisa dijadikan pelajaran, karena kita bisa melihat dari dua sisi, sudut pandang Katia dan Ibunya.

“Tidak semua pekerjaan kantoran mendapatkan perjalanan dinas keluar kota, apalagi keluar negeri. Tidak semua pekerjaan gajinya besar, banyak juga yang menua dengan gaji segitu-segitu saja. Hidup ini tidak seindah vlog para artis.” – hal. 156

Terakhir, saya suka dengan kalimat di atas. Hidup memang tak seindah vlog atau sosial media orang lain, apalagi para artis. Jadi stop membandingkan dirimu, fokus saja dengan apa yang kamu bisa dan miliki.

Jadi kesimpulannya, kalau kamu lagi butuh bacaan yang ringan, buku Agensi Rumah Tangga ini bisa jadi salah satu buku yang kamu baca. Apalagi jika kamu lagi meresa putus asa, percayalah semua akan ada jalan keluarnya selama kamu mau berusaha. Semangat!!!


Baca juga review lainnya:

  1. Buku Terusir Karya Hamka
  2. Buku Keliling Gegunungan Luar Dalam
  3. Buku Helen dan Sukanta Karya Pidi Baiq
  4. Buku 9 Summers 10 Autumns Karya Iwan Setyawan
  5. Buku The Privileged Ones Karya Mutiarini
  6. Buku Rembulan Tenggelam Di Wajahmu Karya Tere Liye
  7. Buku Tarian Bumi Karya Oka Rusmini
  8. Buku Corat-coret di Toilet Karya Eka Kurniawan
  9. Buku Merantau ke Deli Karya Hamka
  10. Buku Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

14 pemikiran pada “Review Buku Agensi Rumah Tangga Karya Almira Bastari”

  1. Ulasan yang sangat menarik, suka dengan potongan-potongan quotes nya, Pengangguran, umur semakin menua & minim pencapain, sepertinya buku ini wajib masuk dalam bucket list saya

    Balas
  2. Kisah katia relatable banget di kehidupannya apalagi anak perempuan yang cukup umur untuk menikah. Banyak ibu yang gak sadar melukai anak gadisnya karena mungkin terlampau khawatir. Mungkin di buku ini juga secara gak langsung bisa jadi problem solver hubungan Ibu-anak.

    Balas
  3. Apa akhirnya bisnisnya bisa berjalan lancar kak dengan semua dramanya yang ada? Hubungan antara orang tua dan anak memang selalu paling menyentuh kalau dibahas kak

    Balas
  4. Kirain Antin mau spill harga jasa ART, yang belum pengalaman sekian per bulan, yang sdh pengalaman lebih dr 10 tahun sekian…
    Penasaran dgn yg sy lihat rata2 ART dibayar di bawah UMR, terus, apa gak menyalahi hukum? Kalau ketinggian jg, rumah tangga gak mampu bayar.. hehe

    Balas
  5. okeh, bisa masuk list buku inceran nih. Kayaknya banyak yang relate sama kehidupan nyata laki-laki gak cuman perempuan. Apalagi quote yg ini “Kasta terendah dari penghuni rumah adalah lajang dan pengangguran.” nyelekit karena pernah ngerasain njirrrr.

    Balas
  6. Baca sekilas tentang buku ini sangat menarik karena mengambil latar yang mirip dengan kondisi sekarang. Startup yang merugi, phk, pengangguran lama, tekanan orang tua, tabungan abis, dan kemudian memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk mendapatkan penghasilan.

    Kemungkinan banyak yang relate dengan kondisi seperti ini 🙂

    Balas
  7. Aku juga beli buku ini tapii plastiknya bahkan belum dibuka hahaha penulis ini yg nulis Ganjil Genap juga bukan yaa? Soalnya aku juga suka gaya penulisan di novel Ganjil Genap.
    Kayanya akan banyak relate-nya setelah baca deeh. Thank you kak reviewnya

    Balas
  8. Buku karya Almira Bastari terdengar menarik karena relate dengan Kehidupan nyata menurutku. Mengangkat hal sederhana di kehidupan nyata untuk dijadikan cerita sepertinya rekomendasi juga ya.

    Balas
  9. Almira Bestari selalu mengangkat cerita yang sangat dekat dengan anak muda kelas menengah. Di sini kita bisa melihat peran ibu Katia yang niatnya mungkin memberi saran untuk kebaikan, tapi jatuhnya kok malah memperkeruh kondisi yang dihadapi Katia.

    Balas
  10. Menurut saya, review ini berhasil menunjukkan bahwa novel ini bukan sekadar cerita ringan, tetapi juga menyentuh isu realistis tentang pekerjaan, tekanan sosial, dan relasi keluarga. Setelah membaca ulasannya, saya jadi semakin tertarik untuk melihat bagaimana karakter-karakternya berkembang sepanjang cerita.
    Terima kasih sudah membuat review yang informatif sekaligus mengundang rasa penasaran. Sangat membantu pembaca yang sedang mempertimbangkan untuk membaca buku ini 👍

    Balas

Tinggalkan komentar