TRAVEL

Keseruan Outing Kantor ke Pulau Harapan

Posted on

Outing kantor adalah momen yang paling dinantikan oleh setiap karyawan. Ya tentu saja, kapan lagi bisa jalan-jalan gratis dengan fasilitas yang baik. Itu juga yang saya rasakan ketika kantor mengadakan outing ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu.

Rasanya excited, apalagi ini kali pertamanya saya berkunjung ke Pulau Harapan. Saking excited-nya, beberapa hari sebelum keberangkatan sudah sibuk menyiapkan ini dan itu.

Jadi bagaimana keseruan saya dan teman-teman kantor selama outing? yuk ikuti keseruannya dalam tulisan ini 😀

Drama di Hari Keberangkatan

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. 13 Januari 2014 saya dan semua teman kantor siap berangkat outing ke Pulau Harapan.

Untuk berangkat ke Pulau Harapan kami harus berkumpul di kantor terlebih dahulu, sebelum lanjut ke Muara Angke. Karena kapal penyebrangan ke Pulau Harapan adanya pagi, maka kami diharuskan sampai di Muara Angke sekitar jam tujuh pagi.

Semua persiapan sudah disiapkan dari hari sebelumnya, saya pun bangun subuh-subuh dan bersiap-siap. Tiba-tiba ada telepon masuk dari salah satu teman.

“Tin rumah loe banjir nggak?”

“Nggak kok, aman. Ini sudah rapih tinggal jalan aja” jawab saya.

“Rumah gue banjir dan nggak bisa lewat, kayanya Pak I dan Pak R juga rumahnya banjir dan nggak bisa lewat juga”

“Terus gimana dong? ini aku jalan atau nggak? soalnya sudah pesan ke tukang ojek deket rumah biar anterin ke kantor”, jawab saya.

“Kayanya kita nggak jadi pergi sekarang, minta diundur saja ke pihak travelnya kan ini Force majeure”

Setelah mendapat telepon seperti itu saya pun bingung antara jalan atau nggak, terus saya menelepon teman yang lain dan katanya ke kantos saja dulu soalnya beberapa teman lain sudah jalan. Nggak mungkin juga membatalkan ke pihak travel.

Pukul 04:40 pagi, ditemani rintik hujan saya berangkat ke kantor. Ketika sampai kantor sudah ada tiga orang yang datang. Kami pun menunggu yang lain.

Drama hari keberangkatan belum usai, sampai pukul enam pagi masih ada beberapa orang yang belum datang juga. Padahal seharusnya kami sudah berangkat ke Muara Angke. Hal tersebut membuat kami panik takut macet dan ketinggalan kapal.

Pukul tujuh pagi kami baru berangkat ke Muara Angke. Dan benar saja ketakutan kami tadi, jalanan Jakarta pagi itu lumayan ramai dan beberapa titik macet karena beberapa ruas jalan tergenang banjir.

Di situ kami mulai panik karena sudah hampir pukul delapan, padahal harusnya kami sudah sampai di Muara Angke.

Perjalanan ke Pulau Harapan

Kami memang kejar-kejaran dengan waktu, tapi Alhamdulillah sampai di Muara Angke kapalnya belum berangkat. Pak Aris, tour guide yang akan menemani selama di Pulau Harapan sudah tiba di lokasi dan langsung menyambut kami.

Kami dibawanya langsung naik ke kapal. Tak sesuai dengan dugaan saya, ternyata kapal yang akan membawa kami ini kurang dari kata layak. Tak ada tempat duduknya, jadi semua penumpang duduk lesehan dengan kapasitas untuk 50 orang.

Karena kami datang terlambat, kondisi di dalam sudah penuh jadi kami tak bisa memilih tempat yang nyaman. Asalkan bisa duduk saya sudah alhamdulillah.

Pukul 08:15 kapal mulai jalan ditemani rintik hujan. Kami pun mengabadikan momen dengan berfoto-foto.

Awal perjalanan semua masih baik-baik saja, tapi setelah setengah perjalanan hujan semakin lebat dan ombak mengguncang kapal cukup keras. Kami terombang-ambing ke kanan dan ke kiri, bahkan air laut masuk ke dalam kapal.

Saya dan teman saya yang tak terbiasa dengan guncangan seketika mual dan muntah. Kami mabok laut, kondisi guncangan yang kencang dan posisi duduk yang kurang nyaman menjadi penyebabnya. Sungguh kejadian itu memalukan sekali.

Perjalanan tiga jam dengan kondisi seperti ini sungguh terasa lama sekali. Kami mencoba tidur agar tidak muntah lagi.

Tiba di Pulau Harapan

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya kami sampai di dermaga Pulau Harapan. Oh ya karena kondisi yang kurang baik, perjalanan yang seharusnya tiga jam, ternyata lebih dari tiga jam.

Kami sampai dengan kondisi cape dan lapar. Namun excited dengan pemandangan yang kami lihat. Hamparan air laut berwarna biru yang tenang dan damai.

Pak Aris menunjukan home stay yang akan kami tempati. Rumahnya cukup besar dan nyaman, sayangnya hanya ada satu kamar mandi saja.

Makan siang sudah disiapkan, kami menyimpan barang-barang di kamar masing-masing dan langsung makan. Pak Aris pun menjelaskan jadwal kami hari itu.

Snorking di Pulau Sepa dan Pulau Putri

Selesai makan kami bergegas berganti pakaian dan bersiap untuk snorking ke Pulau Sepa dan Pulau Putri. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke sana, dengan menggunakan kapal kecil.

Tujuan pertama kami adalah Pulau Putri. Di sini kedalaman lautnya masih belum terlalu dalam, katanya ini spot snorkeling untuk pemula.

Saya yang tak bisa berenang tentu saja takut-takut untuk nyebur. Ya walaupun sudah menggunakan pelampun tapi tetap saja takut. Teman-teman lain membujuk dan menjelaskan tidak akan kenapa-kenapa, dan mereka akan membantu saya.

Saya pun memberanikan diri turun dari kapal. Awalnya hanya berdiri di pinggiran samping kapal, kemudian berani aga menjauh tapi dituntung oleh teman. Memberanikan diri memasukan kepala ke dalam air dan melihat keindahan pemandangan biota laut. Sungguh momen yang tak terlupakan untuk saya.

Cukup lama di Pulau Putri, kami lanjut ke Pulau Sepa. Di Pulau Sepa lebih banyak karang dan lebih dangkal dari Pulau Putri. Di pulau ini pula kami bisa foto underwater dan mulai menikmati snorking.

Hari semakin sore, kami mampir ke Pulau Perak untuk bersantai di pinggir pantai sambil bermain pasir. Di sini sangat sepi dan tak ada penghuninya, hanya ada satu warung kecil. Namun, pasir di Pulau Perak masih sangat bersih dan belum banyak sampah. Jadi kalau mau main pasir, di tempat yang pas.

Semakin sore ombak semakin nggak tenang. Kami harus segera kembali ke penginapan. Tiba di penginapan kami berebut kamar mandi yang hanya ada satu ini.

Kemudian malamnya kami bersantai, mengobrol sambil menonton televisi. Makan malam datang dan kami bersantap bersama. Pak Aris juga mengajak kami ke penginapan dengan pemandangan langsung ke pantai, sayangnya kalau malam tak terlihat jelas. Andai saat sunrise atau sunset, pasti keren sekali pemadangannya.

Malam itu masih hujan, kami kembali ke penginapan. Ada yang lanjut mengobrol sambil menunggu waktu untuk bakar-bakar ikan, ada yang beristirahat. Saya sendiri istirahat di kamar sampai tertidur saking capenya.

Hari Kedua di Pulau Harapan

14 Januari 2014, saya terbangun karena mendengar ada yang mengobrol. Dilihat jam ternyata sudah subuh, saya pun bangun dan salat subuh.

Pagi-pagi perut sudah lapar, sambil menunggu yang lain saya makan pop mie. Rencananya pagi ini ingin melihat sunrise, tapi sayang cuaca tak mendukung.

Pukul delapan pagi menu sarapan sudah datang, nasi goreng telur ditambah kerupuk. Kemudian datang Pak Aris yang mau mengajak kami berkeliling di sekitar Pulau Harapan.

Di Pulau Harapan ini ramai, kawasan rumah padat penduduk. Banyak juga rumah-rumah di sini yang disewakan sebagai penginapan.

Sepanjang jalan kami disuguhkan pemandangan yang indah dan suasana yang tenang. Hamparan air laut dengan gradasi warna yang indah, serta ikan-ikan kecil yang terlihat di ujung-ujung pantai. Kami sungguh menikmati momen pagi ini dengan sesekali duduk sejenak, lalu berfoto.

Kami berjalan cukup jauh sampai tak terasa sudah tiba di perbatasan Pulau Harapan dan Pulau Kelapa. Perbatasan kedua pulau ini hanya dibatasi oleh gapura berwarna putih yang sudah terlihat aga usang.

Sambil berjalan Pak Aris bercerita tentang pulau ini. Saya sempat penasaran apakah di sini ada kuburan, dan ternyata ada lho. Katanya yang nggak ada di sini tuh penjara, kalau ada maling langsung aja ditenggelamin ke laut *hahaha becanda ya.

Kami sampai di sebuah tempat yang katanya dulu menjadi balai desa di sekitar situ. Di sini saya bisa melihat dengan jelas ikan-ikan kecil bergerombol, bahkan pulau kecil di sekitaran pulau ini terlihat. Namun sangat disayangkan, di tempat seindah ini saya tak melihat adanya tempat sampah.

Sebelum kembali ke penginapan, kami sempat mampir melihat dermaga Pulau Kelapa. Kami tak lama di sini karena harus bergegas untuk kembali ke Jakarta.

Liburan Selesai, Saatnya Kembali Pulang

Pukul sebelas siang kami harus berkumpul di dermaga. Sebelum pulang tak lupa kami membeli oleh-oleh khas Pulau Harapan, kerupuk ikan hasil olahan penduduk sekitar. Harga kerupuknya satu plastik Rp.7.000 saja.

Sebenarnya kami membeli paket travel ke sini untuk 13 orang, tapi karena satu dan lain hal yang jadi berangkat hanya 9 orang saja. Karena uangnya nggak bisa balik, Pak Aris memberikan bonus dengan membelikan oleh-oleh tambahan untuk kami semua.

Belajar dari kejadian saat berangkat, sebelum pulang saya minum antimo untuk antisipasi. Kami diberikan karcis untuk naik ke kapal, dan dibekali makan siang.

Saat pulang kami memilih tempat di atas, katanya kalau di atas guncangannya nggak terlalu terasa dan enaknya bisa melihat pemandangan sekitar.

Ntahlah saat pulang ini saya tak begitu terkesan, karena setelah kapal melaju tak berapa lama saya ketiduran dan baru terbangun ketika mau sampai Muara Angke. Mungkin efek minum antimo, padahal saya ingin sekali melihat pemandangan sekitar Pulau Seribu.

Bangun tidur saya langsung makan bekal yang tadi dikasih, isinya nasi dengan ikan bumbu kuning serta tumisan dan kerupuk. Menu sederhana yang terasa enak dan nikmat sekali, ikannya benar-benar segar dan tak terasa amis sama sekali. Dalam sekejap makanan tersebut sudah pindah ke dalam perut.

Ketika melihat sekitar, saya melihat Pulau Untung Jawa dan Pulau Onrush, serta pulau-pulau kecil lainnya.

Semakin mendekati Muara Angke, kondisi air lautnya sudah tak jernih lagi. Kotor, banyak sampah, dan warna airnya kecoklatan. Belum lagi bau amis yang mulai tercium.

Sampai di Muara Angke kami menunggu jemputan sambil mencicipi otak-otak di langganan Pak Aris. Otak-otaknya enak sekali, ikannya benar-benar terasa.

Karena yang jemput maish belum datang juga, kami lanjut menunggu di kedai seafood dan memesan kerang rebus untuk camilan.

Jemputan datang kami bergegas, rasanya sudah lelah sekali. Ingin cepat-cepat sampai rumah dan beristirahat.

Pengalaman yang Berkesan

Saya percaya setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan, termasuk outing kantor kali ini. Di balik banyaknya drama mulai dari hujan terus, bahkan sampai beberapa orang gagal ikut karena banjir, sampai drama takut ketinggalan kapal.

Namun, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan kali ini. Tentang kerja sama dan solidaritas, bagaimana teman-teman lain membantu saya yang tak bisa berenang agar berani snorkeling. Sungguh saya terharu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hay, nggak boleh ya !!