buku-the-boy-i-knew-from-youtube-suarcani
BOOKS

Review Buku The Boy I Knew From YouTube Karya Suarcani

Posted on

Belakangan ini saya sengaja membaca buku tanpa membaca blurb-nya. Saya ingin terkejut dengan alur cerita yang dirancang oleh sang penulis, tanpa menebak-nebak dari blurb-nya. Begitu juga ketika membaca buku The Boy I Knew From YouTube.

Ini buku ketiga karya Suarcani yang saya baca, dan saya selalu suka sama cover bukunya. Ntah ya, menurut saya buku-buku Suarcani ini cover-nya menarik semua. Simpel tapi menggoda untuk dikoleksi.

Duuh bahas apa sih ini, mari lah kita bahas bukunya saja. Sebelum membahas lebih jauh, saya kasih tahu beberapa bocoran tentang buku The Boy I Knew From YouTube dulu ya.

Informasi Buku The Boy I Knew From YouTube

cover buku the boy i knew from youtube

Judul : The Boy I Knew From YouTube
Penulis : Suarcani
Penyunting : Midya N. Santi
Penyelaras Aksara : Wienny Siska
Desain Sampul : Sukutangan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-06-3819-5
ISBN Digital : 978-602-06-3820-1
Tebal : 256 hlm
Genre : Teenlit

Rasanya mau kasih tepuk tangan untuk Sukutangan yang membuat desain sampulnya, dan untuk Midya N. Santi yang menyunting buku ini dengan sangat apik. Rasanya selama saya membaca buku ini hanya ada satu dua saja yang salah dalam penulisan, selebihnya sangat mulus.

Blurb Buku The Boy I Knew From YouTube

Pada hari pertama di SMA, Rai terkejut. Ternyata Pri, pemilik channel Pie Susu, adalah kakak kelasnya. Mereka saling berinteraksi di kolom komentar YouTube, bahkan lanjut ke e-mail.

Pie Susu tidak pernah mengetahui identitas Rai. Video cover lagu-lagu yang Rai nyanyikan di channel Peri Bisu hanya menayangkan sosoknya dari belakang. Itu pun sebatas pundak ke atas. Karena sudah tiga tahun Rai tidak lagi nyaman menampilkan bakat menyanyinya di dunia nyata.

Saat tiba-tiba Rai terpaksa harus tampil lagi di depan umum, Kak Pri bersedia mengiringinya dengan gitar. Persiapan lomba akustik pun mengiring interaksi mereka di dunia nyata. Namun, Rai masih tidak percaya diri. Terutama ketika gosip dan perlakuan tidak menyenangkan atas ukuran tubuhnya kembali mencuat.

Review Buku The Boy I Knew From YouTube

Setelah membaca paragraf terakhir pada blubr di atas, kalian sudah bisa tebak kah buku ini membahas tentang apa? Yap benar, buku The Boy I Knew From YouTube membahas tentang body shamming.

Suatu hari, Rai diminta bernyanyi di pesta ulang tahun temannya, ia bersedia dan seperti biasanya, energik di panggung. Nyanyiannya diselingi dengan gerakan-gerakan cepat.

Awalnya semua berjalan seperti biasa. Tepuk tangan meriah, sambutan riuh, dan pujian-pujian. Hingga tanpa sengaja Rai mendengar obrolan para cowok, sesaat setelah dirinya turun dari panggung.

“Waktu Rai loncat tadi, dadanya ikut loncat. Kalian lihat, nggak?”
“Kayanya dia nggak pakai BH, dadanya lari sana lari sini”
“Gede banget ya? Mendadak lagi. Seingetku waktu lulus SD nggak begitu besar”

Itulah yang menjadi awal Rai tak ingin bernyanyi lagi. Kejadian saat Rai masih SMP dan membuatnya trauma. Dia takut jika dia bernyanyi lagi orang-orang akan fokus ke dadanya.

Sejak masuk SMA, Rai selalu memakai baju kebesaran untuk menutupinya. Rai juga tidak menyukai pelajaran olahraga karena harus banyak bergerak, dan menunjukan bentuk tubuhnya. Dia takut semua orang fokus memperhatikan dadanya.

Bahkan ketika Rai tahu satu sekolah dengan Pri (Pai Susu), dia tak berani mengakuinya jika dia adalah Peri Bisu. Rai takut Pri tak percaya.

“Detik ini, tiga tahun setelah berhenti tampil di depan umum, Rai masih bisa merasakan sensasinya. Walau ketakutan-ketakutan itu masih membayangi, ia masih merasa menyanyi menjadi momen paling membahagiakan.”

Keadaan terdesak membuat Rai akhirnya bernyanyi lagi di depan umum, di acara pentas seni sekolahnya. Saat itu Irfan yang harus tampil mendadak sakit, karena takut kelas mereka di hukum, teman-teman Rai memaksanya untuk menggantikan Irfan.

Saat itu Rai bernyanyi diiringi petikan gitar Pri yang merdu, momen yang tak terlupakan oleh Rai. Sejak saat itu pula Rai jadi dekat dengan Pri dan teman-temannya di eskul musik.

Seperti sebelumnya, semua berjalan dengan baik-baik saja sampai suatu hari satu sekolah ribut membicarakan ukuran bra Rai. Setiap sudut, lorong, dan kantin sibuk berguncing ketika melihat Rai lewat. Mereka melihat dan membicarakan ukuran dada Rai.

Hal yang membuat saya ikut geram, ketika Rai akan pulang sekolah salah satu teman lelakinya melakukan pelecehan seksual. Ketika akan memakai jaket, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh dadanya. Dia shock dan menangis, untung saja ada Kiki dan Pri yang membantunya.

“Rai tidak pernah meminta ukuran, tidak juga hendak pamer. Sebaliknya, ia malah ingin menyusutkan bagian tubuhnya itu sehingga tidak perlu membuatnya merasa insecure saat melintas di hadapan banyak orang. Tatapan-tatapan tercengang bercampur usil yang selama ini mengikuti langkahnya begitu meresahkan.”

Setelah kejadian itu Rai benar-benar terpukul, trauma masa lalunya teringat kembali. Kejadian itu, trauma masa lalu itu, kini terulang kembali.

Siapakah yang membocorkan ukura bra Rai?
Bisakah Rai kembali ke sekolah dan mengabaikan desas desus tentang ukuran bra-nya di sekolah?
Bisakah Rai menerima keadaannya, dan melalui hari-harinya tanpa trauma?

Kalian harus baca buku The Boy I Knew From YouTube dan cari tahu sendiri jawabannya. Kalau saya ceritakan semua di sini nanti jadi spoiler 😀

Opini Pribadi Pembaca Tentang Buku The Boy I Knew From YouTube

Memang bukan hal baru jika gosip seputar tubuh perempuan akan menyebar dengan cepat, apalagi di kalangan laki-laki dengan hormon yang sedang mengebu-gebu. Perempuan yang sudah berpakaian tertutup saja bisa terlihat terlanjang.

Sebagai perempuan, ketika membaca buku ini saya ikut merasakan bagaimana terpuruknya Rai. Rasanya ingin langsung memeluk Rai.

“Rai ternganga. Jadi, body shamming itu hanya berawal dari ketidaksengajaan? Karena seseorang yang ia anggap teman, menjadikan ukuran bra miliknya sebagai bahan obrolan iseng?” Hal. 252

Body shamming memang masih menjadi hal yang sering terjadi atau bahkan kita yang melakukannya, baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. Kadang kita menganggap hal itu becandaan saja, bukan body shamming. Namun, kita tak pernah tahu apa yang dirasakan oleh orang yang menerimanya.

Kalimat di halaman 252 tersebut sekaligus mengingatkan saya agar lebih berhati-hati lagi ketika berucap. Kita tak pernah tahu apakah orang tersebut menerimanya sebagai candaan, atau sebagai hinaan yang membuatnya kurang nyaman.

Dampak dari body shamming kepada Rai sungguh luar biasa. Dia tak berani bernyanyi lagi padahal memiliki suara yang sangat indah, dia juga tak berani berpakaian modis dan memilih menggunakan pakaian yang kebesaran. Banyak hal yang harusnya bisa dirasakan anak remaja, tapi Rai melewatkannya karena merasa insecure.

Penulisnya sendiri menuliskan di akun goodreads-nya, jika buku ini berisikan curhatan teramat pribadi yang tidak pernah dia bagi ke orang-orang. Dia tumbuh sebagai remaja yang insecure terhadap kondisi tubuh sendiri, dan kehilangan banyak momen masa muda yang seharusnya indah.

Yang jadi pertanyaan, apakah saat ini masih banyak anak-anak terutama perempuan yang mengalami body shamming? Saya rasa masih sangat banyak.

Saya berharap banyak remaja yang membaca buku The Boy I Knew From YouTube, agar mereka tahu bagaimana dampak buruk dari body shamming untuk sang korban. Kemudian meraka akan berpikir dua kali untuk melakukannya.

“Asal kamu tahu, inti utama dari bahagia itu sebenarnya adalah rasa puas. Jika puas terhadap apa yang kamu miliki hari ini, pasti bisa merasa bahagia. Nggak ada ekspektasi berlebih, nggak ada rasa kecewa ketika harapanmu nggak kesampaian. Otomatis itu. Tetapi sebaliknya, jika kamu nggak puas sama diri sendiri, jangan harap bisa berkata cukup. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, yang ada di otak kamu itu hanyalah penyesalan. Ujung-ujungnya apa, kamu jadi iri pada orang lain, jadi benci diri sendiri. Menurutmu enak hidup kayak gitu?” – Hal. 142

Ketika membaca buku ini saya nyaris tak menemukan kekurangannya, ada beberapa salah penulisan tapi masih termaafkan dan tidak terlalu mengganggu. Mungkin karena genrenya Teenlit jadi bahasanya memang sederhana dan mudah dipahami.

Karena latar tempat buku The Boy I Knew From YouTube berlokasi di Bali, di buku ini juga memasukan unsur adat seperti upacara adat keagamaan di sekolah. Saya juga salut karena warga Bali tetap melestarikan pakaian tradisionalnya. Semua sekolah di Bali, pada hari tertentu muridnya diwajibkan menggunakan pakaian tradisional Bali.

Selain itu, beberapa percakapan di buku ini ada yang menggunakan Bahasa Bali. Jadi sekalian baca bisa sekalian belajar Bahasa Bali sedikit-sedikit.

Saking berkesannya buku ini, tak terasa saya sudah bercerita sangat panjang. Mari sudahi ceritanya.

Untuk yang terakhir, kalian yang membaca tulisan ini terutama perempuan, pernahkah kalian mengalami body shamming dan bagaimana cara kalian mengatasi rasa kurang “nyamannya”? saya tunggu cerita kalian di kolom komentar ya 🙂

Kalian, iya kalian para perempuan yang sering mengalami body shamming. Kalian luar biasa, aku tahu memang tak mudah tapi kalian pasti bisa melewatinya.

Selamat membaca buku The Boy I Knew From YouTube, yuk sama-sama kita belajar dari kisah Rai.

 

Review buku lainnya:

  1. Rempah Rindu Karya Gina Maftuhah Dkk
  2. Our Hope Karya Inesia Pratiwi
  3. Di Dalam Lembah Kehidupan Karya Buya Hamka
  4. The Architecture Of Love Karya Ika Natassa

53 thoughts on “Review Buku The Boy I Knew From YouTube Karya Suarcani

  1. Raya

    Juli 16, 2020 at 9:14 AM

    Wahh jadi pengen baca…awalnya liat genre teenlit kog males banget..ternyata temanya masih relate dengan wanita yang udah gak teen lagi….btw, keren ulasanny tin..

    1. Antin Aprianti

      Juli 16, 2020 at 10:30 AM

      Tak semua genre teenlit ceritanya malesin kak hehe
      Yang ini bagus banget sih, isu yang diangkat relate buat semua usia.
      Ayo ayo baca, pasti geram deh lihat Rai diperlakukan kurang menyenangkan

      1. Dewi Setyowati

        Juli 22, 2020 at 11:51 PM

        Dek Antin emang layak dijadikan duta buku nih. Menarik banget ceeita di buku ini, body shaming diangkat ke dalam novel..

        Btw Dek, setahuku yang betul blurb, bukan blubr.

        1. Antin Aprianti

          Juli 24, 2020 at 8:32 PM

          Ya ampun iya mbak tebalik itu, makasih infonya

    2. Rahman kamal

      Juli 19, 2020 at 2:29 PM

      Wah genrennya kekinian banget. Isu yang diangkat juga hangat dan aktual. Gak nyangka kalo Novel teenlit ada yang nyentuh tema ginian -atau akunya aja yang udah kelamaan gak baca buku ya 😫😫😫

  2. febi

    Juli 16, 2020 at 11:14 AM

    Body shaming pasti menyakitkan banget, tapi untungnya sekarang orang-orang udah concern dengan hal ini..
    Ada yang pernah cerita ke gw saat SD pernah ngalamin ini dan sampai sekarang lukanya masih membekas sampai sekarang..
    Beruntung orang yang cerita ke gw tersebut mengubah pengalaman negatif ini menjadi positif yang berarti dia komitmen dengan dirinya sendiri ngga akan mau memperlakukan hal yang sama ke orang lain karena diperlakukan seperti itu ngga enak..

    Ulasan yang mencerahkan!

    1. Antin Aprianti

      Juli 16, 2020 at 2:52 PM

      Yang menyakitkan, lukanya itu memang membekas feb. Nggak sepenuhnya hilang sampai orang tersebut iklas dan nerima, segitu buruk dampaknya.
      Alhamdulillah kalau mengubah ke hal positif, yang ditakutin itu kalau mengarah ke hal negatif atau bahkan sampe bunuh diri gitu.

  3. Iqbal

    Juli 16, 2020 at 12:21 PM

    Tin, yg betul blubr apa blurp sih?

    1. Yang aku tahu blurb, Mas.
  • Rivai Hidayat

    Juli 16, 2020 at 9:58 PM

    body shaming, tapi banyak yang bilang itu bercanda. Mereka tidak pernah tahu jika yang mereka sebut bercanda itu membawa pengaruh negatif pada seseorang. Mereka juga tidak sadar jika mereka telah merampas rasa percaya diri seseorang.
    saat ini mulai banyak orang memiliki perhatian khusus terhadap perilaku body shaming.

    1. Antin Aprianti

      Juli 17, 2020 at 10:08 PM

      Betul sekali, Mas.
      Semoga semakin banyak lagi ya orang yang paham tentang dampak buruknya dari body shamming

  • Retno Nur Fitri

    Juli 17, 2020 at 8:30 AM

    Pesan nya sangat mendalam kak, semoga pembelajaran tentang artinya body shaming bisa diangkat di dalam pelajaran sekolah juga. Entah itu dalam bentuk seminar atau dipelajaran BK. Makasih buat reviewnya kak 😊

    1. Antin Aprianti

      Juli 17, 2020 at 10:09 PM

      Semoga ya, Retno. Biar anak-anak paham dan nggak melakukan body shamming

  • Tuty Prihartiny

    Juli 17, 2020 at 8:00 PM

    Rasanya cukuplah saya memahami isi buku the boys I know from YouTube dari review kerennya Kak Antin. Masih PR banget untuk saya memahami isi novel /fiksi / kisah yang difiksikan. Namun secara contain tetap saya hargai sang penulis mengangkat tema body shaming, suatu alert untuk kita semua. Ada becandaan yang disadari/ tidak berefek psikis luar biasa. Jadi, say no to body shaming. Begitukah, kak Antin?

    1. Antin Aprianti

      Juli 17, 2020 at 10:11 PM

      Betul, Teh. Terkadang becandaan tanpa disadari bisa berefek ke psikis buat sang korban.

  • Dayu Anggoro

    Juli 18, 2020 at 10:31 AM

    Baca reviewnya agak gimana gitu ini buku, apalagi kejadian body shaming di sekitar kita tuh kayak hal yang biasaja aja padahal dampaknya luar biasa untuk korban.

  • BayuFitri

    Juli 18, 2020 at 11:35 AM

    orang yg body shaming karena dia tdk bisa memilih diksi kata yg halus dan netral ..contoh orang gendut ringan saja bilang orang lain kuras kurus..karena dipikiran orang gendut cita2 nya ya pengen pnya badan kurus…tapi…orang kurus tuh sakit hati dibilang kurus sama orang gendut karena yg ada dipikiran orang kurus.. seolah2 badan kurusnya tuh cuma tulang belulang doank, ga pernah makan enak, kurang gizi dsb dll..ketika orang kurus ditanya ternyata orang kurus lbh suka dibilang langsing…sama seperti orang gemuk..klo dibilang gendut pasti ga nyaman malah marah..jadi semua hnya masalah pemilihan diksi kata yg kurang pas.. hehe..

    1. Antin Aprianti

      Juli 19, 2020 at 10:03 PM

      Pemilihan diksi bisa jadi salah satu pemicu juga kak, tapi menurutku karena awalnya sudah kebiasaan basa-basi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

      Dianggap biasa aja atau malah dianggap sekadar becanda, tapi kita nggak pernah tahu apa yang dirasa sama orang tersebut.

  • Ning!

    Juli 18, 2020 at 2:34 PM

    Kayaknya culture kita itu menganggap body shamming seperti hal wajar ya. Hal sederhana aja kayak kalo kita ketemu temen. Ada yg bilang, “hey, kamu kok kurusan? Kok Gemukan? Kok banyak jerawat …”

    Kita suka gak sadar bahwa kata sederhana itu sudah termasuk body shamming. Makanya, sejak tau hal itu sebisa mungkin, aku gak pernah singgung soal fisik kalau ketemu teman lama. Kan bisa tanya hal yang lain, misal “gimana kabarnya?”

    Aku juga pernah sih ngalamin body shamming. Dan itu bikin aku membenci kampung halamanku karena temen²ku di sana suka panggil aku genter (galah) karena tinggiku di atas rata² anak² di sana. Sampe mereka dulu tuh ngejekinnya parah banget dan bergerombol gitu. Sedih kalau inget …

    1. Antin Aprianti

      Juli 19, 2020 at 10:07 PM

      Iya kak, karena kebiasaan jadi kaya dianggap wajar aja untuk bertanya hal-hal sensitif kaya gitu ya.

      Jujur memang susah buat ngerem pertanyaan-pertanyaan itu karena sudah kebiasaan, tapi pas tahu dampaknya luar biasa, jadi harus belajar ngerem.

      Nggak mudah, apalagi buat aku yang bawel ini, tapi harus dicoba

  • Eka Rahmawati

    Juli 20, 2020 at 7:43 AM

    Udah lama banget gak baca buku teen lit hehe, padahal dulu pas masih SMA sama kuliah suka banget. Kalo saya sih seksrsng lebih suka nonton film yg membahas si body shaming. Kemarin baru nonton Imperfect di Netflix.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:42 PM

      Wah aku belum nonton Imperfect juga, katanya bagus ya kak?

  • Ifa Mutia

    Juli 20, 2020 at 1:11 PM

    Body shaming bisa membuat seorang tertekan ya, terutama remaja. Walau begitu banyak juga yang menjadikan body shaming itu motivasi agar bisa lebih baik.

    Saya sendiri belum pernah mengalami body shaming atau mungkin karena saya termasuk orang yang tidak peduli dengan hal hal seperti itu.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:44 PM

      Betul kak ada yang menjadikan body shamming sebagai motivasi, atau malah membuat depresi.
      Teman aku ada yang menjadikan body shamming sebagai motivasi, dan dia berhasil. Jadi balik lagi ke orangnya

  • Yulia Gumay

    Juli 20, 2020 at 4:31 PM

    Saya rasa setiap orang pernah mengalami Body Shaming. Tapi beberapa di antaranya mungkin tidak sadar bahwa perlakuan yang ia terima termasuk Body Shaming. Namun tentu saja yang lebih sering mengalami Body Shaming ini adalah mereka yang dianggap berbeda oleh orang-orang di lingkungannya.

    Kadang suka heran sama orang yang suka melakukan perbuatan Body Shaming ini, kayak mereka sempurna aja.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:45 PM

      Karena sudah seperti hal wajar bisa jadi begitu kak

  • Lenifey

    Juli 20, 2020 at 6:07 PM

    Genrenya oke banget ya. Sangat relate dengan kehidupan wanita. Insecure karena bentuk badan apalagi di era digital sekarang dengan banyaknya hashtag body goals.
    Jadi pingin baca. Masukkan ke list buku. Hahah

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:46 PM

      Ayo baca juga biar seru ngobrolin bukunya haha

  • Sri Raditiningsih

    Juli 20, 2020 at 7:55 PM

    Waahh aku baru tahu ada bukunya Suarcani yang ini, favoritku masih yang purple prose soalnya. Baca review ini jadi pengen baca juga. Tapi masalah body shaming emang seserius itu sih, kadang aku tanpa sadar juga masih suka body shaming walau niatnya gak begitu sih tapi tetep aja. Hati orang gak pernah ada yang tahu. Makasih Kaa reviewnya.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:48 PM

      Ini bukunya Suarcani yang terbaru kak, eh nggak baru-baru amat sih dari awal tahunan ramenya tapi baru sempet baca.
      Iya sama aku pun masih suka keceplosan sih, karena nggak niat buat body shamming, niatnya hanya becanda. Tapi pas baca buku ini jadi jleb banget, kita nggak tahu kan hati orang tersebut gimana

  • Nani Kurniasari

    Juli 20, 2020 at 9:02 PM

    iya iiihh….jadi pengen baca bukunyaaaa….
    makasih reviewnya beb, mau cari bokonyaahh

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:49 PM

      Sama-sama, Kak. Selamat berburu bukunya ya, nanti kita diskusi bareng kalau udah baca

  • i n n a

    Juli 20, 2020 at 9:28 PM

    Body shamming memang ga enak loh ke psikis yang nerimanya,, tapi memang sie awalnya dari becandaan, awal dari bercandaan itulah kemudian jadi pikiran orang yg nerima perlakuan itu, timbul pertanyaan masa sie, kok gini sie akhirnya gimana ya supaya jadi begini, nah pas udah berubah timbul lagi pertanyaan, sebenernya mau apa sie nie orang2 .

  • Inez Dwijayanti

    Juli 20, 2020 at 10:18 PM

    pernah mengalami posisi spt rei ini. memang dampaknya sgt besar bagi kejiwaan seseorang.

  • Okta

    Juli 20, 2020 at 10:23 PM

    Aku bacanya cuma mau ngasih tau. Kisah Cerita dan namanya mirip sama tmn ku :’) sesempit itu ya dunia

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:51 PM

      Pasti banyak sih yang senasib dengan Rai, tapi kita nggak tahu aja ya kak. Salam peluk untuk temannya ya, Kak.

  • Dian Restu Agustina

    Juli 20, 2020 at 10:29 PM

    Awalnya aku menganggap ini teenlit biasa. Tapi tema body shamming yang diangkat, latar belakang budaya dan kesederhanaan cerita yang mengena membuat buku ini jadi istimewa. Pesan moralnya bikin aku juga sepakat. Mesti hati-hati jika terkait diri orang lain, meski itu hanya bercanda maksudnya. Siapa tahu baginya itu menyakitkan.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 8:55 PM

      Aku pun takjub mbak baca buku ini, di balik genre Teenlit yang ringan ada isu luar biasa yang diangkat.

  • Kartini

    Juli 21, 2020 at 10:06 AM

    body shamming masih berkeliaran di mulut-mulut orang-orang sih ya tin, ga hanya di indonesia tapi juga di dunia. yang paling aku inget itu dr vide yang viral akhir2 ini yang anak laki-laki “bertubuh sehat” yang diperolok oleh orang-orang dewasa sampai nyebur ke sawah2 gitu. wah aku geram banget sih itu..
    bagus sih ya buku the boys i knew from youtube ini berani mengangkat cerita tentang body shaming yg emang masih banyak terjadi di dunia ini.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 9:01 PM

      Ih iya aku juga marah banget sama kelakuan anak-anak itu, ya kok tega. Nggak kebayang perasaan orang tuanya gimana lihat anaknya diperlakukan begitu.
      Iya Kar bukunya bagus, semoga banyak yang baca buku ini ya jadi sadar kalau body shamming itu dampaknya nggak baik buat si korban

  • Rara

    Juli 21, 2020 at 8:15 PM

    Pas tau genrenya teeit, aku udah kepengen baca. Pas baca hasil reviewnya Kak Antin, aku malah makin kepengen baca. Topiknya tentang body shaming lagi, pasti banyak hal baru di dalamnya. Ah tapi kasian Rai ya, belum baca bukunya aja aku udah ngerasa kasian.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 9:03 PM

      Harus baca sih kak, sebagus itu bukunya.

  • Diah Sally

    Juli 21, 2020 at 10:10 PM

    Body Shaming di sekolah justru paling banyak, entah mungkin karena kurang edukasi yang dibarengi dengan masa-masanya horman sedang menggebu-gebu, kalau boleh pinjam kata Antin tadi.

    Review nya apik, Antin selalu mengingatkan saya pada sosok orang yang suka baca teenlit. Hehehe. Rekomendasi dong Ntin buku Teenlit tapi yang konflik nya komplex dan penyelesaian konfliknya realistis banget adakah?

    Jadi penasaran itu yang nulis umur berapa? Anak SMP pun sekarang sudah pada pandai nulis yaa. Anyway, Antin cocok nih jadi editor buku. Hehe.

    1. Antin Aprianti

      Juli 21, 2020 at 10:59 PM

      Aku rasa memang kurang edukasi juga sih kak
      Sejujurnya aku malah jarang baca Teenlit kak, lebih sering Young Adult atau Metropop. Jadi aku belum bisa merekomendasikan banyak buku Teenlit.
      Penulisnya misterius kak, Suarcani aku rasa nama pena. Aku udah baca tiga bukunya tapi nggak pernah tahu sosok penulisnya. Yang aku tahu di bio blognya sih working mom.

  • endah marina

    Juli 22, 2020 at 5:27 PM

    aku belajar cara review buku dari kak antinn, tapi sampe skrng belom berani untuk di publish . padahal sdh ada di draft tinggal tambahin poto doang. buku ini yang ada di uploudan IG kak antin yaa?? yang mengenai body shaming??
    seperti komenku di IG, paling kesel aku bila masih ada aja mengenai body shaming ..
    jadi semakin penasaran sama isi detail buku the boy i knew from youtube ini , akan masuk list pastinya…

    1. Antin Aprianti

      Juli 22, 2020 at 8:57 PM

      Kenapa harus malu kak? dipublish aja, aku pun masih belajar review bukunya kok. Ayo dipublish di arisan berikutnya
      Iya ini buku yang aku ceritakan di instagram, ayo dibaca kak.

  • Harjuna

    Juli 22, 2020 at 9:43 PM

    Body shaming memang sering terjadi di masyarakat, khususnya anak sekolah. Awalnya memang bercanda, buat seruan, tapi kadang kita tidak sadar akan menyakiti perasaan orang lain, sampai mempengaruhi kejiwaaannya.

  • Lisa Fransisca

    Juli 22, 2020 at 10:38 PM

    Hi Antin, buku yang direview bagus ya. Aku udah lama banget enggak pernah baca teenlit.. Bukunya menarik! Btw, body shaming ini menurutku sepertinya enggak hanya di kalangan laki-laki. Perempuan juga banyak yang suka mengomentari bentuk tubuh perempuan lain. Seakan-akan hal ini wajar.

    Aku dulu juga suka dibody shaming karena punya mata belo. Tapi lama-lama sadar ya memang sudah diciptakan begini, aku enggak bisa request juga sama Sang Pencipta.

  • Nia Devy

    Juli 27, 2020 at 7:54 PM

    Jadi inget sama postingan ig story ernest prakarsa yang udah ajarin anaknya tentang kesadaran body shamming. Menurutku itu hal yang baik, sedari kecil sudah paham tentang body shamming.

  • irabooklover

    Juli 30, 2020 at 9:31 AM

    “Kadang kita menganggap hal itu cuma becandaan saja, bukan body shaming. Namun, kita tak pernah tahu apa yang dirasakan oleh orang yang menerimanya.”

    Setuju banget sama kalimat di atas Mbak. Kita tak pernah tahu apa yang dirasakan orang, jadi kitalah yang harus hati-hati dalam berucap ^^

  • Review Buku Confessions Karya Minato Kanae

    Agustus 1, 2020 at 2:58 PM

    […] Review Buku The Boy I Knew From YouTube Karya Suarcani […]

  • 5 Hal Yang Membuat Bahagia dan Hidup Lebih Berwarna

    Oktober 2, 2020 at 7:27 PM

    […] jatuh cinta dengan salah satu buku yang pernah saya baca, membeli buku menjadi candu dan menjadi hal yang membuat bahagia. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa membeli […]

  • Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    error: Hay, nggak boleh ya !!