review-buku-rempah-rindu
BOOKS

Review Buku Rempah Rindu Karya Gina Maftuhah Dkk

Posted on

Ketika melihat cover buku Rempah Rindu, saya nggak bisa nebak sebenarnya buku ini akan mengangkat cerita tentang apa. Saya hanya bisa menebak benang merah cerita berdasarkan judulnya saja, pasti ada unsur rempah di dalamnya.

Cover dengan bentuk wajah seorang perempuan, satu wajah menghadap ke bawah dengan warna lebih terang dan satu wajah lagi menghadap ke atas dengan warna lebih gelap. Saya tak begitu paham dengan makna dari cover ini, hanya saja saya cukup terganggu dengan nama penulis yang ditulis di atas. Mungkin karena penulisnya banyak jadi terlihat kurang cantik.

Saya juga menyanyangkan cover belakangnya, karena warna cover-nya yang sedikit gelap jadi tulisan di cover belakang tidak terbaca jelas. Untuk mata minus kaya saya cukup terganggu. Namun, saya suka dengan huruf pada judul bukunya yang dibuat timbul dengan warna emas yang dominan.

cover-belakang-buku-rempah-rindu
Cover belakang buku Rempah Rindu

Baiklah lupakan penampilan luarnya, ingat kan ada istilah “jangan melihat buku dari covernya”. Jadi, mari kita bedah isi bukunya saja.

Informasi Tentang Buku Rempah Rindu

Sebelum membahas lebih dalam, saya kasih sedikit informasi tentang buku Rempah Rindu ya.

review-buku-rempah-rindu
Cover depan buku Rempah Rindu

Judul buku : Rempah Rindu
Penulis : Gina Maftuhah, MS Wijaya, Marfa Umi, Nenny Makmun, Pratami Diah Herliani, Salamun Ali Mafaz, Veronica Gabriella
Desain sampul : MS Wijaya
Penata Letak : Tim Azkiya
Penerbit : Azkiya Publishing
Cetakan pertama : Agustus 2019
ISBN : 978-623-7021-83-4

Jika setelah membaca review buku Rempah Rindu ini kalian tertarik dengan bukunya, kalian bisa memesannya ke Mbak Nenny Makmun melalui email ke nennyrch02@yahoo.com atau ke nomor 0816641454.

Review Buku Rempah Rindu

Rempah Rindu, buku yang berisi tujuh cerita pendek dari tujuh penulis berbeda. Seperti judulnya, Rempah Rindu banyak bercerita tentang kerinduan yang dibumbui dengan rempah. Mulai dari jahe, vanili, andaliman, lada, dan cengkeh.

Biar kalian makin penasaran, saya akan ceritakan sedikit isi dari ketujuh cerita yang ada di buku Rempah Rindu ini.

1. Rempah Rindu Karya MS Wijaya

Rempah Rindu menjadi awal cerita dalam buku ini. Seperti judulnya rempah, di awal cerita pembaca akan langsung menemukan rempah dalam nasi goreng jahe yang dimasak oleh Gondo (seorang chef) pada acara Reality Show. Kala itu ceritanya tahun 2014 di Wandsworth.

“Sudah sifat manusia bukan. Yang selalu ingin tahu kehidupan orang lain. Entah untuk bersyukur bahwa kita punya kehidupan lebih baik dari orang lain, atau malah mengolok kehidupan orang lain yang kehidupannya lebih buruk daripada kita.” – Hal. 10

Kemudian ceritanya ditarik mundur ke tahun 1994 di Pancer. Awalnya saya bingung dengan perpindahan latar tempat dan waktu yang terlalu jauh. Sempat istirahat beberapa saat, kemudian melanjutkan membacanya kembali.

Jadi, pada bab pertama ini bercerita tentang Paul dan Gondo sebagai tokoh utama dalam cerita ini, yang sama-sama memiliki kerinduan kepada orang terkasih.

Paul pergi ke Pancer pada tahun 1994 untuk melupakan istrinya yang telah meninggal, lalu bertemu Aryo kecil alias Gondo. Mereka pun akhirnya dekat, bahkan Paul pun dekat dengan keluarga Aryo.

Seolah takdir mengirim Paul untuk menolong Aryo. Tragedi tsunami yang terjadi setelah perayaan ulang tahun Aryo membuat ia kehilangan keluarganya. Paul yang tak tega dengan Aryo kecil, akhirnya mengadopsinya dan membawanya ke tempat asal Paul di Wandsworth. Nama panggilan Aryo kecil pun berubah menjadi Gondo.

“Jahe itu seperti rindu. Dia pedas yang membuat sebagian orang tidak menyukainya, tapi perlahan rasa pedas itu menghangatkan. Sama seperti rindu, berapa banyak orang yang tersiksa karena rindu dan tidak menyukai rasa itu? tapi dengan ada rindu, sebuah hubungan akan lebih berwarna. Ia akan menghangatkan terus cinta yang ada di dalam dada. Tak membiarkan empunya kedinginan lalu mati.” – hal. 44

Lalu ada apa dengan Jahe? Tentu saja ada kisah di balik nasi goreng jahe yang dibuat Gondo. Jadi, saat masih kecil Ibunya Aryo, Sumirah sering kali memasak dengan tambahan rempah jahe. Sehingga jahe menjadi rempah yang tak asing di lidah Aryo, jahe jugalah yang mengingatkannya akan sosok Ibunya.

Saat kejadian tsunami itu, jasad bapak dan kakak Aryo ditemukan. Aryo pun melihatnya sebelum dikebumikan, tapi jasad Ibunya tak ditemukan. Ntah terbawa arus laut, ntah tertimbum reruntuhan. Maka, melalui rempah jahe lah Aryo mengenang sang ibu.

“Ombak adalah sahabatnya, saat ini ombak bagaikan musuh yang siap membunuhnya kapan saja. Ia membenci ombak, ia membenci laut yang sudah merenggut kakaknya, bapaknya, bahkan ibunya tanpa dikembalikan setidaknya agar ia bisa melihat wajah ibunya untuk terakhir kali. Tapi lautan tidak menyisakan sedikt pun kenangan akan ibunya untuk Aryo.” – Hal. 38

2. Kidung Vanili Karya Nenny Makmun

Sudah bisa tebak dong kalau di bab kedua ini yang diceritakan pasti ada unsur vanilinya. Ya betul sekali.

Di bab kedua bercerita tentang Kidung, seorang anak petani vanili di Pati. Ayah Kidung Pak Sugiarto adalah petani vanili, sampai suatu ketika bosnya menjual kebun vanili ke orang baru dan Pak Sugiarto dipecat.

Sejak saat itu, Pak Sugiarto selalu pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Pak Sugiarto banyak berubah, bahkan jika sedang mabuk tak segan memukuli istri dan anaknya.

“Yo wis tho Dung, yang namanya hidup ya seperti ini kadang enak – kadang enggak, yang penting nanti kalau kamu udah dewasa kamu ingat ya nasihat ibumu ini, hidup itu harus mandiri, kudu kerja keras jangan gampang menyerah dalam segala hal, eling sama Gusti Allah biar Gusti Allah juga kasig jalan sing mulyo. Ingat itu Dung.” – Hal. 59

Kidung dan ibunya tak tahu ayahnya itu bekerja apa di kota. Yang mereka tahu, ayahnya telah berubah menjadi pemabuk dan pemarah sejak tidak bekerja di kebun vanili lagi.

“Satu tercinta pergi harapan serasa mati, tapi ternyata tak ada habis yang namanya harapan itu.” – Hal. 65

Pak Sugiarto berubah sejak istrinya meninggal, dan ia kembali bekerja di kebun vanili milik Pak Karmui. Awalnya Kidung membenci ayahnya karena malam sebelum ibunya meninggal, ayahnya memukuli ibunya hingga sakit. Namun, perlahan Kidung pun memaafkan ayahnya.

“Kidung masih ingat janji hatinya untuk membenci bapak-nya, dikuat-kuatan rasa benci itu agar tak luluh dengan penampakan bapaknya yang sekarang tengah menyesal. Selalu penyesalan datang ketika apa yang kita cintai sudah meninggalkan kita selamanya.” – Hal. 67

Kidung ini sangat suka bermain di kebun vanili milik Pak Karmui sambil membantu ayahnya, sampai suatu ketika Kidung melihat anak laki-laki yang ngamuk di rumah Pak Karmui. Kidung pun mengintip karena penasaran.

“Penerimaan yang iklas, kasih sayang yang tulus yang bisa menyempurnakan kebahagiaan yang tak sepenuhnya sempurna.” – Hal. 77

Siapakah sosok anak laki-laki itu dan apa hubungannya dengan Kidung? Ah kalian baca saja ceritanya, nanti saya jadi spoiler kalau kebanyakan cerita 😀

“Lelaki yang sempurna hanya di mata orang-orang tapi belum tentu dia menjadi lelaki yang sempurna buat diri kita.” – Hal. 105

3. Aroma Cinta Andaliman Karya Veronica Gabriella

Lagi-lagi saya menemukan alur maju mundur di bab ketiga. Di awal diceritakan Tiur sang tokoh utama sedang menuntut ilmu di Arizona, ia datang ke New York Public Library bersama temannya Sofi.

Namun, Tiur tak fokus dengan sekitarnya. Pikirannya melayang jauh ke kampung asalnya, Sumatera Utara. Kemudian kisah-kisah masa lampau hadir kembali di lamunan Tiur.

Tentang pertengkarannya sebelum ia memutuskan untuk merantau, tentang kepergiannya yang tak direstui oleh sang Ibu, dan tentang paket yang terakhir diterimanya. Paket yang dikirim oleh sepupunya, Ida. Paket yang membuat ia tak tenang.

Untuk saya bab ketiga ini sungguh menguras air mata, mungkin karena saya dan Tiur memiliki kesamaan, kami sama-sama anak yatim. Jadi, ketika Umak-nya (ibu dalam bahasa batak) mengalami alzhaimer dan tak mengenali lagi Tiur, rasanya sedih sekali. Saya seolah menjadi Tiur, merasakan bagaimana hancurnya setelah berpisah lama, sekalinya bertemu malah tak diingat.

Sambal andaliman yang menjadi kesukaan Umak, menjadi media Tiur untuk mengingatkan Umak bahwa dia adalah Tiur. Anak Umak yang sudah kembali pulang.

Jadi, di bab ketiga ini lebih banyak bercerita tentang perjuangan Tiur meraih mimpinya dan mencoba mengembalikan ingatan Umak tentang dirinya. Berhasilkah Tiur meraih mimpinya dan membuat Umak ingat dengan dirinya?

“Di antara kesadaran umak itulah, Tiur merasakan hangat kebersamaan mereka dulu ditemani aroma andaliman. Di sela keterbatasan ingatan dan memori umak padanya itu, Tiur menemukan bahwa dalam hidup yang singkat, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan kenangan baik sebanyak mungkin. Sebab melalui kenangan-kenangan, Tiur bisa meninggalkan jejak untuk diingat kalau ia pernah ada untuk menghabiskan momen terbaik bersama seseorang paling penting dalam hidupnya: Umak.” Hal. 156

4. Piper Amoris Karya Pratami Diah Herliani

Bab ke empat bercerita tentang Bastian, seorang dokter dari keluarga kaya raya yang ingin mencari jati diri. Ia pergi diam-diam dan merantau ke Lampung.

Di Lampung ia bekerja di rumah sakit kecil, dan menenukan berbagai macam cerita tentang petani lada. Di awal cerita sempat menyinggung tentang Sari, anak petani lada yang mengabdi untuk mengajari anak-anak petani lada.

Awalnya saya mengira akan ada cerita tentang Sari dan Bastian, nyatanya dugaan saya salah besar. Alur ceritanya tak seperti yang saya tebak.

Mau tahu ceritanya? Yuk beli bukunya.

5. Memoar Anise Karya Marfa Umi

Dari semua cerita pendek di buku ini, Memoar Anise yang sangat berbeda. Di setiap awal cerita bukan hanya ada judul, tapi selalu ada keterangan waktunya.

Selain itu, jika di bab lain terdapat beberapa tokoh. Di bab ke lima ini hanya ada tokoh aku yang bercerita. Untuk saya, Memoar Anise ini lebih mirip prosa.

“Ada nama yang sengaja ingin kulupakan di kota ini
Ada kata-kata yang sengaja tak kusampaikan
Ada rasa, yang harus kuat-kuat kupendam.” – Hal. 199

6. Kukejar Cinta Ke Negeri Rempah Karya Salamun Ali Mafaz

Diva Saraswati mahasiswi asal Jakarta yang melakukan penelitian ke Cirebon, kemudian secara tak sengaja bertemu dengan Dhika Mahesa di Warung Mbok Darmi. Tragedi meja dan empal gentong milik Diva yang tak sengaja dimakan Dhika menjadi awal mereka berkenalan.

Sebenarnya cerita di bab ke enam ini hampir mirip sinetron, salah paham terus jadi kenalan, dan berlanjut. Ah kalian pasti bisa tebak akan berlanjut ke mana. Eiitttss, ini tak seperti tebakan kalian. Ceritanya berakhir dengan ngeselin karena membuat pembaca penasaran, ceritanya berakhir menggantung.

7. Tenun Kenangan Dalam Semangkuk Soto Karya Gina Maftuhah

Buku Rempah Rindu ditutup dengan cerita sepasang kekasih yang berpisah karena jarak Jakarta dan Semarang. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, perempuannya mengejar karir di Jakarta dan laki-lakinya bekerja di Semarang.

Intinya di bab terakhir ini laki-lakinya tak ingin pacarnya bekerja di Jakarta, tapi sang pacar keras kepala ingin tetap bekerja di Jakarta. Tentang keegoisan seorang lelaki terhadap pacarnya, dan perempuannya tak terima dengan keegoisan pacarnya itu. Akhirnya mereka pun berpisah.

“Secara langsung ataupun tidak, aku masih bisa mengingatmu di sudut hatiku terdalam sekalu pun.”

Apakah si perempuan itu menyesal dengan keputusannya mengejar karir dan berpisah dengan orang terkasihnya?

Opini Pribadi Pembaca Tentang Buku Rempah Rindu

Buku ini mengandung unsur bawang, hampir semua ceritanya sedih. Tentang perjuang, mimpi, rindu, dan keiklasan semuanya ada di buku ini.

Selain itu, ketika membaca buku ini saya dapat banyak pengetahuan baru. Saya jadi tahu proses penanaman vanili, dan kisah tentang petani lada di Lampung. Saya juga mendapat kosakata baru ketika membaca buku ini.

Saya jadi tahu kalau keminting (kemiri), glabela (dahi di antara alis mata kiri dan alis mata kanan), kebuayan (kelompok masyarakat kecil yang membentuk marga tinggal dengan harmonis nan rukun).

Tak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk buku. Bukan begitu?

Ya, di buku Rempah Rindu ini masih banyak kekurangannya. Masih banyak salah dalam penulisan dan banyak kalimat yang membuat pembaca bingung. Misalnya di bab pertama, ketika Sumirah membuat sambal jahe di situ dituliskan bahan-bahan membuat sambal jahe tapi tidak ada jahe dalam bahan tersebut.

Kemudian di bab kedua harusnya Pak Karmui tapi yang tertulis Pak Karimun. Sepertinya salah tulis, tapi lumayan fatal karena pembaca bisa mengira ini tokoh baru.

Hal lain yang membuat bingung pembaca di bab dua ada kalimat seperti ini “Banyu Biru sebelas sepuluh tahun lalu saat berumur dua tahu di diagnosa dokter”, dan kalimat “Hal yang kontras bisanya Kidung lihat sehari-hari jelang sembilan belas di kampung dengan suasana perkebunan vanili”. Sebagai pembaca jujur saya bingung dengan kalimat di atas.

Oh ya, di bab Aroma Cinta Andaliman. Di situ diceritakan Tiur hanya memiliki Umak, karena bapaknya sudah meninggal. Tapi di halaman 125 dibilang Tiur sebagai anak piatu, bukankah piatu untuk yang tak mempunyai ibu?

Selain itu masih banyak lagi kekurangan di sana sini, tapi rasanya sangat wajar jika banyak salah dalam penulisan buku Rempah Rindu. Coba kalian lihat lagi informasi tentang buku Rempah Rindu ini. Tak ada nama editor di situ, saya tak menemukan nama editor di buku ini. Jadi, buku ini sepertinya tidak ada tahap penyuntingan.

Penulisnya menulis dan langsung diterbitkan, keren sekali. Untuk buku yang tak ada tahap penyuntingan menurut saya ini cukup rapih.

Ya, walaupun masih ada kekurangannya tapi buku ini sangat layak untuk dibaca. Alur ceritanya menarik dan bahasanya juga ringan. Jadi untuk kalian yang suka baca novelet ringan, buku Rempah Rindu sangat cocok untuk kalian.

Selamat membaca 🙂
Antin Aprianti 

 

Review buku lainnya:

  1. Review Buku: Di Dalam Lembah Kehidupan Karya Buya Hamka
  2. Review Buku Our Hope Karya Inesia Pratiwi

4 thoughts on “Review Buku Rempah Rindu Karya Gina Maftuhah Dkk

  1. Dayu Anggoro

    Mei 31, 2020 at 1:03 PM

    Hemmm jadi inituh kumpulan cerpen yg dikemas sedemikian rupa, menggabungkan antara rindu dan rempah. Mantaplah ulasannya ntin.

  2. rizki

    Juni 22, 2020 at 12:19 PM

    Konsep bukunya menarik. Menggabungkan rempah-rempah dengan rindu. Aku kayaknya suka cerita ketiga. “Andaliman” nama rempah/sambalnya menarik dan enak untuk diucapkan. Cerita ibunya yang kena alzheimer bikin ibunya di satu sisi seperti sudah tiada karena kenangannya hilang namun di sisi lain raganya masih hidup. Tampaknya susah berada di posisi Tiur.

    1. Antin Aprianti

      Juni 26, 2020 at 4:21 PM

      Betul kak, sulit sekali berada di posisi Tiur. Antara mimpi dan ibunya, pilihan yang sulit.
      Konsep bukunya memang menarik kak

  3. Review Buku The Boy I Knew From YouTube Karya Suarcani

    Juli 24, 2020 at 8:35 PM

    […] Review Buku Rempah Rindu Karya Gina Maftuhah Dkk […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hay, nggak boleh ya !!