RANDOM

Mengubah Jiwa Yang Rapuh Menjadi Sehat dan Tahan Banting Melalui Penerapan Psikologi Positif

Salah satu hal yang membuat saya betah bergabung dengan Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta adalah program-program yang dibuat selalu membuat saya bertambah ilmu lagi. Di Group ini, bukan hanya membahas seputar buku dan blog saja, tapi juga hal lain. Contohnya selasa malam kemarin, di Quality Time (QT) mingguan WA Group Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta membahas tentang “Self Development/ Pengembangan Diri”, dengan Tema “Transformasi Jiwa, Mengubah Jiwa Yang Rapuh Menjadi Sehat dan Tahan Banting Melalui Penerapan Psikologi Positif Oleh dr. Gunawan Setiadi, MPH”. Tema tersebut diambil berdasarkan buku, dengan judul yang sama.

jiwa yang rapuh
Cover Buku Referensi (Sumber gambar: Google)

Menurut Mbak Tuti, selaku narasumber dalam Quality Time (QT) semalam, ia tertarik membaca berulang kali buku tersebut karena hal perubahan yang dibahas dengan cara yang praktis dan dapat kita lakukan sendiri atau bersama mereka yang peduli dengan kita.

Baca juga : Pencegahan Kanker bersama Tramedika

Resume Singkat Quality Time (QT), 06 Februari 2018

Secara teori jiwa yang rapuh adalah jiwa yang tidak tahan menghadapi kerasnya tekanan hidup, tidak matang menghadapi masalah yang terus menghampiri, tidak mampu belajar dari kesalahan dan tidak mampu memecahkan masalah kehidupan secara optimal dan cenderung mengasihi diri. Namun, tidak peka dengan permasalahan yang juga menimpa orang lain.

Kerapuhan jiwa bukanlah gangguan jiwa, tapi jika terus dibiarkan dan kita terperosok di dalamnya, dapat menjurus ke gangguan jiwa. Sebagian mereka yang dikategorikan jiwa yang rapuh, memilih untuk seperti itu tapi bukan untuk intropeksi, sehingga kehidupan sosialnya terganggu. Contohnya, ketika kita mengalami kegagalan lalu kita tidak mampu bangkit dan belajar dari kesalahan yang sudah lalu, tapi memilih untuk tertutup dan membatasi diri dari kehidupan sosial.

Tidak percaya diri tidak mesti menjadi jiwa yang rapuh. Namun, jika kita mulai menghindar dari pergaulan sosial terkait kegagalan, kekecewaan, cenderung menutup diri, dan tidak berani menghadapi masalah hidup, ini dapat dikategorikan jiwa yang rapuh.

Mengatasi Masalah Kerapuhan Jiwa

Jika merujuk buku tadi, dianjurkan untuk mampu mengatasi masalah kerapuhan jiwa/ jiwa yang rapuh secara personal. Dibantu orang-orang terdekat akan lebih baik karena psikolog pun dalam terapi kerap melibatkan orang-orang terdekat kita.

Beberapa ahli mengaitkan kerapuhan jiwa/ jiwa yang rapuh dengan pengasuhan yang kurang tepat selama masa anak-anak hingga remaja, sehingga jiwa mereka tidak sehat. Di satu sisi, keluarga bisa membuat perkembangan jiwa seseorang menjadi rapuh. Misalnya, sikap keluarga yang tidak mengapresiasi kemajuan-kemajuan kecil anak. Namun, di satu sisi dukungan keluarga menjadi kunci keberhasilan jiwa yang sehat dan tahan banting, seperti menyikapi kegagalan anak dengan wise.

Yakinlah, bahwa  jiwa yang rapuh bukan gangguan jiwa. Namun, kondisi kejiwaan yang tumbuh sebagai hasil dari strategi mengatasi masalah yang tidak efektif dan adaptasi yang tidak optimal, sehingga tidak tahan menghadapi kerasnya tekanan hidup, tidak matang, tidak mampu belajar dari kesalahan dan berujung buntu pada ketidakmampuan memecahkan masalah kehidupan secara optimal.

Dalam keseharian kita sering kali berhadapan dengan kondisi diri kita atau orang lain yang jangankan membahagiakan orang lain, menjadi bahagia saja kok sepertinya sulit. Karir macet, terjebak hutang, gelisah menghadapi masa depan dan lain-lain. Jika jiwa kita kuat, kita tidak akan membiarkan kendala tersebut mengubur kita. Namun, menurut penulis sebagai penyebab jiwa kita rapuh dan tidak sehat adalah tidak mampu memilih atau menerapkan strategi masalah yang dihadapi, tidak puas atas kehidupan, kurang bersyukur, mengasihani diri sendiri dan kadang tidak peduli dengan kesulitan orang lain.

Alat Ukur Untuk Mengetahui Jiwa Yang Rapuh

Salah satu alat ukur untuk mengetahui jiwa yang rapuh adalah Global Functioning Of Assessment (GAF) dengan skala 1-100, yang dibagi menjadi beberapa skala seperti berikut:

1. Global Functioning Of Assessment (GAF) dengan skala 61-70.

Individu dengan skala 61-70, termasuk jiwa yang rapuh. Ditandai dengan gejala gangguan psikologis tingkat sedang yang mengganggu hubungan sosial, pekerjaan atau pendidikan. Namun, secara umum semua fungsi berjalan relatif normal. Misalnya, ketika berbeda pendapat, kemudian ia berkata: saya tidak akan kasih saran, karena sudah tahu tidak akan didengar.

2. Global Functioning Of Assessment (GAF) dengan skala 71-80.

Individu dengan skala 71-80, termasuk jiwa yang rapuh ringan. Ditandai dengan gangguan psikologis sementara ketika ada permasalahan yang menekan jiwa. Misalnya, ketika berbeda pendapat, kemudian ia berkata: menurut saya, ini saran terbaik tapi terserah kalau kalian tidak setuju dengan saran saya.

3. Global Functioning Of Assessment (GAF) dengan skala 81-90.

Individu dengan skala 81-90, termasuk jiwa yang sehat, walaupun kadang menunjukkan kecemasan tingkat ringan. Misalnya, dengan case yang sama di atas, ia akan berkata seperti ini: saya agak ragu menyampaikan saran ini, tapi coba kalian dengarkan dulu saran saya.

4. Global Functioning Of Assessment (GAF) dengan skala 91-100.

Individu dengan skala 91-100, adalah individu yang sangat sehat jiwanya dan tahan banting. Dengan menggunakan contoh case yang sama, ia akan berkata: baik, sepertinya saran saya tidak pas, beri saya waktu sebentar untuk mencari alternatif saran lain yang lebih baik, saya yakin kalian akan mengerti.

***

Kecemasan Tingkat Ringan

Mayoritas dari kita semua mungkin pernah mengalami kecemasan tingkat ringan. Seperti pada saat menghadapi kemacetan, hanya saja yang menjadi pembeda antara jiwa yang rapuh dengan jiwa yang sehat adalah kemampuan untuk menghadapi/merespon. Misalnya, jika setiap kemacetan membuat kita selalu sumpah serapah dan sibuk menyalahkan kiri kanan, ini dapat merapuhkan jiwa kita.

Intinya semua orang pasti mengalami cemas, takut, khawatir atau galau dan lain-lain. Namun, sepanjang hal itu kita sadari dan kita akui, serta tidak membiarkan hal tersebut mengganggu kehidupan, maka itu masih dapat ditoleransi.

Kecemasan itu tidak mesti menjadikan hal tersebut sebagai masalah. Sering sekali masalah tidak segera terlihat jalan keluarnya, jadi mari berdamai terlebih dahulu dengan masalah tersebut.

Apa perbedaan cemas dengan firasat buruk? Kecemasan secara psikologis terkait dengan ketidakpastian kondisi di depan, biasanya dihubungkan dengan keterbatasan informasi, merasa kurang siap dengan konsekuensi terburuk, atau merasa kurang persiapan atau ketakutan yang tidak pasti berdasarkan pengalaman sebelumnya. Sedangkan firasat buruk terkait dengan intuisi.

Prof. George A. Bonanno, seorang psikolog klinis menyatakan bahwa Defense Mechanism secara alami ada di dalam diri manusia. Sehingga seseorang mampu untuk segera bangkit kembali dari kegagalan, tragedi, trauma dan lain-lain.

Kita tentunya sering mendengar mereka yang mengalami masa kecil yang buruk, tapi sanggup untuk keluar dari belenggu masa lalu. Kemudian menjadi orang hebat di kemudian hari. Di buku dicontohkan tentang Houtman Zainal Arifin, yang bermula dari officeboy lalu puncak karir menjadi Vice President Citibank. Jadi pesan yang harus digarisbawahi adalah jangan jadikan masa lalu menjadi penghambatmu untuk meraih masa depan.

***

Teori Mekanisme Pertahanan Jiwa

Defense Mechanism, bahwa sesuai dengan teori mekanisme pertahanan jiwa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud untuk membuat jiwa kita sehat, kuat dan matang kita cenderung melakukan kegiatan kebajikan (altruisme) dan adaptif. Sehingga sering kita dengar bahwa seseorang merasa sangat bahagia, dan lega setelah berbuat sesuatu yang membahagiakan orang lain. Bukan berarti mereka tidak dihantam badai masalah. Namun, mereka relatif mampu mengatasi rintangan, belajar dari hambatan yang sudah dilalui dan menjadi kuat karenanya. Hal-hal tersebut membuat jiwa semakin matang, dewasa dan tahan banting.

Terkadang kita mengalami kesal yang berkelanjutan dan mengganggu hidup kita, ini biasanya karena ada sumbatan. Kesal yang berkepanjangan biasanya terkait sesuatu hal yang tidak menyamakan kita tapi terus berulang, dan kita belum bisa untuk menuntaskan casenya apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan sesuatu atau seseorang yang kita tidak ingin berhubungan. Biasanya psikolog akan meminta kita mengurai satu persatu hal yang membuat kita tidak nyaman sehingga ketemu akar masalahnya.

Pola Pengasuhan Yang Kurang Sehat

Mohon menjadi perhatian kita sebagai orang tua atau calon orang tua, bahwa pola pengasuhan yang kurang sehat akan membentuk sifat dasar seperti:

  • Selalu merasa tidak puas
  • Mementingkan diri sendiri
  • Sombong
  • Kurang mampu mengendalikan diri

Dari pola pengasuhan yang kurang baik, maka para ahli mendeteksi ada 18 pola atau skema perilaku anak dengan jiwa kurang sehat, yang jika tidak berubah ketika dewasa akan terbentuk seorang dewasa dengan jiwa yang rapuh.

Seseorang dengan jiwa yang rapuh tidak dapat memecahkan masalah secara optimal karena mereka sering menerapkan :

  • Satu atau beberapa dari 10 Unhelpful Thinking Styles
  • Satu atau beberapa dari 10 mekanisme pertahanan jiwa yang tidak dewasa dan neurotik.
  • Coping Strategi yang maladaptif.

Penulis mengutip dari Dr. G. E. Vaillant, bagaimana mendewasakan jiwa agar jiwa yang rapuh menjadi sehat:

  • Altruisme
  • Antisipasi
  • Sublimasi
  • Supresi
  • Asketikisme

Metode tersebut sejalan dengan Prof Bonnano bahwa ketahanan jiwa ditempa dari berbagai kesulitan dan kehilangan, serta proses tersebut cukup mudah dan dapat kita lakukan untuk diri sendiri maupun sekitar kita.

  • Hanya perlu tekad dan sabar.
  • Jika prosesnya takes time, yakinlah setiap fase perubahan menghadirkan kebahagiaan.
  • Ujian kehidupan akan tetap ada, dan kita akan tahu di level mana kita.
  • Dalam berbagai kasus tidak melibatkan ahli kesehatan jiwa, tapi kesediaan menerima dan memberi dukungan kepada keluarga atau sahabat agar proses pematangan dan penguatan jiwa berjalan efektif dan efisien.

Psikologis Positif, yang mempelajari cara untuk membantu manusia agar mencapai hidup yang bahagia dan memuaskan, salah satunya mempelajari jiwa manusia agar tumbuh sehat dan tahan banting.

Merubah jiwa yang rapuh menjadi sehat bukanlah hal yang mustahil, tapi bukan hal yang mudah juga. Diperlukan transformasi, perubahan yang mendasar dan total.

***

Uraian di atas adalah ringkasan singkat dari Quality Time (QT) pada tanggal 06 Februari 2018, yang diadakan di WA Group Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta.

Terima Kasih untuk Narasumber (Mbak Tuty Prihartini) dan Moderator (Mas Ristiyanto) yang sudah membagi ilmunya.

28 thoughts on “Mengubah Jiwa Yang Rapuh Menjadi Sehat dan Tahan Banting Melalui Penerapan Psikologi Positif

  1. Antin.. Ih, gercep dan keren langsung ditulis.. Btw, ngomongin masalah “kerapuhan jiwa dengan pengasuhan yang kurang tepat” kita sebagai si calon orang tua bener2 harus matang dalam hal ini ya, Tin..

  2. Setuju dengan yang telah dibahas. Dan dewasa ini saya banyak menemukan banyak orang berjiwa rapuh sekarang ni. Kadang masalah kecil dibesar²kan. Bahkan sampai mengucap kata kotor dan berkelahi. Padahal mereka berhadapan dengan orang baru bahkan yg lebih tua dari mereka. Sifat saling menghormati dan sopan santun seolah menjadi langka.

  3. Keren banget mba. Jujur saja saya orangnya rapuh dan tidak tahan banting, semoga dengan membaca artikel bermanfaat ini saya bisa lebih mengembangkan diri ya.. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *