Review Buku: Di Dalam Lembah Kehidupan Karya Buya Hamka

33
171
views

Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan buku kedua karya Buya Hamka yang saya baca. Awalnya, saya mengira buku karya Buya Hamka itu berat dan sulit dicerna. Sampai suatu hari, secara tidak sengaja saya membaca buku Terusir.

Buku Terusir, sukses mematahkan anggapan saya tentang karya Buya Hamka yang terkesan berat dan sulit dicerna. Nyatanya, ada juga buku lho karya Buya Hamka yang ringan, dan mudah dipahami oleh saya yang terbiasa membaca novel metropop.

Kali ini saya tak akan bercerita banyak tentang buku Terusir, nanti akan saya buatkan review bukunya sendiri, doakan saja saya tidak malas dan banyak alasan ya 😀 Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang buku Di Dalam Lembah Kehidupan.

Saya membaca buku Di Dalam Lembah Kehidupan pada bulan April lalu, itu pun karena sebuah keharusan salah satu program Bedah Buku di komunitas yang saya ikuti. Ketika salah satu teman menyarankan buku ini untuk dibedah, saya sama sekali tidak tahu tentang buku ini. Namun, melihat nama penulisnya Buya Hamka saya langsung penasaran.

Buku Di Dalam Lembah Kehidupan sudah sangat lama diterbitkan, bahkan di beberapa toko buku sudah tidak tersedia. Saya mencari di beberapa toko buku online pun stoknya tidak tersedia, tapi akhirnya menemukannya juga di salah satu toko buku online.

Buku ini ditulis oleh Buya Hamka pada tahun 1930 – 1940-an, sudah sangat lama sekali ya, bahkan Mama saya saja belum lahir. Saya sendiri membeli buku Di Dalam Lembah Kehidupan yang terbitan tahun 2017 dengan cover terbaru, sepertinya cover lama sudah langka sekali ya.

Informasi Buku Di Dalam Lembah Kehidupan

Sebelum mengulas buku Di Dalam Lembah Kehidupan, saya kasih bocoran informasi tentang buku ini dulu ya. Siapa tahu setelah membaca review buku ini, kalian jadi tertarik untuk membeli bukunya.

review buku di dalam lembah kehidupan karya buya hamka
Cover terbaru, terbit tahun 2017

Judul : Di Dalam Lembah Kehidupan
Penulis : Prof. Dr. Hamka
Penerbit : Gema Insani
Tebal : 194 hlm
ISBN : 978-602-250-390-3
Harga : Rp. 45.000,-

Baca juga: Review Buku: Resign! Karya Almira Bastari

Review Buku Di Dalam Lembah Kehidupan

Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan kumpulan cerpen yang dikemas dengan benang merah yang hampir sama di setiap babnya, yaitu tentang penderitaan, kesengsaraan, dan kesedihan. Dari 12 cerpen yang ada di buku ini, hampir 90% bercerita tentang perempuan.

Semua cerpen yang ada di buku ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari, dengan latar kehidupan warga melayu. Walaupun latar cerpen ini di masa lampau, tapi menurut saya ceritanya masih sangat masuk untuk masa sekarang.

Seperti di bab pertama buku ini, yang berjudul Pasar Malam. Bab ini bercerita tentang dua kondisi yang berbanding terbalik. Satu kondisi tentang kemeriahan pasar malam, dan kegembiraan semua warga kampung yang bersuka cita menyambut Pasar Malam.

Sedangkan di konsidi lain, ada satu keluarga miskin yang kelaparan dan ayahnya terkena deman. Namun, tak punya uang untuk membawanya ke dokter. Bahkan, ketika ada yang menolong dan memanggilkan dokter. Sang dokter yang diminta bantuannya berdalih sudah malam, dan tidak bisa datang hanya karena tahu yang sakit itu si miskin. Ke esok harinya, si miskin tersebut meninggal.

Hal yang membuat saya lebih miris lagi ketika membaca bab ini adalah, ketika si miskin dikuburkan. Ketika papan penutup lahat sudah terpasang, suara petasan Pasar Malam dimulai dengan sangat riuh. Sungguh miris, semua orang tak peduli dengan kematian si miskin. Semua orang bergembira, memakai baju baru dan berseri-seri menyambut Pasar Malam.

Di bab ini seolah saya diingatkan kembali untuk lebih peduli lagi dengan tetangga sekitar rumah, jangan sampai kita berkecukupan sedangkan tetangga kita sampai kelaparan. Benar-benar sindiran halus untuk kondisi manusia saat ini, yang rasa peduli ke sesamanya sangat memprihatinkan.

***

Berlanjut ke bab kedua, di bab ini bercerita tentang Encik Utih. Encik Utih adalah seorang gadis yatim piatu yang bercita-cita menjadi pengantin, dan memakai kain berlambak emas pada hari pernikahannya.

Namun, hingga rambut Encik Utih memutih sang jodoh pun tak kunjung datang. Encik Utih yang periang tak menyadari jika semakin lama umurnya semakin bertambah, ia pun menjadi tua. Banyak bermain dengan anak-anak membuat kelakuannya seolah masih muda, sampai suatu ketika seseorang menyadarkannya jika dia sudah tidak muda lagi.

Encik Utih baru menyadarinya, kemudian ia menjadi murung. Hal yang sangat mengejutkan di bab ini, Encik Utih menghabiskan tabungannya untuk membeli kain berlamak emas dan memakainya. Ia berdandan seolah seorang pengantin, ia pikir akan senang. Namun, kenyataannya menggunakan baju pengantin ini cukup berat dan ia tak merasa senang.

Mungkin lain cerita jika Encik Utih menggunakan kain berlamak emas itu ketika masih muda, berada di pelaminan bersama lelaki yang menjadi jodohnya. Mungkin ia akan merasa senang, tapi kenyataannya ia berdandan bak pengantin ketika sudah tua tanpa mempelai pria. Sangat wajar jika ia tidak merasa senang.

***

“Anak yang Ditinggalkan” merupakan bab di buku ini yang membuat saya sangat kagum dengan perjuangan seorang ibu. Bagaimana tidak, sosok Maryam seorang ibu dengan satu orang anak yang ditinggal bekerja oleh suaminya bertahun-tahun. Kemudian diceraikan begitu saja hanya melalui surat.

Kehidupannya yang sangat kekurangan, membuat dia harus bekerja keras untuk makan dia beserta anak dan ibunya. Belum lagi biaya sekolah anaknya yang belum dibayar. Sampai suatu ketika, ada saudagar kaya yang ingin meminangnya.

Saudagar ini memiliki perusahaan kecil di kota, tapi jandanya ada di setiap sudut kampung. Istrinya yang tua pun ada. Namun, jika Maryam bersedia menikah dengannya, istri tuanya akan ia ceraikan karena tidak memiliki anak.

Maryam tahu bagaimana kejamnya Baginda Saleh, tapi melihat kondisi ekonomi keluarganya dan karena kasian kepada anaknya. Maka Maryam menerima pinangan Baginda Saleh.

Malangnya nasib Maryam, setelah menikah dengan Baginda Saleh ternyata kehidupannya tak berubah. Baginda Saleh sangat pelit, untuk makan sehari-hari saja ia hanya memberi sedikit uang belanja. Yang awalnya Maryam berharap Baginda Saleh bisa menjadi penolongnya untuk membiayai sekolah anaknya, ternyata tak bisa diharapkan.

Baginda Saleh tak mau membiayai sekolah Rahim, bahkan ketika Nenek Rahim meninggal dan dia harus tinggal bersama Baginda Saleh dan Maryam. Rahim diperlakukan dengan tidak baik, melihat anaknya diperlakukan tidak layak, Maryam sering kali menangis melihat nasib anaknya.

Di bab ini perjuangan seorang ibu benar-benar terlihat, ia rela menderita demi anaknya. Namun, nasib seolah tak berpihak kepada Maryam dan Rahim. Niat ingin merubah kehidupan malah bernasib lebih buruk.

“Hidup manusia di dunia ini laksana memasang lotre, kadang-kadang kalah dan kadang-kadang menang, apalagi jika tidak ada modal lain, hanya kemauan.” – Hal. 32 –

***

Berlanjut ke bab “Bunda Kandung”, yang bercerita tentang kebaikan seseorang yang dinilai buruk oleh orang lain. Pribahasa yang mengatakan, “Apa yang dilihat oleh mata, belum tentu benar” nyatanya terbukti di cerita ini.

Di bab ini begitu banyak pesan moral yang hendak disampaikan Buya Hamka. Niat Bunda Kandung yang baik ternyata dinilai buruk oleh orang sekitar, sampai suatu ketika semua terkuak tapi sayang semua sudah terlambat.

“Hari yang mulia dalam hidup manusia itu, bukankah hanya tiga kali? Pertama ketika lahir, itulah hari bahagia; kedua ketika menikah, itulah yang berjaya, dan ketiga hari kematian, itulah yang mulia.” – Hal. 63 –

Di bab ini juga saya menyadari begitu bahayanya sebuah ucapan. Tanpa sadar ucapan yang kita sampaikan bisa saja menyakiti orang lain, dan membunuhnya secara perlahan. Cerita ini begitu nyata di era sekarang, begitu banyak orang sok tahu yang sering kali seenaknya mengucapkan sesuatu yang dia sendiri tak tahu kebenarannya.

“Memang kebanyakan manusia begitu perangainya, menaru dendam kepada sesama manusia, kesalahan yang kecil di dalam suatu perkara dijadikannya sebab untuk menghinakan orang di dalam perkara yang lain. Orang sanggup mengucapkan keadilan, tetapi tidak sanggup menjaga keadilan itu!” – Hal. 76 –

***

Cerita di atas merupakan empat bab cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan yang paling saya sukai. Namun, semua cerpen yang ada di dalam buku ini memang bagus semua. Menurut saya kalian harus membacanya karena banyak sekali pesan moral yang dapat kalian ambil dari cerita-cerita yang ada di buku ini.

Saya sangat berterima kasih untuk teman yang memberi saran agar membedah buku ini, dan mewajibkan saya membacanya. Sungguh, membaca buku ini ketika sedang banyak mengeluh, membuat saya mendapatkan energi baru, dan lebih banyak bersyukur lagi.

Buya Hamka ini memang sangat keren. Menyampaikan banyak sindiran sekaligus pembelajar dengan cara yang sangat halus, membuat pembaca banyak merenungkan banyak hal ketika membaca buku ini.

Jika kalian membutuhkan buku motivasi tapi tidak menggurui, kalian harus baca buku ini. Di buku ini tuh banyak sekali pelajaran hidup yang bisa dijadikan motivasi, tanpa menggurui.

Jangan lupa membaca ya 🙂

 

Salam,
Antin Aprianti

33 KOMENTAR

  1. Ceritanya masih relevan dengan kehidupan sekarang ya. Sarat sindiran halus semoga kita termasuk yang peka dan peduli dengan sekitar ya…

  2. Bagus sekali bukunya. Pastilah karya Buya Hamka. Saya jadi banyak belajar tentang kehidupan saat membaca review ini. Ternyata yang Buya Hamka tulis lekat dengan keseharian dan bisa jadi memang diangkat dari kisah nyata. Teirma kasih ulasannya, Mba.

  3. Kisahnya menyayat hati gini, kak…
    Aku jadi banyak mengambil kesimpulan…bahwa menikah lagi belum tentu menjadi lebih baik seperti bayangan kita.
    Dan,
    Aku merasa…saat bagian perkataan kita kadang bisa jadi membuat orang lain terluka. Dan orang-orang yang sering menyakiti dengan kata begini, menurutku orangnya sudah bebal.

    Nuhun kak…bedah bukunya.
    Aku suka sekali.
    Cara penyampaiannya informatif dan lugas.

  4. Wah ini kyknya ceritanya ada sedih2nya ya penderitaan seseorang yang meraih impian eh tapi impian gak seindah yg diharapkan huhuhu. Ini kyknya kategori novel berat dan butuh waktu lama supaya bisa memahami makna ceritanya ya mbak? #sokteu

    • Iya sama mbak, kadang saya pun kurang cocok dengan buku seperti itu. Namun, buku ini beda. Di buku ini banyak sekali terselip pesan moralnya, tapi dengan cara memberikan contoh nyata. Jadi tergantung yang baca akan mengambil kesimpulannya bagaimana.

  5. Cerita Encik Utih jadi inget Nenek Iroh presiden siluman di youtubenya BAim, sampe setua itu dia milih sendirian karena ga dapat restu dari ortunya buat nikah sama lelaki pujaannya 🙁 sedih bayanginnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here