review buku merantau ke deli
BOOKS

Review Buku Merantau ke Deli Karya Hamka

Posted on

Mengawali tahun 2021 dengan membaca kembali salah satu karya Hamka. Buku Merantau ke Deli menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2021. Buku yang pas dibaca di awal tahun untuk mengisi semangat yang mulai porak-poranda di tahun sebelumnya.

Cerita yang mengandung semangat berjuang yang diselipi drama kehidupan, kejamnya adat, serta dibumbui cinta. Perpaduan yang pas.

Buat saya karya Hamka selalu sarat makna, mengaduk-aduk emosi dan konflik batin. Tak lupa Hamka selalu menambahkan unsur cinta dan suku budaya di dalamnya, serta nilai-nilai ruhani keislaman yang selalu ada dalam karya-karyanya.

Melihat perpaduannya saja sudah menarik ya, lalu bagaimana dengan ceritanya? Baca sampai selesai ya.

Informasi Buku Merantau ke Deli

Merantau ke Deli adalah salah satu karya Hamka yang ditulis sebelum Perang Dunia Kedua. Saat itu tulisannya dimuat rutin di Majalah Pedoman Masyaraka pada pertengahan tahun 1939 sampai awal tahun 1940. Kemudian pada tahun 1941 untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bentuk buku oleh Penerbit Cerdas Medan.

Buku ini kental sekali dengan nuansa Melayu. Selain itu, dalam buku ini juga digambarkan tentang dua adat istiadat dan budaya yang berbeda di Nusantara, yaitu Minang dan Jawa.

Untuk kamu yang tertarik membaca buku Merantau ke Deli setelah membaca review ini, nih saya kasih tahu informasi tentang buku ini terlebih dahulu.

Judul buku : Merantau ke Deli
Penulis : Hamka
Penyunting : Dharmadi
Penerbit : Gema Insani
ISBN : 978-602-250-388-0
Harga : Rp. 45.000

Harga di atas adalah harga sekitar Maret 2019 di salah satu toko buku online di e-commerce hijau. Beberapa hari lalu saya cek harganya masih sama, stoknya pun tersedia. Jadi tunggu apa lagi, yub beli!

Review Buku Merantau ke Deli

Buku Merantau ke Deli berkisah tentang Poniem, seorang perempuan Jawa, yang ketika di perantauan harus rela hidup sebagai istri simpanan dari seorang tuan tanah di sebuah perkebunan di Deli.

Kemudian suatu hari Poniem bertemu dengan Leman. Seorang pemuda dari Minangkabau, yang penuh keyakinan dan optimis di tanah perantauan, loyal, setia, dan percaya kepada sanak familinya.

Benih cinta tumbuh di antara mereka, kemudian Leman mengajak Poniem menikah dan pergi dari kehidupan perkebunan. Memulai hidup baru dan hidup berumah tangga dengan perbedaan adat. Leman pun berjanji tak akan meninggalkan Poniem.

Awalnya Poniem ragu dan meminta waktu untuk memikirkannya. Dia takut bernasib sama dengan teman-temannya yang dinikahi hanya untuk diporoti, kemudian ditinggalkan. Akan tetapi pada akhirnya Poniem menerima pinangan Leman.

Mereka pun pergi dari kehidupan perkebunan dan merantau ke Deli, memulai kehidupan dan usahanya dari nol. Poniem yang membawa perhiasan pemberian tuan tanah merelakan perhiasan itu dijual untuk Leman memulai usaha. Kehidupan mereka pun perlahan membaik.

Ketika kehidupan mereka mulai mapan, Leman mengajak Poniem pulang kampung bertemu keluarganya. Karena perangai Poniem sangat baik, dia pun disambut hangat oleh keluarga Leman. Semua terlihat baik-baik saja, Poniem sangat senang, dia merasa memiliki keluarga.

