BOOK

Book Review : Relationshit karya Alitt Susanto

Judul Buku : Relationshit

Penulis : Alitt Susanto

Penerbit : Bukune

Tahun Terbit : 2014

Tebal Buku : vi+230 hlm, 13×19 cm

ISBN : 602-220-124-1

Sinopsis

“Kamu tahu kesalahan kamu apa?” Tanya Mbak Polwan sambil menatap gue dengan sinis, tangannya bersila di depan dada.

“Err — Nggak tau, Mbak”, Jawab gue dengan polosnya.

“Kamu tuh emang nggak peka, ya!” Nada Mbak Polwan itu tiba-tiba meninggi.

“Loh?! Salah saya apa?!”

“Pikir aja sendiri!” Mbak Polwan buang muka, tangannya masih bersila di depan dada.

“K-K-Kenapa, Mbak? saya nggak tau kenapa diberhentiin di sini. Saya ngerasa nggak salah apa-apa!” Gue semakin bingung dengan sikapnya.

“Ah! Semua cowok emang sama aja!” Mbak polwan langsung melengos pergi.

Gue yang ditinggal cuma bisa jilatin knalpot panas dengan kesal.

***

Menghadapi cewek PMS kayak di atas, cuma sebagian kecil dari banyaknya keribetan soal hubungan. Ya, sepanjang pengalaman jadi manusia (yang dulu tapir), gue berhasil mempelajari satu hal; kita semua harus ‘berhubungan’ dengan sekitar. Bentuknya bermacam-macam; bisa percintaan, persahabatan, persaudaraan, permantanan, atau perseroan.

Dalam buku ini, ada cerita tentang usaha gue jadi kakak yang baik, cucu yang berbakti, pacar yang bisa diandalkan, sampai jadi pria yang bisa ngobrol sama mobilnya. Emang enggak semuanya berhasil karena rintangan selalu ada. Tapi, dalam kegagalan gue belajar untuk jadi lebih baik, dan mencegah Relationshitp tidak menjadi Relationshit!

***

Review Suka-suka

Relationshit adalah buku ketiga Alitt Susanto atau yang lebih dikenal dengan nama @Shitlicious. Buku ini bercerita tentang kisah kegagalan-kegalanan cinta, persahabatan dan keluarga.

Buku ini terdiri dari 11 Bab dan 2 halaman sambutan. Ketika pertama kali kita membuka halaman pertama buku ini, kita langsung disambut dengan tulisan “Untuk Mereka yang Selalu Ada dan Pernah Ada”. Halaman ini berisi ucapan terima kasih Mas Alitt untuk orang-orang yang selalu ada dan pernah ada di hidupnya. Menariknya di bab ini terdapat kolom khusus untuk menuliskan nama kita.

“Terima kasih banyak juga untuk barisan para mantan yang sudah pernah membuat gue patah hati. Terima kasih, karena bagi penulis, di balik patah hati selalu ada royalti”.

Halaman selanjutnya “Before You Read The Stories”. Halaman ini sama seperti kata pengantar yang sering di skip oleh para pembaca, tapi uniknya Mas Alitt merubah judul kata pengantar dengan “Before You Read The Stories”. Dengan judul seperti itu, secara tidak sadar membuat pembaca tertarik untuk membaca.

“Memang, nggak semuanya berakhir happy-ending, tapi kita bakal lebih banyak belajar dari kegagalan, bukan keberhasilan”.

***

“How I Met Her Mother”, Bab awal ini bercertita tentang Alitt yang berkenalan dengan perempuan bernama Nina. Mereka mempunyai moto hidup yang sama, yaitu menolak kerja kantoran karena menurut mereka untuk menikmati hidup, kita harus banyak berkarya. Singkat cerita mereka berdua merasa nyaman untuk mengobrol, sampai akhirnya tragedi malam itu terjadi.

Ketika itu, Alitt dan Nina pulang makan malam. Sesampainya di rumah Nina, Alitt malah menjadi target prospek MLM mamanya Nina. Hal itulah yang membuat Alitt trauma. Bukan ke Nina-nya, tapi trauma dengan wajah keserakahan yang sempat diperlihatkan Nina dan keluarganya.

***

Jeni adalah pelesetan dari tipe mobil Honda Genio, mobil pertama yang Alitt beli dengan uangnya sendiri. Banyak suka duka yang Alitt lalui bersama Jeni. Semua itu bermula Alitt mulai modofikasi Jeni, karena Jeni mobil tua otomatis dia enggak bisa beradaptasi dengan benda-benda aneh yang diganti.  Alhasil Jeni pun mulai sering mogok dan semakin sering masuk bengkel, sampe akhirnya Alitt kepikiran untuk menjual Jeni tapi Alitt ingat akan hal-hal seru yang pernah mereka lalui bersama. Mungkin jeni memang sering mogok dan semakin lama semakin menjadi-jadi tapi hal itu bermula dari Alitt sendiri yang memodifikasi Jeni.

“Kadang hal yang baru itu datang hanya untuk mengingatkan betapa berharganya hal yang sudah kita tinggalkan”.

***

“Ternyata di mana kita tinggal, nggak menentukan kita bakal jadi orang kaya apa. Yang menentukan adalah dengan siapa kita bergaul di sana”.

Bab ketiga yang berjudul “Firasat” ini sebelumnya sudah pernah baca di blognya Mas Alitt, bab ini bercerita tentang sahabat STM Alitt yang bernama Trisna. Kalau kalian sering mampir ke blog Alitt pasti tahu kisah Trisna ini.

***

Bab Keempat yang diberi judul “Adik Gue Jagoan Gue”, menceritakan tentang kedekatan Alitt bersama adiknya yang bernama Andi. Mereka yang sejak kecil sudah ditinggal orang tua dan hidup berdua, Alitt lah yang mengurusin segala kebutuhan Andi sampai akhirnya dimana Alitt harus pergi kuliah ke Jogja.

Beberapa tahun berlalu, Alitt sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari bekerja sebagai penulis. Pekerjaan yang membuatnya menjadi sangat sibuk, sampai tidak sempat memerhatikan Andi. Alitt pun mencurahkan kasih sayang ke Andi dengan hal-hal yang berbentuk materi sehingga merubah Andi anak kebanggaan, menjadi Andi yang bandel karena kurang perhatian dari keluarga.

“Nggak ada anak yang nakal kalo mereka ngerasa nyaman dengan keadaan rumah. Asal mereka merasa bahwa tempat curhat paling menyenangkan adalah keluarga bukan teman yang masih sama-sama hijau dan memberi masukan menyesatkan”.

Sampai akhirnya Alitt memutuskan untuk memindahkan sekolah Andi ke Batam, dengan membiayai Andi di sekolah SMA yang bagus tapi dengan syarat Andi tidak mendapatkan uang jajan. Jadi, Andi pun harus bekerja membantu pamannya menjual gorengan sepulang sekolah untuk bisa mendapatkan uang jajan sendiri.

***

“Mencintai itu tidak harus bisa menggandeng tangan, mencintai itu tidak harus bisa membuat tertawa, mencintai itu bahagia melihat si dia menikmati hidupnya”.

Itulah alasan-alasan supri yang tidak mau berjuang secara berani. Bersembunyi dibalik alasan “Cinta tak Harus Memiliki”. Hanya melakukan hal-hal yang tidak berarti bagi orang yang dicintainya. yaa “Cinta tapi Bungkam”, itulah yang selama ini supri lakukan. hanya bisa mengagumi Ningsih dari kejauhan tanpa berani mengungkapkannya kepada Ningsih 🙁

“Cinta tak se-egois itu, manusialah yang memilihnya”.

***

Masih ada beberapa bab lagi yang bisa kalian baca sendiri, yap tentunya harus membeli bukunya dulu dong 😀 tapi yang asli yaa kasian Mas Alitt nanti engga dapat royalti hehe.

Menurut saya, dari semua bab di buku ini yang bikin susah move on itu di bab-bab terakhir. Bab yang bercerita tentang Eyang-nya Mas Alitt, beliau tidak pernah menunjukan rasa sayangnya tapi beliau langsung menunjukkannya dengan tindakan. Membaca bab ini tuh bikin kangen alm Nenek dan Kakek 🙁

Selain itu, ada juga cerita tentang Long Distance Relain-ship, yang bercerita tentang hubungan Mas Alitt dengan perempuan bernama Wina yang harus LDR. Kemudian buku ini ditutup dengan bab yang sangat apik, yaitu Love in Different Religion. Bab ini bercerita tentang hubungan beda agama, kalo kalian baca bab terakhir ini kalian bakal kagum sangat sama sosok perempuan bernama Maria dan kalimat juara di bab terakhir ini cukup menohok

“Jadi, kalo ada pertanyaan, “katanya, jodoh itu di tangan tuhan, tapi bagaimana jika keyakinan kita berbeda?” Jawaban gue adalah, ” ini bukan tentang keyakinan antara manusia dan tuhan. ini adalah tentang keyakinan untuk tetap memperjuangkan hubungan atau tidak. jadi, meski jodohnya sudah ditentukan tuhan, kalo manusianya sendiri tidak yakin dengan pilihan itu, hubungan itu tidak akan bertahan.”

***

Buku Relationshit ini bukan hanya membuat kita tertawa, tapi kita juga bisa belajar banyak dari pengalaman Mas Alitt. Buku ini dibungkus dengan bahasa yang sederhana, membuat kita ikut terhanyut mengikuti alur cerita per-babnya.

Jadi, apakah kalian sudah membaca buku ini? Share di kolom komentar

 

4 thoughts on “Book Review : Relationshit karya Alitt Susanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *