review-buku-confessions-karya-minato-kanae
BOOKS

Review Buku Confessions Karya Minato Kanae

Posted on

Buku Confessions bisa dibilang buku genre thriller pertama yang saya baca. Sungguh menakjubkan, Antin yang terbiasa membaca genre romance tiba-tiba membaca genre thriller terjemahan dari novel Jepang.

Awalnya saya sempat pesimis tidak akan menyelesaikan buku ini, terlebih di awal cerita alurnya sangat lambat dan membuat saya bingung. Andai saja saya tidak membuat challenge baca bareng teman, bisa jadi buku ini tidak saya selesaikan dan berakhir jadi timbunan.

Namun saya tidak menyesal, buku Confessions sangat menakjubkan dan penuh kejutan. Kalau kalian tanya semenakjubkan apa buku ini, yuk simak ulasannya.

Informasi Buku Confessions

Judul : Confessions
Penulis : Minato Kanae
Penerjemah : Clara Canceriana, Andry Setiawan
Penyunting : Prisca Primasari
Penyelaras Aksara : Titish A.K.
Desainer Sampul : Pola
Penata Sampul : @teguhra
Penerbit : Penerbit Haru
Cetakan Pertama : Agustus 2019
ISBN : 978-602-53858-8-9
Tebal : 304 hlm

Blurb Buku Confessions

Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.

Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk.

Review Buku Confessions

Buku Confessions dibagi menjadi 6 bab dengan judul Orang Suci, Martir, Pencinta, Pencari Kebenaran, Pemuja, dan Penginjil dengan sudut pandang berbeda di setiap babnya.

Ketika membaca bab pertama, jujur awalnya saya bingung. Ini apa sih seperti sesi tanya jawab tapi POV (Point of View) seolah hanya satu orang yang bercerita, yaitu Moriguchi.

Setelah membaca cukup banyak halaman saya baru paham, kalau di bab pertama ini Moriguchi sedang bercerita ke anak murid di kelasnya. Moriguchi akan pensiun dan ini hari terakhirnya. Dia pun bercerita tentang banyak hal mulai dari kehidupan pribadinya, kenapa dia menjadi guru, kisah cintanya, sampai kematian anaknya, Manami.

Yang orang lain tahu, kematian Manami karena kecelakaan. Manami terpeleset dan tenggelam di kolam renang sekolah. Namun nyatanya bukan, Manami dibunuh oleh murid kelasnya sendiri.

“Meski saya seorang guru, bukan berarti saya akan terus memikirkan murid-murid sepanjang waktu. Itu karena ada sosok yang jauh lebih penting bagi saya. Seperti yang telah kalian ketahui, saya adalah single mother—seorang ibu yang tidak menikah.” – hal. 21

Moriguchi tahu siapa pembunuh anaknya. Dia menceritakan detail pembunuhan Manami yang berawal dari menyentuh dompet kejut, sampai bisa tenggelam di kolam renang.

Dia juga menceritakan tentang pelaku pembuh anaknya, dia menyebut tersangka dengan A (Watanabe Shuya) dan B (Naoki/Nao-kun). Walaupun namanya disamarkan, tapi Moriguchi menjelaskan ciri-ciri orang tersebut dengan sangat detail. Sampai-sampai satu kelas bisa tahu siapa pelakunya.

Karena dia seorang guru, Moriguchi tak mungkin melaporkannya ke polisi. Terlebih mereka masih di bawah umur, akan bebas begitu saja. Dia membalas dendam dengan cara yang berbeda, dia mencampurkan darah ayahnya Manami yang mengidap AIDS ke dalam susu kedua murid tersebut.

Kematian Manami dan kejadian minum susu itulah yang menjadi benang merah cerita di buku ini.

Masuk ke bab dua POV berganti menjadi Mizuho ketua kelas 2-B yang bercerita. Dia bercerita tentang wali kelas barunya, dan keadaan kelas setelah cerita Moriguchi waktu itu.

Setelah cerita itu, pelaku A tetap berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun, dia mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman-teman di kelasnya. Sedangkan pelaku B sejak hari pertama sekolah tidak terlihat berada di sekolah.

Wali kelas baru dan Mizuho hampir setiap minggu mengunjungi rumah pelaku B untuk membujuknya agar mau ke sekolah. Wali kelas baru juga meminta teman sekelas menulis kartu ucapan untuk pelaku B agar mau sekolah lagi.

buku confessions karya-minato-kanae

“seMuA orang, TIdak sendirian, mesKi duniA ini brUtal, Pasti sEMua Bisa UNtuk jaUh lebih baHagia!” – hal. 91

Kalimat di atas adalah kartu ucapan dari beberapa murid di kelas untuk pelaku B. Awalnya saya kira hanya kalimat dukungan bisa, tapi setelah diperhatikan lagi ada kalimat ancaman di situ. Coba kalian perhatikan tulisan dengan hurup kapital, kemudian kalian satukan menjadi sebuah kalimat. Seram bukan?

