TRAVEL

Mengunjungi 5 Tempat Ibadah di Jakarta

Berkunjung dan mengetahui tentang agama lain yang berbeda dengan agama yang kita yakini bukan berarti menodai agama sendiri. Namun kita sedang belajar bertoleransi dengan keberagaman yang ada di Indonesia.

Bukankah di Indonesia ada 6 Agama yang diakui oleh pemerintah? lalu kenapa kita seolah hanya mengetahui agama yang kita yakini saja.

Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa teman memanfaatkan hari libur untuk belajar toleransi dengan mengunjungi 5 tempat ibadah yang ada di Jakarta. Kami mengunjungi tempat ibadah Umat Hindu, Masjid, Gereja dan Kuil.

1. Pura Aditya Jaya

Bukan hanya di Bali saja, ternyata tempat ibadah Umat Hindu juga ada di Jakarta. Pura Aditya Jaya Rawamangun namanya, konon pura ini merupakan pura terbesar dan terluas yang ada di Jakarta.

tempat ibadah pura aditya jaya rawamangun - umat hindu beribadah - diantin.com
Umat Hindu yang beribadah | Picture by Achmadi

Pura ini mulai dibangun di akhir 1970 dan diresmikan pada tanggal 12 Mei 1973. Peresmian pura ini dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Bapak Ir. Prayogo dan Ngeteg Linggih.

Berdasarkan letak geografisnya Pura Aditya Jaya berlokasi di Jakarta Timur, persisnya di Jalan Daksinapati Raya No. 10 Rawamangun Jakarta Timur. Untuk mencapai Pura dapat masuk dari Jalan Daksinapati Raya dan dari Jalan DI Penjaitan (by pass).

Jadi, untuk kalian yang ingin mengenal Budaya Umat Hindu nggak perlu jauh-jauh ke Bali. Kalian bisa mampir ke Pura Aditya Jaya Rawamangun dan berbincang dengan pemangku pura yang ada di sana.

Sebelum berkunjung ke Pura Aditya Jaya Rawamangun, kalian bisa membaca ulasan saya tentang pura ini dan Budaya Umat Hindu di tulisan Mengenal Budaya Umat Hindu di Pura Aditya Jaya Rawamangun.

Lokasi Pura Aditya Jaya Rawamangun

Jalan Daksinapati Raya No.10 11 14, RT.11/RW.14,

Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur,

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220

2. Masjid Ramlie Musofa

Hari semakin siang, cacing di perut pun mulai demo. Usai mengunjungi Pura Aditya Jaya Rawamangun, kami memutuskan langsung menuju tempat ibadah yang kedua yaitu Masjid Ramlie Musofa.

Kebetulan hari sudah siang dan beberapa di antara kami harus shalat zuhur. Jadi kami memutuskan untuk makan siang di sekitar Masjid Ramlie Musofa saja.

Sesampainya di Masjid Ramlie Musofa, kami makan siang terlebih dahulu di warung sate yang berada di samping masjid.

Perut sudah terisi dan cacing di perut sudah tenang, kami masuk ke area Masjid Ramlie Musofa. Yang muslim langsung melaksanakan shalat zuhur, yang beragama lain dan sedang berhalangan langsung berfoto-foto dan melihat keindahan masjid ini.

tempat ibadah - masjid ramlie mustofa - diantin.com
Masjid Ramlie Musofa tampak depan

Konon masjid ini dijuluki sebagai Taj Mahalnya Indonesia karena keindahan arsitektur dan ornamennya. Nuansa warna putih dan emas membuat bagunan masjid ini terlihat indah, saya yang pertama kali menginjakan kaki di masjid ini dibuat kagum.

Saya memang sedang berhalangan dan tidak bisa masuk ke dalam masjid, tapi kemegaham di dalam masjid ini sudah terlihat walaupun dari luar. Udara sejuk dan dingin di dalam masjid begitu terasa, saya yang hanya duduk di depan pintu masuk saja bisa merasakannya. Ah sayang sekali saya tidak bisa merasakan shalat di masjid ini, lain kali saya harus berkunjung lagi ke sini.

***

Oh ya berdasarkan berita yang beredar, masjid ini dibangun oleh mualaf keturunan Tionghoa yang bernama Ramli Rasidin. Sejak diresmikan pada tanggal 15 Mei 2016 masjid ini tidak pernah sepi pengunjung.

Selain digunakan untuk tempat ibadah, masjid ini juga mempunyai misi untuk membantu mualaf dari keturunan Tionghoa dalam belajar agama Islam. Makanya di lingkungan masjid banyak berhiaskan tulisan yang edukatif dalam tiga aksara yakni aksara latin, arab, dan mandarin. Misi yang mulia sekali ya.

Pantas saja banyak sekali tulisan-tulisan di dinding masjid ini, contohnya di sisi kanan dan kiri tangga terdapat tulisan terjemahan Surat Al-Fathihah dalam bahasa Indonesia dan Mandarin.

tempat ibadah - masjid ramlie mustofa - diantin.com

Lokasi Masjid Ramlie Musofa

Jalan Danau Sunter Raya Selatan Blok I / 10 No. 12C – 14A,

RT.13/RW.16, Sunter Agung, Tj. Priok, Kota Jkt Utara,

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14350

3. Hare Krishna Temple

Hari semakin sore, kami melanjutkan ke tempat ibadah yang ketiga Hare Krishna Temple. Kami sempat nyasar ke area rumah warga karena di antara kami belum pernah ada yang datang ke sini.

Ternyata tempatnya memang di pinggir jalan tapi dari jalan masih harus masuk, seperti gang gitu. Pertama kali melihat tempat ini sejujurnya saya sedikit nggak percaya kalau ini kuil, bukan bermaksud merendahkan tapi dari luar tempat ini lebih terlihat seperti rumah biasa. Jika tidak ada spanduk besar yang bertuliskan “Sri Nilacala Dhama, Hare Krishna Temple” mungkin saya tidak akan percaya jika ini sebuah kuil.

tempat ibadah - hare krishna temple - diantin.com
Penampakan Hare Krishna Temple

Tempat ini begitu sederhana, saya pun langsung naik ke lantai 2 karena teman-teman lain sudah sampai lebih dulu. Begitu menginjakan kaki di lantai 2, bau wewangian sangat menyengat.

Di lantai 2 ada sebuah ruangan kecil memanjang yang digunakan untuk pemujaan Krishna dan di sebelah kiri bangunan dibuka lebar dengan penampakan patung-patung khas hindi dan meja penyembahan.

Hanya sedikit informasi yang kami dapat di tempat ini tapi berdasarkan informasi di beberapa media, Hare Krishna ini berbeda dengan Hindu. Hare Krishna ini mempercayai Khrisna sebagai Tuhan yang memberikan nubuatan kepada Arjuna. Dalam peribadatannya para pengikut Hare Khrisna selalu melafalkan nyanyian pendek yang diiringi gendang musik.

***

Menurut beberapa informasi di internet, Perkumpulan Hare Krishna, atau yang secara internasional dikenal dengan nama ISKCON (International Society for Krishna Cons-ciousness/ Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional).

Perkumpulan ini melanjutkan sebuah tradisi spiritual purba yang mengakar pada Bhagavad-gita dan kitab-kitab Veda, kitab wahyu tertua yang dikenal umat manusia.

Kuil ini berada di bawah naungan Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional yang didirikan pada tahun 1966 oleh Srila AC Bhaktivendata Swami Prabhupada di Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri telah berkembang sejak tahun 1980an, dan pada tahun 2002 telah terbentuk organisasi dengan nama Sampradya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI) di bawah naungan Parisada Hindu Dhrama Indonesia.