Namun siapa sangka sejak kembalinya dari kampung, kehidupan rumah tangga mereka malah mengalami guncangan hebat. Sambutan hangat keluarga Leman pada Poniem ternyata hanya sambutan belaka. Poniem yang seorang perempuan Jawa dan tak memiliki anak tetap tak bisa diterima seutuhnya oleh keluarga Leman.

Mereka memaksa Leman agar beristrikan perempuan Minangkabau dan memiliki keturunan. Padahal sebelum menikahi Poniem, Leman sudah berjanji tak akan meninggalkan Poniem. Terlebih lagi banyak sekali utang budi kepadanya. Namun yang namanya lelaki, merasa sudah mapan dan ada yang tertarik padanya tentu saja tak akan ditolak. Apalagi perempuan tersebut lebih cantik dan lebih muda dari istrinya.

“Dalam pernikahan tidaklah boleh meminta pertimbangan orang lain. Kalau tidak setuju dengan suara hati kecil kita, tentu tidak juga akan kita turutkan. Hanya suara hati kita yang akan kita turuti.” – hal. 71

Poniem yang baik hati mengizinkan suaminya untuk menikah lagi. Menikahlah Leman dengan Mariatun, gadis asli Minangkabau yang dikenalkan oleh keluarganya.

Konflik dalam buku ini pun dimulai sejak Leman memiliki dua istri. Poniem yang penyabar dan sering kali mengalah, lama-lama habis kesabarannya. Yang awalnya mereka tinggal terpisah, kemudian jadi tinggal serumah karena perlahan usahanya Leman mengalami penurunan.

Sifat Poniem dan Mariatun yang berbeda pun mendatangkan konflik yang terus-menerus, Leman pun dibuat pusing oleh mereka. Akankah Poniem bertahan dengan Leman? Lalu siapa yang Leman bela di antara Poniem dan Mariatun? Kamu harus baca buku ini untuk tahu kelanjutan ceritanya ya.

Oh ya, tokoh dalam buku ini selain ada Leman, Poniem, dan Mariatun, ada juga Suyono. Laki-laki Jawa yang memainkan peran penting dalam kehiduan Leman dan Poniem.

“Dalam kukusutan rumah tangga yang paling buruk ialah apabila dimasukkan tangan orang lain ke dalamnya, orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas bahagia diri kita sendiri. Dan cara yang begini masih menjadi kebiasaan yang ringan dalam kalangan bangsa kita.” – hal. 123

Opini Pribadi Tentang Buku Merantau ke Deli

Buku Merantau ke Deli menceritakan drama kehidupan dengan latar waktu sekitar tahun 1940-an. Walau begitu ceritanya masih mudah dipahami, karena menceritakan kehidupan sehari-hari.

Apalagi sumber buku ini benar-benar diambil dari kisah nyata. Kejadian yang terjadi di masyarakat, yang terlihat dan disaksikan oleh Hamka saat menjadi guru agama di Pasar Bajalinggai dekat Tebing Tinggi, Deli sekitar tahun 1928. Jadi pembaca sedikit tahu bagaimana kehidupan pada masa itu.

Walaupun dalam buku Merantau ke Deli ada beberapa bahasa melayu yang saya tak paham, tapi saya menikmati membacanya. Hamka selalu sukses menyihir saya larut dalam cerita.

Rasa sakit yang Poniem rasakan sampai ke hati pembaca. Begitu juga perjuangannya yang luar biasa untuk bertahan menjalani kehidupan yang seolah tak berpihak padanya.

“Di dalam hidup ini, orang bukan merancangkan hidupnya sendiri, tetapi menjalani rancangan yang telah lebih dahulu di dalam ajal.” – hal. 152

Dulu saya pernah mendengar dari Mamah kalau adat di Minangkabau itu lebih berharga perempuan daripada laki-laki. Begitu juga yang diceritakan dalam buku ini.

Adat di Minangkabau, ketika laki-laki sudah menikah dan mempunyai harta benda dari hasil kerja kerasnya. Harta tersebut akan jadi hak milik isti dan anaknya. Jadi pihak laki-laki tidak memiliki apa-apa. Jujur miris membacanya, pihak laki-laki yang bekerja keras tapi dia yang tak punya apa-apa.

Saya juga baru tahu kenapa laki-laki Minangkabau harus menikah dengan perempuan satu kampung. Hal itu karena ketika mereka pulang kampung dari perantauan si perempuan nggak boleh menginap di rumah keluarga laki-laki, dia harus pulang ke rumah keluarganya. Itulah salah satu alasan kenapa Leman dipaksa menikah dengan perempuan sekampung.

Saya tak tahu adat ini masih ada sampai sekarang atau tidak. Namun salah satu yang membuat saya tertarik membaca buku ini adanya unsur adat yang dibahas. Saya jadi sedikit tahu tentang  adat Minangkabau.

Jika kamu baru pertama kali membaca buku Hamka dan buku ini bukan termasuk genre yang kamu sukai, mungkin kamu akan merasa bosan di awal, tapi bertahanlah. Karena di pertengahan cerita sampai akhir kamu akan menikmatinya, akan banyak hal baik yang bisa kamu petik dari buku ini.

Buat kamu yang membaca tulisan ini dan kamu orang Minangkabau, boleh lho berbagi sedikit cerita tentang adat kamu. Jujur aku tertarik dan sedikit penasaran apakah saat ini adat tersebut masih dilestarikan atau tidak.

Yuk berbagi cerita 🙂

 

Review buku lainnya:

  1. 4 Rekomendasi Buku Titi Sanaria Untuk Bacaan di Akhir Pekan
  2. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
  3. Confessions Karya Minato Kanae
  4. The Boy I Knew From YouTube Karya Suarcani
  5. Rempah Rindu Karya Gina Maftuhah Dkk
  6. Di Dalam Lembah Kehidupan Karya Buya Hamka
  7. The Architecture Of Love Karya Ika Natassa

35 thoughts on “Review Buku Merantau ke Deli Karya Hamka

  1. Merry olivia

    28 Februari 2021 at 10:21 PM

    Aku pernah baca buku Hamka tapi yang versi non fiksinya. Buatku Hamka itu keren banget sih. Mungkin aku nanti bakal baca buku ini. Thanks rekomendasinya tin 🙂

    1. Antin Aprianti

      1 Maret 2021 at 10:48 AM

      Aku pertama suka Hamka juga nggak sengaja kak, dan memang Hamka itu keren banget. Udah nggak diragukan lagi lah karya-karyanya. Kak Mer harus baca buku ini dan buku-buku lainnya 🙂

    2. Ning!

      2 Maret 2021 at 2:38 PM

      Kirain Deli tuh daerah di India sana, ternyata masih di Indonesia yah. Haha

      Pengorbanan Poniem udah abis²an ke Leman, eh, dia enak banget bisa kawin lagi pas udah sukses. Hem. Belum baca bukunya aja udah gregetan! Sekaligus penasaran sama Poniem akhirnya gimana. Pengen baca deh, Tin.

      1. Antin Aprianti

        2 Maret 2021 at 5:54 PM

        Baca deh Kak, seru dan bagus. Poniem ini idola banget deh, keren dia

  2. Febi

    28 Februari 2021 at 10:33 PM

    Kualitas karya seorang Hamka pasti ngga diraguin lagi, meskipun belom pernah baca novel yang ini tapi dulu gw pernah baca karya Hamka lainnya yang berjudul Tenggelamnya kapal van der Wijck..
    Novel ini begitu sukses mengaduk-aduk emosi gw yang waktu itu masih SMP , sampe akhirnya gw jadi lebih tertarik sama chicklit dibanding teenlit..hehe..

    Gw belom pernah baca semua novel Hamka, tapi lihat resensi ini, terbersit di benak gw kenapa Hamka di novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck & Merantau ke Deli mengambil latar belakang benturan budaya adat..
    Apa mungkin karena situasi sosial di saat itu yang mana banyak suku-suku di Indonesia yang udah mulai saling bergaul/membuka diri campur karena mulai melek dengan konsep satu bangsa Indonesia, tapi di satu sisi di masa transisi itu muncul culture shock sebagai bagian dari proses adaptasi ya?..
    Mnurut lo gmn, tin 🙂

    Btw, nice post!

    1. Antin Aprianti

      1 Maret 2021 at 3:21 PM

      Aku malah belum baca yang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijct, tapi pernah nonton filmnya.
      Menurut aku Hamka tuh kaya menuangkan keresahannya sekaligus mengkritik sosial tapi lewat buku. Kalau dibilang culture shock kayanya harus baca referensi lain, secara itu masih sekitar tahun 1940-an

  3. Tuty Prihartiny

    28 Februari 2021 at 10:35 PM

    Dear Kak Antin, kebetulan saya ada berdarah campuran Minang. Walaupun secara garis adat, saya sulit dikatakan sebagai orang Minang. Namun itulah yang membuat saya salut, para tetua adat tetap menghormati kami sejajar dengan orang Minang ‘tulen’. Padahal adat di nagari padang Pariaman termasuk yang paling ketat di bandingkan nagari lainnya. Sehingga apa yang dialami para tokoh ‘Merantau ke Deli’ dapat saya pahami dalam koridor culture.

  4. Rivai Hidayat

    28 Februari 2021 at 11:25 PM

    Buku ini cocok bagi mereka yang suka dengan buku berlatar budaya dan adat istiadat. Kalau ngobrol tentang adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat memang tidak ada habisnya. Apalagi suku minangkabau yang terkenal kaya akan adat istiadat.

    Seiring berjalannya waktu, adat istiadat yang kurang sesuai dengan perkembangan zaman mulai ditinggalkan. Tidak hanya di suku minangkabau, di suku lainnya juga begitu. Seperti suku jawa.

    Review yang sangat menarik mbak antin 🙂

    1. Antin Aprianti

      1 Maret 2021 at 3:07 PM

      Betul Mas, sekarang beberapa adat istiadat ada yang mulai tergerus zaman. Makanya penasaran adat Minangkabau yang diceritakan dalam buku ini apa masih berlaku sampai saat ini atau tidak, secara latar waktunya udah lama banget kan

  5. Iqbal

    1 Maret 2021 at 6:12 PM

    Sedih deh melihat nasib Poniem di awal dan tengah cerita, tapi Hamka membaliknya dengan happy ending di akhirnya yah. Leman itu tipikal pemuda Minang yang merantau, tokoh utama tapi kurang spesial. Yang spesial justru adalah tokoh Poniem: pekerja keras, sabar, kuat.

  6. Mariaa

    1 Maret 2021 at 8:01 PM

    Belum pernah baca karya Hamka dan setelah baca ini jadi tertarik sama ceritanya.
    Kalau dari ringkasannya, sebagian alur cerita ini banyak diadaptasi sama sinetron dan film di masa sekarang ya?

    1. Antin Aprianti

      2 Maret 2021 at 5:53 PM

      Baca deh Kak, bukunya Hamka tuh tipis² tapi sarat makna.

      Aku kurang mantau sinetron dan film sih Kak jadi kurang tahu, tapi kayanya beberapa ada sih yang adaptasi dari adat istiadat gitu

  7. Anni NS

    1 Maret 2021 at 10:32 PM

    Rasanya aku malah suka dan terpesona sama gaya cerita dan menulisnya Antin. Seru dan menarik untuk aku, juga tidak membosankan.
    Dan yang terpenting, selalu mampu membuat aku jadi penasaran, ingin tahu, mencari, membaca hingga memiliki bukunya.
    Karya Hamka memang sudah tidak diragukan lagi, kemampuan bersastranya sudah pun terbukti. Sudah banyak diakui pula karya-karya ciptaannya.
    Namun, sepertinya pula..aku masih perlu menimbang kembali untuk membacanya dalam waktu dekat meskipun tertarik, terkait dengan tema yang diusung. Yang entah mengapa rasanya cukup berat untuk aku saat ini. Tentang dilema pernikahan, dilema berumahtangga, yang pada kenyataannya memang tidak lah mudah sama sekali.
    But, anyways..Once again.. Thanks for sharing… Nice sharing!

  8. Retno Nur Fitri

    2 Maret 2021 at 12:44 PM

    Adat istiadat padang ternyata masih sangat melekat, banyak unsur budaya dan perbedaan antara Poenim dan Leman ya kak. Spoiler kak apakah pernikahan mereka dapat bertahan lama?

    1. Antin Aprianti

      2 Maret 2021 at 5:53 PM

      Eiittsss jangan spoiler dong, yuk baca aja yuk

  9. elsalova

    2 Maret 2021 at 10:37 PM

    Review buku merantau ke deli karya hamka bikin aku jadiin buku ini wishlist bacaan ini. Kok quotenya ngena banget dari kamu

  10. Lisa Fransisca

    3 Maret 2021 at 11:33 AM

    Aku punya satu novelnya Hamka tapi masih belum kelar baca, eh tiba-tiba Antin bahas bukunya yang lain. Beliau menceritakan sesuatu dengan unik dan kental budayanya yah. Sepertinya bisa nih jadi wishlist bacaan berikutnya.

  11. Lenifey

    3 Maret 2021 at 3:40 PM

    Yaampun jadi penasaran sama buku ini. Ow perempuan minangkabau kalau pulang kampung harus tinggal sama keluarganya. Wah banyak informasi budaya ya.
    Tapi emang buku2nya Hamka nih bagus2 angkat isu sosial nya.

  12. Putri Reno

    3 Maret 2021 at 9:20 PM

    Aku belum pernah baca novel karyanya Hamka. Cuma nonton film dari salah satu novel karyanya Hamka Pernah. kisah cintanya hayati dan zainudin. Judulnya tenggelamnya Kapal Vanderwijc (bener ga tuh ejaannya, males googling).

    Satu satunya buku Hamka yg gw baca adalah AYAH walaupun bukan tulisan beliau langsung sih karena yang nulis anaknya Hamka yang bercerita tentang dirinya.

    Awalnya yang gw tau Hamka itu seorang buya (Kyai) yang berhasil membuat tafsir Alquran dan salah satu pendiri Masjid Al Azhar.

    Tertarik sih ingin baca karya karyanya semoga tidak hanya sekedar keinginan ehehe.

    Makasih Antin sudah memperkenalkan karya Hamka yang lain.

    Btw, kalau yang aku tau anak perempuan minang harus dibuatkan Rumah ( atau diwariskan Rumah gadang turun temurun) Dan rumah keponakan perempuan akan selalu terbuka untuk paman pamannya jika terusir dari Keluarganya karena satu dan lain hal. Keponakan sejajar derajatnya dengan anak bagi Paman.

    Hmm apa lagi ya. makhlum gw sedikit murtat menjabat sebagai orang minang. mungkin klo ada waktu kita bisa berdiskusi.

    1. Deny Oey

      4 Maret 2021 at 10:57 PM

      Resensi yang menarik, terutama pembahasan tentang poligami serta tuntutan keluarga dan adat dalam sebuah pernikahan. Sungguh ribet ya nikah di Indonesia.

    2. Antin Aprianti

      6 Maret 2021 at 12:32 PM

      Sama-sama, Kak Reno. Semoga setelah ini jadi baca karyanya Hamka ya Kak ☺️
      Wah asik tuh Kak, kapan-kapan kita diskusi bareng ya

  13. RULY

    5 Maret 2021 at 4:19 PM

    Belum Baca Bukunya, namun melihat ulasannya menarik sekali, lagi lagi perbedaan budaya selalu awal konflik dalam pernikahan di Negeri ini.

  14. Clara Kinasih

    6 Maret 2021 at 9:22 AM

    Jadi penasaran baca bukunya.
    Mau tau akhirnya, apa yg di lakukan Poniem Si Wanita jawa yang sabar yg kemudian merasa kesabarannya sudah tak terbendung lagi.

  15. Mrs.kingdom17

    6 Maret 2021 at 11:24 AM

    Selalu suka gaya antin nulis….urut sistematis dan enak dibaca, komplit dan informatif. Aku pribadi belum pernah baca novel karya Hamka….cuma pernah denger dia salah satu penulis yang karyanya sangat dihormati di kalangan pencinta sastra…nice resensi ntin…

  16. EkaRahmawatizone

    6 Maret 2021 at 2:56 PM

    Baru semalam lagi buka2 lemari buku dan ngecek buku apa yg belum dibaca. Pas diperhatikan, ternyata saya udah lama banget ngga baca dan beli novel. Kebanyakan buku yg saya punya saat ini adalah non fiksi.

    Jadi mau beli deh novel merantau ke Deli. Apalagi ini karya Hamka. Pasti deh banyak kosakata baru yg diperoleh dan insight2 lainnya

  17. Taumy Alif

    6 Maret 2021 at 6:00 PM

    Entah mengapa selalu terbius kalau membaca karya Hamka, selalu suka dengan teknik penulisannya dan pastinya sarat dengan makna kehidupan. Terus beberapa karya beliau memang sering membahas masalah pernikahan yang begitu rumit dengan berbagai dilema yang terjadi. Rindu dengan karya Hamka lainnya.

  18. Dian Restu Agustina

    6 Maret 2021 at 6:26 PM

    SAya punya beberapa sahabat orang Minang, sepertinya sudah lebih longgar adatnya. Dan itu ada maksudnya tentang hukum waris, jadi ada maksudnya, cuma yang ditangkap oleh orang luar seperti itu – berkesan buruk (CMIIW)
    Lalu perihal kisah nyata Poniem saat di Deli, kakeknya suamiku zaman segitu juga merantau ke sana. Nenek ditinggal di Madiun…eh pulang-pulang bawa istri baru dari sana. Akhirnya berpisah dari istri pertama…eh malah curhat kwkw
    Saya belum baca buku Hamka yang ini, dari review Kak Antin penasaran jadinya

  19. Mamak Rempong

    6 Maret 2021 at 9:07 PM

    sepertinya harus mulai hunting karya karya Hamka nih, ulasannya selalu menarik beb, bikin penasaran.

    gue pikir karya karya hamka akan berat, makanya mikir lagi mau nyari karya karyanya . tapi kalo tipis dan sarat makna sih mau lah hahahahhaa

    sepertinya karya karya Hamka, cocok untuk mulai membiasakan membaca lagi, makasih insightnya beb

  20. Lovelypink

    6 Maret 2021 at 9:42 PM

    Konfliknya kayanya uda biasa yah. Tapi saya kalo bayangin ini cerita difilmin, pasti bakalan keren banget sih. Udah kepikiran gimana landscapenya Sumatra Barata bakalan diexplore. Blom lagi konflik-konflik emosinya, wah pasti kece banget sih kak. And, saya jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya deh. hehehehe

  21. Titi

    6 Maret 2021 at 9:53 PM

    Hamka selalu berhasil membawa pembacanya ke situasi pda masanya ya. Deskripsi nya bagus bgt. Wah antin udh buku ke berapa nya hamka ni?

  22. inez

    6 Maret 2021 at 10:02 PM

    menarik sih buku novel yang berlatar belakang tentang adat. Jadi banyak belajar adat di luar

  23. Sri Raditiningsih

    7 Maret 2021 at 6:14 PM

    Setiap ka antin buat review tuh emang khas banget yaaa. Dan setelah baca review-nya aku merasa butuh deh baca buku ginian. Romance tapi tetep ada unsur sejarah atau budaya gituu. Soalnya aku emang anaknya teenlit banget wkwkwk padahal daah gedee gini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hay, nggak boleh ya !!