Awalnya kedatangan wali kelas baru dan Mizuho disambut hangat oleh ibunya pelaku B, tapi lama-lama perlakuannya berbeda. Sampai suatu hari ada berita ibunya dibunuh oleh pelaku B.

Lanjut bab ketiga, POV berubah lagi. Kali ini yang bercerita Kakak Nao-kun, pelaku B.

Masih nyambung dengan bab kedua, karena terbunuhnya sang ibu. Kakak palaku B ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ibu dan adiknya. Kemudian dia ingat kalau ibunya sering menulis diary, dia pun mencari diary itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Otak manusia itu selalu berusaha untuk berjuang dan mengingat, tapi kalau ada sesuatu yang tertulis, kau sudah tidak perlu lagi mengingatnya, dan bisa dengan tenang melupakannya. Sisakan kenangan yang menyenangkan, kenangan yang buruk tulis dan lupakan.” Hal, 131

Di bab ketigalah semuanya terungkap, siapa sebenarnya yang membunuh ibunya dan masalah apa yang dihadapi Nao-kun.

Kemudian di bab ke empat dan ke lima giliran Nao-kun dan Watanabe Shuya yang bercerita kenapa dia melakukan semua itu. Lalu ditutup dengan Moriguchi yang bercerita kembali dan menutup cerita dengan apik di bab terakhir.

Jadi siapakah pembunuh Manami sebenarnya?
Apa penyebab Shuya dan Nao-kun melakukan itu semua?
Balas dendam seperti apa yang sebenarnya direncanakan Moriguchi?

Kalian baca dan cari tahu sendiri di buku Confessions ya 😀

Opini Pribadi Tentang Buku Confessions

Sejujurnya saya suka sama buku ini, tapi karena terbiasa membaca genre romance, jadi saya butuh adaptasi ketika membaca buku Confessions. Butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikannya, itu pun karena challenge sama teman, ntah akan selesai berapa lama kalau nggak begitu.

Alur awal yang lambat dan membosankan sempat membuat saya malas membacanya, terus pembunuhnya sudah diungkap sejak awal. Saya sempat bingung juga kenapa pembunuhnya diungkap secepat ini. Nyatanya bukan itu yang hendak penulis ceritakan, bukan siapa pembunuhnya, tapi apa motif pembunuhan tersebut.

Kemudian dilanjut dengan bab dua yang ntah apa hubungannya. Pembaca seolah dibawa untuk menyelami setiap masalah terlebih dahulu untuk tahu motif pembunuhan sebenarnya.

Dengan sudut pandang yang berbeda di setiap babnya, membuat buku ini menarik. Setiap tokoh terlibat bisa bebas menceritakan apa yang mereka rasakan dan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka mengakui perbuatannya tapi dengan alasan mengapa mereka melakukan itu semua.

“Orang berhati lemah akan melukai orang yang lebih lemah dari dirinya. Apakah orang yang terluka cuma bisa memilih antara bertahan atau mati? Tentu saja tidak. Dunia tempat kalian hidup ini bukan dunia yang sempit seperti itu. Kalau memang kalian menderita di tempat kalian sekarang hidup, menurutku tidak mengapa jika kalian kabur ke tempat yang lain. Tidak perlu malu untuk kabur ke tempat yang aman. Aku ingin kalian percaya bahwa di dunia yang luas ini, pasti ada tempat yang akan menerima kalian.” – hal. 211-212

Namun di balik itu semua, saya menangkap ada pesan yang hendak penulisnya sampaikan terutama tentang didikan dan kasih sayang orang tua yang terkadang berlebihan, yang tanpa sadar membuat anaknya tertekan.

Jujur, selama membaca buku ini saya selalu bertanya-tanya kenapa mereka melakukan hal tersebut. Terkadang saya dibuat tercengang dengan kenyataan yang satu per satu terungkap, penulisnya dengan apik memainkan perasaan pembaca.

“Saya kira dengan ini semuanya akan berakhir. Meski begitu, hati saya ini tetap tidak puas hanya dengan kenyataan bahwa kalian berdua akan ketakutan pada kematian dan menerima perlakuan buruk dari teman-teman sekelas. Sejujurnya, meski saya sudah menuntaskan balas dendam saya, rasa benci saya pada kalian sama sekali tidak berubah. Bahkan, menurut saya, meski saya menusuk-nusuk tubuh kalian dengan pisau sekalipun, perasaan itu tidak akan berubah. Saat itulah saya sadar, tidak ada balas dendam yang bisa membasuh semuanya sampai bersih.” – hal. 292

Ya, semua karena dendam. Dendam yang lama-lama mengendalikan para tokoh di buku ini untuk melakukan kesalahan.

“Apa pun yang kau pikirkan, sifatmu itu adalah hasil karyamu sendiri yang tidak ingin diakui oleh orang lain selain ibumu. Perbuatan dosamu itu bukanlah salah orang lain, melainkan salahmu sendiri. Meski demikian, Andai ada orang yang bertanggung jawab selain dirimu, bukankah orang itu adalah ibumu? Wanita itu adalah orang yang menyiksa seorang anak saat keinginannya tidak terpenuhi, yang hatinya membeku ketika akhirnya keinginannya terwujud, dan setelah itu, meninggalkanmu tanpa tanggung jawab sama sekali.” – hal. 300

Buku Confessions diakhiri dengan luar biasa oleh Minato-sense. Sungguh akhir cerita yang di luar dugaan pembaca, pembaca lengah dan terkejut dengan akhir cerita di buku ini. Setelah menyelesaikan buku Confessions saya masih bertanya-tanya kenapa penulisnya bisa kepikiran saja membuat akhir cerita seperti itu.

Rasanya membaca buku Confessions membuat saya ketagihan membaca buku genre thriller. Saya juga jadi penasaran dengan buku karya Minato Kanae lainnya.

Kalau kalian suka membaca buku genre thriller, jangan lewatkan untuk membaca buku Confessions karya Minato Kanae ini ya. Saya ingin kalian merasakan bagaimana penasarannya dengan motif pembunuhan, dan terkejutnya dengan akhir cerita di buku ini.

Terakhir, selamat membaca buku semuanya 🙂

 

Review buku lainnya:

  1. The Boy I Knew From YouTube Karya Suarcani
  2. Rempah Rindu Karya Gina Maftuhah Dkk
  3. Di Dalam Lembah Kehidupan Karya Buya Hamka
  4. Our Hope Karya Inesia Pratiwi
  5. The Architecture Of Love Karya Ika Natassa

7 thoughts on “Review Buku Confessions Karya Minato Kanae

  1. Febi

    Agustus 2, 2020 at 9:58 AM

    Baca ulasan buku ini gw jadi inget 2, buku yg pernah gw baca yaitu test pack & the jacatra secret..
    Buku test pack karena gaya penceritaan penulisnya yg berulang kali melakukan switching sudut pandang antara 2 tokoh utama..
    Buku the jacatra secret adalah buku thriller yg dr awal kita udah dikasih tahu siapa pelaku pembunuhannya..
    Pertama gw bingung knp dr awal udh dikasih tahu, ternyata yg mau penulis angkat adalah motif dan teori konspirasi yg melatarbelakangi setiap peristiwa2 bersejarah di dunia..

    Baca buku thriller emg asyik, apalagi disaat keinginan baca lg high bgt..hehe.
    Dan ada 2 macam thriller biasanya, yg pembunuhnya br diungkap blakang atau yg udh dikasih tahu dr awal..

    Btw, kl skrg suka thriller & suka teori konspirasi, gw rekomen buku the jacatra secret ya, tin 🙂

    1. Antin Aprianti

      Agustus 11, 2020 at 8:14 PM

      Penasaran juga sih sama The Jacatra Secret, harus nyari buku fisiknya dulu nih. Soalnya kalau buku tema berat-berat nggak sanggup baca ebook

  2. Rudi G. Aswan

    Agustus 3, 2020 at 11:06 AM

    Aku suka baca novel thriller, novel-novel penulis gaek seperti Sidney Sheldon dan Michael Crichton selalu asyik dinikmati. Tapi belum pernah baca buku thriller penulis populer Jepang. Kayaknya menarik nih Confessions, terutama sisi pembelaan kedua tertuduh, bakalan seru ungkap motifnya. Kayak spoiler ternyata enggak. Baru kemarin rampungin Origin punya Dan Brown yang lama dibaca, lumayan juga sih menghibur karena misterius gitu, walaupun ending-nya kurang nendang. Makasih info ulasan bukunya, Kak.

    1. Antin Aprianti

      Agustus 11, 2020 at 8:15 PM

      Menyerempet spoiler tapi dibuat menggantung kak hehe
      Baca Confessions juga deh kak, seru

  3. Tika Insani

    Agustus 10, 2020 at 9:38 AM

    Wah, dapet pasokan buku baru lagi nih. Apalagi saya suka banget buku thriller. Tapi, sepertinya bukunya cukup pusing ya… baru baca reviewnya saja sudah bingung hehe

    Terima kasih reviewnya mba 🙂

    1. Antin Aprianti

      Agustus 11, 2020 at 8:09 PM

      Bingungnya di bab satu aja kak, bab selanjutnya udah enak kok

  4. Fanny_dcatqueen

    Agustus 12, 2020 at 12:08 AM

    Waahh buku thriller dari dulu favoritku mba :D. Menariiiik niiih review bukunya. Baca cerita yg POV nya berbeda2 gini jarang aku temui. Ato malah blm pernah aku baca yaaa. Hrs inget2 dulu sih.

    Penulis Jepang itu memang baguuus kalo bikin novel. Aku sekali baca, ttg pembunuhan mutilasi. Ya ampuuun itu serius bikin mual detil2nya. Tp seru dan menarik banget. Judulnya OUT karya Matsui Kirino.

    Makanya aku jd kepengin LBH banyak baca buku2 novel thriller Jepang sih. Tp memang ga blm banyak nemuin. Tx reviewnya mba. Aku mau cari nih bukunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hay, nggak boleh ya !!