Menurut pendeta di sini Sri Krishna merupakan personalitas tertinggi Tuhan di dunia, dan kitab Veda merupakan pengetahuan atau pelengkap alam semesta untuk seluruh manusia.

Ketika kami asik berbicara dengan pendeta yang ada di sini, tiba-tiba saja ada perempuan yang datang. Kami kurang tahu siapa tapi perempuan ini tidak suka kami datang secara tiba-tiba, katanya jika akan berkunjung seharusnya mengajukan proposal terlebih dahulu sebelumnya. Jadi kami bisa melihat langsung ketika mereka sedang beribadah.

Hal itu dilakukan karena ditakutkannya kami akan mengganggu yang akan beribadah. Cuma memang sangat disayangkan ketika kami ke sana tidak ada yang sedang beribadah, jadi kami tidak bisa melihat langsung cara mereka beribadah. Ibadah mereka juga ada waktunya, kalo nggak salah ada beberapa waktu tapi saya lupa tepatnya jam berapa saja.

Kami pun meminta maaf dan langsung melanjutkan ke tempat ibadah selanjutnya. Saran saya jika kalian akan berkunjung ke sini beramai-ramai, sebaiknya mengajukan proposal terlebih dahulu.

tempat ibadah - hare krishna temple 1 - diantin.com

Lokasi Hare Krisna Temple

Jl. Pasar Baru Selatan No.7F,

RT.1/RW.4, Ps. Baru, Sawah Besar,

Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

 4. Gereja Katedral

Dari Hare Krishna Temple ke Gereja Katedral cukup dekat, kami hanya perlu berjalan kaki beberapa kilo meter saja. Ya, tempat ibadah ke empat yang kami kunjungi adalah Gereja Katedral. Sudah lama sekali saya penasaran dengan bangunan gereja ini, dan akhirnya kesampaian juga.

Menurut www.katedraljakarta.or.id, Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta.

tempat ibadah - gereja katedral tampak luar - diantin.com
Penampakan Gereja Katedral

Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810. Pada 27 Juli 1826 gedung gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 gereja itu pun sempat roboh.

Batu “pertama” diletakkan dan diberkati pada tanggal 16 Januari 1899, sebagai tanda dimulainya lagi pembangunan gereja ini. Pada bulan November balok-balok atap di pasang. Pada tahun 2002 juga sempat dilakukan pembersihan dan pengecatan ulang pada dinding luar gedung gereja Katedral karena lumut banyak tumbuh merambat di dinding.

***

Karena lelah sudah berjalan kaki, kami pun duduk-duduk dan berfoto-foto di depan area gereja sambil menunggu beberapa teman yang sedang shalat asar.

Bangunan Gereja Katedral memang bagus, berfoto di sini serasa berada di Eropa. Bangunannya seperti di film-film disney, semakin nggak sabar untuk melihat ke dalam gerejanya.

tempat ibadah - dalam gereja katedral 1 - diantin.com
Pilar tinggi di dalam gereja | picture by Achmadi

Ketika sampai di pintu masuk gereja kami sempat ragu antara masuk atau nggak, takutnya dilarang masuk apalagi beberapa di antara kami ada yang menggunakan hijab. Ternyata kata salah satu teman kami tidak apa-apa, kami pun masuk.

Saat itu sedang ada beberapa orang yang beribadah, suasa di dalam begitu sepi dan tenang. Bahkan suara langkah kaki kami pun dibuat sepelan mungkin agar tidak mengganggu.

Di dalam gereja terdapat banyak kursi-kursi dan beberapa patung. Berada di dalam gereja ini membuat saya merasa sedang berada di pernikahan putri raja yang ada di cerita disney.

tempat ibadah - dalam gereja katedral - diantin.com
Picture by Achmadi

Saking tenang dan sepinya, setiap bergerak sedikit saja akan menimbulkan suara. Apakah bangunan ini memang sengaja dibuat begini? dibuat seperti gua, ada suara sedikit langsung menggema.

Tiba-tiba saja salah satu dari kami ada yang batuk beberapa kali, dan membuat beberapa orang yang sedang beribadah menoleh ke arah kami. Karena tidak enak dan takut mengganggu, kami pun keluar dan kembali duduk-duduk di depan gereja sambil menunggu waktu magrib. Sebagian masih ada yang berfoto-foto juga.

Lokasi Gereja Katedral

Jl. Katedral No.7B, Ps. Baru, Sawah Besar,

Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

5. Masjid Istiqlal

Waktu magrib sebentar lagi, sebagian dari kami lebih dulu ke Masjid Istiqlal untuk bersiap shalat magrib. Sebagian lagi ada yang mencari tempat foto ke Taman Banteng, saya dan beberapa teman lainnya memilih duduk di area masjid untuk menunggu mereka semua.

Masjid Istiqlal merupakan tempat ibadah terakhir yang kami kunjungi hari itu. Namun kami tidak banyak mengulik tentang masjid ini karena hari semakin malam, jadi kami hanya shalat magrib dan bersiap untuk mencari makan malam.

Berdasarkan beberapa informasi di media, Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal dibangun sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sepertinya saya harus balik lagi ke masjid ini untuk mengulik keindahan setiap sudut bangunanya, dan tentu saja merasakan atmosfer beribadah di sini.

Lokasi Masjid Istiqlal

Jl. Taman Wijaya Kusuma, Ps. Baru, Sawah Besar,

Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

***

Perjalanan kali ini telah usai, kami tutup dengan makan malam bersama di Rumah Makan Ibu Ida.

Banyak sekali pelajaran yang kami ambil hari ini, termasuk belajar menghargai keberagaman agama yang ada di Indonesia. Semoga Indonesia tetap damai dengan keunikan dan keberagamannya 🙂

Nah, untuk kalian yang sibuk dan hanya punya waktu libur yang singkat tapi bosan di rumah. Kalian bisa belajar bertoleransi dengan mengunjungi tempat-tempat ibadah yang ada di Jakarta. Dengan begitu kita akan saling menghargai sesama umat beragama, walaupun berbeda tapi tetap Bhineka Tunggal Ika.

Salam,

Antin Aprianti

35 thoughts on “Mengunjungi 5 Tempat Ibadah di Jakarta

  1. 1. Dik Antin, No. 2 itu Masjid Ramlie Mustofa atau Musofa?
    2. Dik Antin, No. 4 itu kok Katerdral?

    3. Jadi di Pura Aditya Jaya dan di Masjid Ramlie Musofa, gak bisa masuk karena berhalangan ya? Saya mau ketawa kok takut dosa… wkwkwk

  2. Dalam sehari, mengunjungi 5 tempat ibadah sekaligus, salut atuh
    Semoga membangkitkan toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan yang nyata di depan mata kita ya Kak. Dan semoga ada trip serupa lagi dan saya bisa ikut, merasakan langsung nuansa perbedaan dengan bijak.

  3. Waahhh estafet banget yaa ka lumayan juga perjalanan dari timur ke utara trus lanjut ke pusat. Btw Itu bisa masuk ke gereja katerdal ka utk yg muslim? Trus bagaimana dengan muslim yang berhijab apa bisa juga masuk gereja ka?

  4. iya nih kak Antin.. ide bagus buat perjalanan unik selanjutnya. Apalagi memang tinggal di ibu kota itu banyak sekali hal yang harus ditoleransikan. banyak deretan rumah yang non muslim, tapi tetap menjaga persaudaraan satu sama lain.

  5. Kalo baca cerita ini gue patah hati lagi karena gabisa ikutan. Yang paling pengen si ke pura dulu jaman di Surabaya rumahku deket sama pura. Suka penasaran pengen masuk tapi takut. Hahah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *