BOOK

Book Review : The Architecture Of Love

IMG_20180104_173853Judul : The Architecture Of Love

Pengarang : Ika Natassa

Penerbit : Gramedia Pustaka Indonesia

Tahun : 2016

Tebal Buku : 304 hlm, 20 cm

ISBN : 978-602-03-2926-0


Setahun yang lalu, saya membaca kisah Raia dan River di Pollstory yang dibuat oleh Kak Ika Natassa di twitternya. Pollstory ini diadakan setiap malam selasa dan kamis, sedangkan untuk episode pertama tayang mulai tanggal 31 Desember 2015, dan selesai pada episode spesial pada tanggal 14 Februari 2016. Serunya Pollstory adalah setiap akhir cerita, Kak Ika akan memberikan pilihan melalui Twitter Poll untuk alur cerita berikutnya. Jadi semua pembaca Pollstory dapat ikut menentukan alur cerita berikutnya. Itulah kenapa saya dan mungkin semua pembaca lain tidak ingin cerita Bapak Sungai dan Ibu Hari Raya berhenti di PollStory saja, dan yang pasti ingin tahu ending dari kisah mereka, karena di episode terakhir Pollstory dibuat menggantung. Kabar gembiran pun bersambut, Kak Ika akan melanjutkan cerita The Architecture Of Love dalam bentuk buku.

Akhir tahun 2017, saya membaca kembali kisah Raia dan River dengan media yang berbeda, yaitu dalam bentuk buku. Rasanya masih sama seperti saya membaca kisah mereka untuk yang pertama kalinya, selalu dibuat senyum-senyum ketika Raia memanggil River dengan sebutan Bapak Sungai atau ketika mereka saling bercanda satu sama lain, tapi terkadang juga dibuat kesal karena mereka saling kangen tapi hanya bisa sama-sama diam *gimana bisa tau kalo gak bilang sih -_-

Sinopsis

“People say that Paris is the city of love, but for Raia, New York deserves the title more. It’s impossible not to fall in love with the city like it’s almost impossible not to fall in love the city.”

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron’s You’ve Got Mail hingga Martin Scorsese’s Taxi Driver, New York bahkan bukan sekedar setting namun tampil sebagai “karakter” yang menghidupkan cerita.

Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York “kantor”-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam pecakapan yang di dengar, dalam tatapan yang sedetik dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun, bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah terduga.

Baca juga : Book Review : A Cup of Tea for Writer

Review Suka-suka Penulis

The Architecture Of Love (TAOL) bercerita tentang seorang penulis muda bernama Raia, yang kehilangan muse setelah bercerai dengan suaminya, Alam. Selama dua tahun, Raia mengalami writing block sampai akhirnya pergi ke New York untuk mencari inspirasi, dan melupakan semua kenangan bersama mantan suaminya.

“Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk mempertemukan dan memisahkan, menjauhkan dan mendekatkan, yang tidak pernah bisa kita duga-duga.” (Hal. 65)

Menyusuri setiap sudut kota New York setiap hari selama dua bulan ini, tetap saja Raia tak kunjung menemukan satu kata pun untuk mulai menulis. Sampai suatu ketika, sahabatnya yang bernama Erin mengajak Raia untuk merayakan tahun baru di apartement temannya, Aga. Sebenarnya Raia tidak suka pesta dan keramian, apalagi bagi Raia segala sesuatu tentang pesta tahun baru selalu terasa dipaksakan, dan itu membuatnya tak habis pikir. Orang-orang yang merasa harus berpesta untuk menandai pergantian tahun, padahal sesungguhnya tidak ada yang bisa dirayakan dari hidup mereka dalam setahun terakhir. Namun, karena paksaan Erin, akhirnya Raia menghadiri pesta tahun baru tersebut.

“Hal yang paling sulit dari setiap proses menulis adalah menemukan kalimat pertama, karena bagian itu yang meletakkan anchor cerita sekaligus mengusik pembaca.” (Hal. 48)

Di sana, di saat hingar bingar pergantian tahun akan segera di mulai, Raia pamit ke kamar mandi untuk menghindari tradisi pergantian tahun yang ditakutkannya (tradisi mencium orang yang ada di depan kita pada saat pergantian tahun). Raia keluar kamar mandi, namun sial hak tinggi yang dipakainya membuat kakinya keseleo. Dengan tertatih Raia masuk ke ruangan gelap di sebelah kamar mandi, mencari sofa untuk duduk sejenak dan memijat kakinya. Tanpa Raia sadari di rungan itu ada seorang lelaki dengan sorot mata yang tajam dan alis yang tebal, tengah asik menggambar di ruangan yang gelap. Itu adalah pertemuan pertama Raia dengan lelaki misterius bernama River, lelaki pendiam, lebih suka sibuk dengan buku gambarnya, selalu memakai sneakers cokelat, beanie abu-abu gelap dan kaus kaki berwarna hijau yang setiap hari dia pakai tapi selalu terlihat bersih. Dia menarik diri dari keramaian, sama halnya dengan Raia yang lebih suka melewatkan keramaian pesta malam itu.

Pertemuan tak sengaja kedua, terjadi di Wollan Skating Rink, ketika Raia sedang mengunjungi tempat ini untuk mencari inspirasi, sedangkan River untuk menggambar. Awalnya pertemuan mereka sedikit kaku, tapi selanjutnya hubungan mereka mencair, terlebih setelah Raia memberanikan diri meminta ijin untuk mengikuti River berkeliling kota New York esoknya, bersama-sama mencari inspirasi. Sejak itu, River akan menjemput Raia pukul sembilan pagi, menunggu di depan apartement Erin sambil menghisap rokok, kemudian akan mematikan rokoknya ketika Raia tiba. Setelah itu, mereka menyusuri bagian-bagian kota New York seperti Flatiron Building, menikmati burger Shake Shack di Madison Square Park, Grand Central, Paley Park, sampai mampir ke bioskop hanya untuk membeli popcorn-nya.

River mengenalkan kota New York dengan cara berbeda, bahwa setiap bangunan memiliki cerita, membuat Raia bersemangat setiap harinya untuk mencari inspirasi. Obrolan sederhana di tengah-tengah acara berkeliling juga menghidupkan kebahagiaan Raia yang sempat hilang, serta menyadarkan bahwa mereka sebenarnya sama-sama tersesat akan masa lalu, di kota yang tak pernah tidur tersebut mereka tidak seharusnya merasa sendirian.

“Patah hati tidak akan pernah jadi lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali, tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya.” (Hal. 225)

Baca juga : Book Review : Jodoh Karya Fahd Pahdepie

Diawal-awal cerita pembaca dibuat penasaran oleh sosok River yang misterius, sebenarnya dia punya masalah apa, sampai harus kabur ke New York dan lebih banyak menyendiri bersama buku gambarnya? Ahh kalian coba baca sendiri bukunya, maka kalian akan tahu.

Kak Ika Natassa selalu mempunyai ciri khas di setiap novel-novelnya, yang membuat pembacanya mengenali bahwa ini adalah novelnya seorang Ika Natassa. Dari segi bahasa yang campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, belum lagi deskripsi tempat dan informasi yang dipaparkan secara mendetail, membuat pembaca ikut merasakan bagaimana rasanya berada di New York dan secara tidak sadar jadi memperoleh pengetahuan baru tentang tempat-tempat di New York. Selain itu, Kak Ika Natassa selalu sukses membuat karakter dalam novelnya terasa sangat kuat, dan ceritanya seakan nyata. Deskripsi akan pekerjaan para tokoh utama pun dijelaskan cukup detail, sehingga pembaca bisa merasakan oh begitu ya suka duka menjadi penulis, atau oh begitu ya ternyata menjadi seorang arsitek.

Tema cerita TAOL sendiri sebenarnya cukup sederhana, dua orang yang sama-sama terluka akan masa lalu berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan kembali. Pasca bercerai, Raia kehilangan sumber inspirasi dan hidupnya bagaikan tak berarti. Begitupun dengan River yang memiliki masa lalu tak terduga, luka yang dia alami sangat membekas dan sangat susah dihilangkan. Konfliknya sendiri bukan sesuatu yang baru juga, tentang perasaan bersalah, tentang takut melangkah karena dibayangi masa lalu. New York menjadi tempat mereka menemukan semangat dalam menghadapi hidup.

Oh iya yang penulis suka dari membaca buku adalah quote-quote yang terdapat di buku, dan ini beberapa quote yang penulis suka dI TAOL.

“People say that you will never know the value of a moment until it become a memory.” (Hal. 66)

“Laughing is always liberating. And laughing with someone is always healing, somehow.” (Hal. 85)

“Banyak masalah hidup, terlalu banyak malah, yang tidak dapat diselesaikan secepat membuat mi instan, sama seperti banyak kebahagiaan yang mustahil dikejar seringkas memasak mi seharga dua ribu rupiah ini.” (Hal. 143)

“Banyak hal-hal paling pedih dalam hidup justru hal-hal yang tidak bisa terjadi. Cinta yang tak terucap, permintaan maaf yang tak terlafalkan, pelukan yang tidak dapat dihantarkan, dan rindu yang tidak dapat disampaikan.” (Hal. 212)

“Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari.” (Hal. 266)

“Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir.” (Hal. 270)

Jadi apakah kalian sudah membaca The Architecture Of Love? atau malah sudah mengikuti cerita Bapak Sungai dan Ibu Hari Raia sejak Pollstory?

Jadi apakah Raia bisa menulis kembali dan menemukan muse-nya? Dan bagaimana kelanjutan kisah Raia dan River? Yang penasaran yuk baca novelnya dan ceritain komentar kalian setelah membaca buku TAOL di kolom komentar 🙂

5 thoughts on “Book Review : The Architecture Of Love

  1. “Hal yang paling sulit dari setiap proses menulis adalah menemukan kalimat pertama, karena bagian itu yang meletakkan anchor cerita sekaligus mengusik pembaca.” iya banget nih. Kadang saking bingungnya ujung2nya malah ga jadi 😥

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *