TRAVEL

5 Tempat Bersejarah di Sekitar Salemba dan Kramat Raya

Jalan Salemba dan Kramat Raya merupakah salah satu sudut Kota Jakarta yang terdapat banyak tempat bersejarah. Namun sayangnya saya sendiri belum pernah mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar jalan tersebut.

Sampai suatu hari Klub Blogger dan Buku Backpacker Jakarta membuat acara Tour BOB (Based On Book/Blog) untuk memperingati Hari Pahlawan. Ketika saya tahu tujuan Tour BOB tersebut, tanpa ragu saya langsung mendaftar untuk ikut acara tersebut.

Hari yang di nanti pun tiba, saya bersiap menuju meeting point. Agendanya, hari ini kami akan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sekitar Jalan Salemba dan Kramat Raya. Tour BOB kali ini akan dipandu oleh Mas Wahyu Prabowo dan Mas Yoga Prakoso, dengan tema yang diusung “The Secret Of The Indonesia Youth Vow”.

Penasaran dengan tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar Jalan Salemba dan Kramat Raya juga? Yuk dibaca sampai bawah.

1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)

Tempat bersejarah yang kami kunjungi pertama kali adalah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Tempat ini juga menjadi meeting point untuk semua peserta Tour BOB.

Sekitar pukul delapan pagi saya dan sebagian peserta Tour BOB sudah berkumpul. Ada yang sarapan somay terlebih dahulu, ada juga yang nyemil kue putu ayu yang dibawa Kak Yun. Sudah menjadi rahasia umum, di setiap acara Kubbu Kak Yun selalu membawa putu ayu. Di mana ada Kak Yun di situ ada Putu Ayu 😀

Hampir semua peserta sudah berkumpul, Mas Wahyu dan Mas Yoga memandu kami untuk masuk ke area FKUI. Selama menyusuri bangunan FKUI, kami akan dipandu oleh Mas Adhi. Mas Adhi adalah salah satu pegawai di FKUI, dan siapa sangka jika dulunya Mas Adhi ini merupakan anggota KUBBU juga loh. Namun sayangnya sekarang sudah nggak lagi karena tuntutan pekerjaannya.

Sebelum menyusuri setiap sudut bangunan FKUI, Mas Adhi memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit tentang sejarah awal gedung FKUI. Menurut Mas Adhi, sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tidak terlepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda.

Dulunya, gedung ini dibangun untuk Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau yang lebih dikenal dengan pendidikan STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen). Gedung dengan dominasi cat berwarna putih ini resmi digunakan pada tanggal 5 Juli 1920 dengan upacara megah dan dihadiri oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Menyusuri Setiap Sudut Gedung FKUI

Selesai menjelaskan sejarah singkat FKUI, Mas Adhi memandu kami untuk melihat-lihat setiap sudut gedung ini. Beruntungnya saya bisa ikut acara ini, kalo bukan ikut Tour BOB mana mungkin saya bisa masuk dan menyusuri setiap sudut gedung ini.

Di depan gedung ini terdapat patung Prof dr. Abdul Rahman Saleh. Kenapa patung Prof dr. Abdul Rahman Saleh? karena beliau merupakan seorang tokoh 3 institusi yaitu Fakultas Kedokteran UI, Angkatan Udara dan pendiri radio republik indonesia (RRI).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Begitu masuk ke dalam gedung FKUI, saya melihat tulisan-tulisan yang terpajang di dinding. Suasana sejuk dan damai begitu terasa, ntah karena hanya kami yang ada di ruangan ini atau memang tempat ini begitu damai.

Banyaknya pilar-pilar di dalam gedung ini membuat nuansa sejarah begitu terasa, belum lagi penggunaan pintu-pintu kayu yang menjulang tinggi.

Selesai melihat-lihat di lantai dasar, kami diajak ke lantai dua dengan menaiki tangga. Tangga ini menghubungkan gedung lama dengan gedung baru. Selain itu, tangga ini juga sering disebut tangga Era Kekunoan dan Kekinian. Kata Mas Adhi filosofinya menyatukan masa lalu dan masa depan.

Sungguh disayangkan saat itu gedung IMERI (Indonesian Medical Education and Research Institute) tutup, jadi kami tidak bisa melihat-lihat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, kami melakukan tanya jawab dengan Mas Adhi sambil duduk santai di depan gedung IMERI.

2. Museum MH. Thamrin

Setelah berkeliling dan berfoto bersama di FKUI, kami pamit dengan Mas Adhi dan melanjutkan  ke tempat bersejarah selanjutnya yaitu Museum MH. Thamrin. Untuk menuju Museum MH. Thamrin kami hanya perlu berjalan kaki menyusuri Jalan Raya Salemba, kemudian belok ke area perkampungan di Jalan Kenari II.

tempat bersejarah - museum mh thamrin - Diantin.com
Museum MH. Thamrin

Tidak perlu memakan waktu lama kami sudah sampai di depan Museum MH. Thamrin, dari depan museum ini terlihat sangat sepi. Sepertinya tidak ada pengunjung lain yang datang ke sini, hanya ada anak-anak dari warga kampung sekitar yang bermain di dekat patung MH. Thamrin.

Ketika sampai kami tidak bisa langsung masuk ke dalam museum, karena pemandu museum sedang tidak ada di tempat. Jadi satpam di depan menyuruh kami menunggu terlebih dahulu di area museum.

Setelah menunggu beberapa saat, kami dipersilahkan masuk dan diperkenalkan dengan bapak pemandu museum yang saya juga lupa namanya. Sebelum berkeliling, bapak pemandu menjelaskan sejarah singkat tentang Museum MH. Thamrin.

Awalnya, gedung ini didirikan pada awal abad ke 20 oleh orang Belanda. Gedung ini digunakan sebagai tempat pemotongan hewan dan tempat penyimpanan buah-buahan dari Australia dan Eropa. Kemudian MH. Thamrin membeli gedung ini untuk kegiatan organisasi partai politik, bahkan beberapa partai politik mendeklarasikan dan musyawarah untuk pengusulan kemerdekaan Republik Indonesia di gedung ini.

Selesai bercerita, kami diajak berkeliling melihat koleksi yang ada di museum ini. Di museum ini terdapat banyak koleksi foto, lukisan, poster, diorama, memorabilia, dan patung tokoh pejuang. Selain itu di museum ini juga terdapat kursi, lemari, kereta kencana, biola dan lain-lain.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di museum ini juga terdapat fasilitas ruang pameran, ruang pertemuan, bioskop, perpustakaan, ruang parkir dan free WI-FI. Karena terdapat ruang bioskop, maka setelah berkeliling kami diajak untuk melihat film pendek tentang Museum MH. Thamrin.

***

Selesai menonton film, seperti biasa KUBBU melakukan tanya jawab dengan Bapak Pemandu Museum. Kemudian berpamitan karena harus melajutnya ke tujuan selanjutnya. Ketika akan pulang, kami diberikan brosur dan CD tentang Museum MH. Thamrin. Dengan tiket masuk yang sangat murah, saya tidak menyangka jika pulangnya masih diberi oleh-oleh CD.

Ada hal yang membuat sedih ketika berkunjung ke museum ini, Bapak Pemandu Museum bilang mohon bantu untuk mempromosikan museum ini agar banyak orang tahu tentang Musem MH. Thamrin. Memang sungguh miris, museum ini sangat sepi. Sampai kami selesai berkeliling pun tidak ada satupun pengunjung lain yang datang ke sini.

Bapak Pemandu Museum bilang jalan di sini buntu, jadi kebanyakan orang enggan untuk datang ke sini. Makanya Bapak dan pengurus museum berharap pemerintah DKI akan membuatkan jalan agar banyak orang yang berkunjung ke museum ini.

Ntah memang karena jalan ini buntu atau karena museum ini berada di dalam perkampungan yang membuat orang-orang enggan untuk datang ke sini. Saya berharap memang karena itu, bukan karena orang-orang sudah tidak tertarik lagi dengan tempat bersejarah seperti museum.

Museum MH. Thamrin

Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat.

Telepon: 021-3909148

Fax: 021-3923185

Email: museum_thamrin@yahoo.com

Twitter: @museumthamrin

Waktu Buka

Selasa – Minggu : 09.00-15.00 WIB

Sabtu : 09.00-13.00 WIB

Senin Tutup

Tiket Masuk

Dewasa/ umum                            Rp. 5.000/orang

Rombongan Dewasa/ umum       Rp. 3.750/orang

Mahasiswa                                    Rp. 3.000/orang

Rombongan Mahasiswa               Rp. 2.250/orang

Anak-anak/ pelajar                       Rp. 2.000/orang

Rombongan anak-anak/ pelajar  Rp. 1.500/orang

3. Stasiun Salemba

Dulu tidak jauh dari Museum MH. Thamrin terdapat stasiun, Stasiun Salemba. Sayangnya stasiun itu sudah ditutup dan saat ini menjadi permukiman warga. Karena tempatnya tidak terlalu jauh, Mas Wahyu dan Mas Yoga mengajak kami untuk melihat sisa-sisa dari rel kereta api Stasiun Salemba.

Menurut wikipedia, Stasiun Salemba (SLB) merupakan stasiun kereta api non-aktif yang berada di Kenari, Senen, Jakarta Pusat. Stasiun ini termasuk ke dalam Daerah Operasi I Jakarta. Operator jalur kereta api Batavia–Buitenzorg adalah perusahaan kereta api Hindia Belanda Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pada tahun 1913, NIS menjual jalur kereta api ini kepada perusahaan kereta api Hindia Belanda Staatsspoorwegen Westerlijnen (SS-WL).

Stasiun ini mulanya merupakan stasiun sentral yang memiliki banyak percabangan. Ada yang ke arah Tanah Abang, Pegangsaan, Cikini Lama, Kramat, dan Kramat Sentiong. Jalur kereta api yang mengarah ke Tanahabang resmi ditutup pada tahun 1922 seiring dibangunnya jalur Tanah Abang–Manggarai serta ditetapkannya Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral Batavia pada masa itu.

Letak stasiun yang dahulunya berdekatan dengan pabrik opium menjadikan stasiun ini merupakan titik awal perjalanan kereta api pengangkut bahan baku opium yang terletak tak jauh dari stasiun ini. Pabrik opium tersebut kini menjadi bagian dari kampus Pascasarjana Universitas Indonesia Salemba. Pada tanggal 2 September 1981, PJKA Inspeksi Jakarta resmi menutup stasiun ini beserta jalur dan seluruh layanannya.

Saat ini Stasiun Salemba sudah dibongkar dan dibangun menjadi rumah tinggal. Namun jika kalian menyusuri perkampungan di sekitar sini, kalian masih bisa melihat sedikit sisa bekas rel kereta api di jalur ini.

tempat bersejarah - Diantin.com
Jembatan sisa stasiun salemba

Di area ini kami dapat melihat jembatan penyebrangan pejalan kaki yang menghubungkan Jalan Kenari dengan Jalan Cikini, kondisi jembatan ini sangat tidak terawat. Padahal dulunya jembatan ini merupakan jembatan kereta api penghubung Stasiun Salemba dengan Stasiun Cikini. Oh ya ada yang pernah nonton film Get Married? masih ingat jembatan yang dilewati Mae? nah inilah jembatannya.

4. Panti Asuhan Vincentius Putra

Setelah melihat sisa-sisa rel kereta api Stasiun Salemba, kami melanjutkan perjalanan ke tempat bersejarah lainnya dengan berjalan kaki. Panti Asuhan Vincentius Putra adalah tempat ke empat yang akan kami kunjungi. Panti asuhan ini berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 134 Jakarta. Panti ini merupakan panti asuhan katolik pertama yang didirikan oleh Belanda.

Di Jalan Salemba dan Kramat Raya selain menyimpan banyak tempat bersejarah, jalan ini juga dikenal dengan gedung-gedung tempat sekretariat partai di masa lalu. Maka tak salah, ketika berjalan kaki kami melalui Kantor Pusat NU (PBNU) dan di seberang jalan terlihat juga gedung kosong yang konon katanya gedung itu bekas Kantor Biro PKI di awal tahun 60-an.

tempat bersejarah - gedung kosong bekas pki - diantin.com
Gedung Peninggalan PKI

Begitu sampai di depan panti asuhan tersebut, kami harus menunggu beberapa saat karena di dalam sedang ada tamu dan orang yang sudah janji dengan kami ternyata sudah pulang karena kami datang terlambat.

Kira-kira 10 menit kami menunggu, ada Mbak yang saya lupa namanya pengurus panti menyambut kami dan mengajak kami berkeliling panti.

Berdasarkan informasi di website Vincentius, Perhimpunan Vincentius Jakarta didirikan pada tanggal 29 Agustus 1855 dengan nama Dana Bantuan Santo Vincentius a Paulo di Batavia. Kemudian pada tahun 1909 diubah menjadi Batavia’s Vereeniging oleh beberapa orang Katolik.

Saat itu, tujuan utama Perhimpunan Vincentius adalah membantu anak-anak keturunan Belanda (Indo-Eropa) yang menjadi masalah sosial di masyarakat. Usaha sosial ini awalnya lebih bersifat home-care, karena Perhimpunan Vincentius Jakarta belum memiliki rumah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saat ini ada sekitar 140 anak SD sampai SMA dari banyak daerah yang tinggal di sini. Banyak alumni-alumni belanda yang menjadi donatur untuk panti asuhan ini, bahkan sempat ada Kakek yang mengajak cucunya ke sini untuk napak tilas.

Kami tidak lama di sini, hanya berkeliling melihat-lihat ruangan yang ada di panti kemudian berpamitan karena masih ada satu tujuan lagi.

5. Museum Sumpah Pemuda

Perjalanan kali ini belum selesai, kami masih harus mengunjungi satu tempat terakhir. Lagi-lagi kami berjalan kaki menyusuri Jalan Kramat Raya. Namun kali ini kami harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke tempat bersejarah berikutnya yaitu Museum Sumpah Pemuda.

tempat bersejarah - museum sumpah pemuda - diantin.com
Pilih kanan atau kiri? haha

Di depan Museum Sumpah Pemuda terdapat dua patung M. Rochjani Soe’Oed (Pemoeda Kaoem Betawi) dan J. Leimena (Seorang dokter kelahiran Ambon yang terlibat aktif dalam Sumpah Pemuda 1928). Kemudian ketika masuk ke dalam museum kami disambut dengan lagu-lagu kebangsaan yang terdengar di setiap sudut ruangan. Di museum ini kami tidak dipandu, hanya Mas Wahyu dan Mas Yoga saja yang menjelaskan berdasarkan informasi yang terdapat di dinding-dinding museum.

Menurut wikipedia, Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kramat Raya dan dikelola oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Museum ini memiliki koleksi foto dan benda-benda yang berhubungan dengan sejarah Sumpah Pemuda 1928, serta kegiatan-kegiatan dalam pergerakan nasional kepemudaan Indonesia. Museum Sumpah Pemuda ini didirikan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1972 dan menjadi benda cagar budaya nasional.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selesai berkeliling Museum Sumpah Pemuda semua peserta Tour BOB berkumpul di area belakang museum. Panitia mengajukan beberapa pertanyaan untuk peserta yang sudah mengikuti Tour BOB hari ini dan memberikan beberapa hadiah untuk yang bisa menjawab.

Tour hari ini pun berakhir di sini, diakhiri dengan berfoto bersama sebelum kembali pulang.

Museum Sumpah Pemuda

Jl. Kramat Raya No. 106, Jakarta 10420

Telepon: 021-3103217, 3154546

Email: museumsumpahpemuda@yahoo.com

TwitterL @m_sumpahpemuda

Facebook: www.facebook.com/museumsumpahpemuda

Waktu Buka

Selasa – Kamis : 08.00 – 16.00 WIB

Sabtu – Minggu : 08.00 – 16.00 WIB

Jumat : 08.00 – 16.30 WIB

Senin dan Hari Besar Tutup

Tiket Masuk

Dewasa perorangan       Rp. 2.000/orang

Dewasa rombongan       Rp. 1.000/orang

Anak-anak perorangan   Rp. 1.000/orang

Anak-anak rombongan   Rp. 500/orang

Foreign tourist                Rp. 10.000/orang

***

Membahas tempat bersejarah memang tidak pernah ada habisnya, saking banyaknya tempat-tempat bersejarah di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh ke daerah lain untuk mengetahui sejarah, kalian bisa menjelajah setiap sudut kota Jakarta yang menyimpan begitu banyak cerita tentang sejarah.

“Jangan hanya main ke mall atau wisata alam yang jauh, tapi kunjungi juga tempat bersejarah yang ada di sekitar kalian”

Dari kelima tempat di atas, mana yang pernah kalian kunjungi?

Untuk yang belum pernah mengunjungi tempat bersejarah di atas, yuk main ke museum dan tempat bersejarah lainnya. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan sejarah.

Ayo main ke museum dan tempat-tempat bersejarah lainnya 🙂 – Antin Aprianti

87 thoughts on “5 Tempat Bersejarah di Sekitar Salemba dan Kramat Raya

  1. Sudah hampir setahun kerja dan tinggal di daerah salemba tapi aku gak tau ada tempat-tempat bersejarah di daerah ini. Jadi bisa melipir menghabiskan waktu senggang nih. thanks ya ka infonya

  2. Tempat bersejarah seperti ini memang sangat perlu dilestarikan. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau harapannya dapat dikunjungi oleh banyak orang. Jakarta adalah IbuKota tercinta. Thanks for sharing. InsyaAlloh kami akan explore tempat bersejarah ini. Bagus sekali.

    1. Memang betul mbak, tiket sudah murah saja yang datang masih sedikit 🙁 harapannya sih kedepannya banyak yang mengunjungi tempat-tempat ini, kalau bukan kita siapa lagi yang mau melestarikannya.

  3. Tour BOB ini koq model2nya kaya trip semu ya. Hhhmmm…
    Mungkin kubbu butuh penyegaran trip2 yg tidak bukan hanya berhubungan dengan sejarah dan museum, tapi bisa dijadiin bahan nulis blog..

  4. Sebenernya museum jumlahnya banyak ya.. tetapi penggemarnya memang cenderung sedikit karena cenderung membosankan bagi sebagian orang, tetapi kalau dikemas dengan tour guide yang aktif bisa jadi nilai tambah.

  5. Wah banyak sejarahnya! Kok jadi penasaran sama Stasiun Salemba yaa gua, Ntin.

    Thank you loh sharing-nya, jadi tau nih kalau di Salemba banyak tempat-tempat sejarah gini.

  6. Aih jadi flashback tour BOB kubbu, seru si dari FKUI jalan ke Museum MH.Tamrin jalan lagi Ke Panti Asuhan & Museum Sumpah Pemuda wkwk. Dan waktu itu belom kenal semua anak kubbu hahahaha.

  7. Alhamdulillah, aku termasuk salah satu peserta BOB. Salah satu kegiatan positif dari KUBU, banyak pengetahuan yang kita dapat disini. Membuat kita makin melek sejarah.
    Terima kasih KUBU

  8. Sayang banget aku waktu itu gak bisa ikutan trip ini. Seneng banget bisa lihat2 museum di Jakarta. Penasaran ih sama Stasiun Salemba. Jadi mbayangin asiknya kalo ada jembatan penghubung antara Stasiun Salemba dan Cikini. FKUI-nya juga menarik banget. Semoga kapan2 ada trip kayak gini lagi.

  9. Paling sedih pas kita ke bekas stasoun Salemba ya, sedih pas tau bangunan zaman kolonial yang pastinya keren arsitekturnya diklaim jadi rumah penduduk, sayang banget itu tembok2 berukir yang cantik. Semoga pemerintah bisa lebih merawat peninggalan masa lampau

  10. Wah ternyata di tengah kota Jakarta banyak peninggalan sejarah masa lalu yg masih awet ya. Makasih ibfonya mbak. Kebetulan pas 17an nih pengen jg napak tilas keliling Jakarta. Maklum udah 7 tahun di sini blm sempat jelajah Jakarta.

  11. Antin kamu kok gitu sih banyak melupakan orang2..
    Kamu gak lupa ama aku kan?
    Hahah
    Mungkin harusnya museum MH thamrin harus di perbaiki kali ya di bikin lebih atraktif.. jadi orang lebih tertarik gitu buat kesana.. tapi ku ingin ke stasiun nya.. haha

  12. Hi Kak Antin, alhamdulillah saya sudah mengunjungi 5 tempat bersejarah di sekitar Salemba dan Kramat Jaya tsb. walau dalam beberapa kali trip. Tapi ada yang kurang, karena ndak bareng kak Antin kesananya dan hanya menyimak yang guide sampaikan. Semakin jelas setelah membaca tulisan Kak Antin. Makasih kakak untuk tulisan informatifnya.

  13. Kebayang serunya Tour Base on Book KUBBU buat jelajah Jakarta menjelang Sumpah Pemuda waktu itu…sayang, aku juga ga bisa ikutan. Terima kasih ulasannya, Antin.

  14. Suer baru tahu daerah situ seru-seru juga tempatnya. Selama ini cuma lewat-lewat aja.. semoga kapan2 bisa main ke salah satu tempat itu dan kalau bisa ikut tour juga hahaha.. mantap kak artikelnya! Terus sharing ya kak

  15. Ihhh baru tau sekitaran Kramat banyak tempat bersejarah… baru yg FKUI, sama setasiun Salemba doank.. Sisanya mungkin nyempil..jadi pingin ikut Jakarta CityTour

  16. Ini aku masih anget2nya masuk Kubbu wkwkwk.. dan tour BOB ini emang keren sih, tapi pas yang ke stasiun akunya ga ikut, makan bakso hahaha.. Yang paling berkesan di museum Sumpah Pemuda.

    1. Stasiun Salemba di Jalan Kenari II kak. Sebrang Plaza Kenari Mas kan ada gang yang ke Museum MH. Thamrin dari situ tinggal lurus aja sampai ketemu jembatan itu. Bisa tanya warga sekitar juga kalo mau lihat jembatannya.

  17. jangan hanya main ke mall dan jalan ke wisata alam yang jauh, betul sekali.. setuju!! yang dekat juga banyak yg belum di explore. bahkan banyak tempat ya yg kita tau dan sering kita kunjungi tapi ternyata juga berkaitan dan punya cerita sejarah. nice sharing 🙂

  18. Jakarta Pusat emang gudangnya Jakarta tempo doeloe ya mba.
    Kalo FKUI aku udah ga asing, dari kelas 4 SD sampai SMA sering bolak balik ke situ sih hehe. Thanks for sharing mba

  19. Miris banget untuk museum MH Thamrin ya, semoga pemerintah lebih memperhatikan masalah pembangunan jalan. Dan semoga rakyat Indonesia semakin semangat ke Museum.

  20. Aahh asik banget bisa keliling Jakarta 😻 FKUI saksi bahwa dulu mahasiswa punya power dan bahkan pemerintahan taklut dengan mahasiswa. Ahh, kalau lewat sana selalu inget zaman” itu.

    Seneng banget yaa, Ntin bisa mengunjungi tempat berserajah ☺️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *