FILM

“Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak”, Perempuan Harus Nonton!

Pertama kali mendengar judul film ini, saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton. Jangankan untuk menonton filmnya, membaca judulnya saja saya sudah ngeri. Baiklah saya memang secemen ini -_-

Awalnya saya pikir film ini horor dan mengerikan, sampai akhirnya banyak teman yang sudah menonton mengatakan film ini bagus dan tidak mengerikan sama sekali. Bahkan film ini malah memperlihatkan keindahan pemandangan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Baiklah saya mulai penasaran, kemudian mencari trailernya di youtube dan memberanikan diri untuk menonton selepas kerja.

150814405683271_300x430
Sumber Foto : 21cineplex

Jika melihat poster film ini apa yang terlintas dipikiran kalian? saya sendiri melihat sosok wanita dengan guratan wajah tegas yang menandakan ketangguhan dan pemberani.

Film ini disutradarai oleh Mouly Surya, dan film ini berdurasi sekitar 93 menit yang dibagi menjadi 4 babak.

Babak 1 : Perampokan

Kisah Marlina (Marsha Timothy) berawal dari datangnya tujuh perampok yang mendatangi rumahnya. Mereka mengancam nyawa, harta dan juga kehormatan Marlina di hadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi duduk di pojok ruangan. Namun Marlina berhasil berjuang mempertahankan harga dirinya, meski ia sempat dilecehkan dan harus rela kehilangan semua hewan ternaknya.

Babak 2 : Perjalanan

Setelah berjuang mengalahkan perampok-perampok tersebut, keesokan harinya Marlina menuju ke kantor polisi. Dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal. Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra), yang menunggu kelahiran bayinya, dan Franz (Yoga Pratama), yang menginginkan kepala Markus kembali. Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina sambil memainkan musik tradisional Sumba dengan gitar yang selalu dibawanya.

Babak 3 : Pengakuan Dosa

Di babak ini ada adegan saat Marlina akan melapor di kantor polisi. Adegan ini cukup membuat saya kesal, bagaimana tidak kesal saat melihat Marlina harus menunggu para petugas polisi bermain tenis meja. Padahal untuk ke tempat itu, dia harus berjuang menghindari kejaran 2 orang perampok yang selamat. Setelah menunggu lama pun, ternyata polisi tidak memberi perlindungan dan layanan yang baik. Sedih melihat adegan ini, begitu kah sikap aparat yang sebenarnya? itu yang terlintas di pikiran saya saat adegan itu berlangsung.

Babak 4 : Kelahiran

Babak terakhir dari film ini membuat Marlina terpaksa kembali ke rumahnya demi menyelamatkan Novi. Dan lagi-lagi Marlina dilecehkan oleh Franz, yang akhirnya membuat Novi memberanikan diri untuk memenggal kepala Franz demi menyelamatkan Marlina.

Rasanya sangat wajar jika film ini mendapatkan banyak penghargaan. Selain memperlihatkan keindahan Indonesia, film ini juga menunjukan susahnya moda transfortasi di pedalaman Indonesia dan buruknya pelayanan publik yang diberikan oleh pejabat setempat.

Kenapa perempuan harus nonton? Karena di film ini menunjukan kekuatan perempuan untuk mempertahankan kehormatannya dan ketangguhan melawan kekerangan laki-laki.

2 thoughts on ““Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak”, Perempuan Harus Nonton!

  1. Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina sambil bermain gitar tradisional Sumba –> ini maksudnya gmn? Sampe skr aku blm nntn jugaa. Nunggu tayang di tv aja deh haha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *