Drama Dinas Pertama Kali ke Semarang

29
595
views
pertama kali ke semarang main ke bukit tabanas - diantin.com
Pemandangan dari Bukit Tabanas

Ketika sebagian orang masih terlelap tidur, dan sebagian orang lagi baru saja bangun tidur untuk melaksanakan salat subuh. Saya sudah berada diboncengan abang ojek online, menyusuri jalanan Jakarta yang masih gelap dan lengang menuju Stasiun Pasar Senen.

Jika biasanya saat jam berangkat dan pulang kerja jalan Tendean begitu macet, berbeda dengan saat ini. Sekitar pukul 05.00 pagi, jalan Tendean begitu sepi. Terlebih pagi ini (09/03/2016) ada gerhana matahari total, langit seolah lebih gelap dari biasanya.

Karena jalanan Jakarta yang sepi, tidak perlu waktu lama untuk sampai di Stasiun Pasar Senin. Sekitar tiga puluh menit saya sudah sampai di tujuan, bayangkan jika saya berangkat berbarengan dengan jam berangkat kerja.

Pukul tujuh kurang, penumpang kereta Monoreh 160 diperkenankan masuk stasiun. Kira-kira pukul 07.15 pagi, kereta Monoreh 160 tujuan semarang mulai berangkat, diiringi sinar matahari yang tampak malu-malu mengeluarkan sinarnya.

Saat itu saya duduk di gerbong 2 yang cukup lengang, bahkan sebagian kursi terlihat kosong. Cukup aneh, karena saat saya memesan tiket kereta semua kursi sudah penuh. Sampai akhirnya saya dan teman saya itu harus duduk terpisah.

Selamat Datang di Semarang

Pukul 13.43 siang kami sampai di Stasiun Semarang Tawang. Nekadnya lagi, kami belum pesan penginapan. Untung saja pihak kantor Semarang siap mengantar kami mencari penginapan.

Drama pertama pun dimulai ketika mencari penginapan. Memang, selama di Semarang ada yang antar kami ke sana ke mari, tapi mereka ini setiap ditanya tentang Semarang kok ya banyak nggak tahunya 🙁

Karena kami akan beberapa hari di Semarang, maka kami minta dicarikan guest house saja untuk numpang tidur dan mandi agar lebih hemat. Sempat keliling dan mendatangi beberapa guest house, tapi nggak ada satu pun yang cocok dengan kami.

Hari semakin sore, kami mulai lelah dan perut mulai terasa lapar. Kami sampai lupa belum makan siang. Akhirnya kami memilih menginap di hotel, dan mereka menyarankan untuk menginap di Hotel Dalu yang berlokasi di jalan Majapahit.

Waktu makan siang sudah lewat, cacing di perut kami sudah mulai protes minta diisi. Kami pun diantar ke hotel untuk menyimpan barang-barang, baru mencari makan siang sekitar hotel.

Karena lelah, setelah makan siang kami istirahat. Malamnya, kami dijemput kembali untuk makan malam. Kami sengaja tidak makan malam di hotel, karena ingin mencoba Tahu Gimbal makanan khas Semarang.

Malam Pertama di Semarang

Malam ini, kami diajak ke sekitaran Kota Lama untuk melihat Gereja Bleduk serta penjual barang-barang antik. Konon, Gereja Blenduk ini merupakan gereja kristen tertua di Jawa Tengah.

Kami tidak berlama-lama di sini karena sangat ramai. Hanya melihat-lihat barang antik sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman KB.

Untuk menuju ke Taman KB di jalan Taman Menteri Supeno, kami melewati Lawang Sewu yang terkenal dengan cerita horornya. Hingar bingar lampu malam membuat bangunan Lawang Sewu terlihat megah.

Di Taman KB banyak sekali penjual berbagai makanan, mulai dari makanan khas Semarang sampai jajanan kekinian. Kami langsung mencari penjual Tahu Gimbal, karena beberapa makanan lain di Jakarta juga ada.

makanan khas semarang - diantin.com
Tahu Gimbal dan Es Campur

Menurut saya tahu gimbal ini seperti ketoprak. Yang membedakannya, pada tahu gimbal ada tambahan bakwan udang tanpa sayuran yang disebut gimbal. Untuk rasanya sendiri, saya kurang suka karena terlalu manis. Yang uniknya lagi, es campur di sini memakai roti tawar sebagai isian tambahannya.

Beberapa Hari di Semarang Ngapai Saja?

Karena ke Semarang untuk bekerja, tentu saja saya lebih banyak bekerja. Jadi nggak ada waktu banyak untuk main ke tempat wisata yang ada di Semarang.

Namun, saya sempat melihat Pelabuhan Tanjung Emas dari dekat. Ya walaupun hanya lewat, tapi rasanya senang sekali bisa melihat kapal-kapal yang sedang bersandar serta tumpukan kontainer, dan truk yang keluar masuk pelabuhan.

Saya juga sempat makan malam di Panorama Garden Resto Gombel. Resto ini menyediakan menu seafood, berbagai makanan ringan, dan minuman. Dari resto ini kami bisa melihat pemandangan malam Kota Semarang sambil ditemani live musik, ntah kenapa tempat ini terasas sangat romantis sangat 🙂

Besoknya, saya menjelajah sekitaran jalan Padanaran untuk mencari oleh-oleh. Membeli ikan bandeng presto pak kumis yang konon katanya enak, membeli lumpia khas Semarang, dan membeli wingko babat di tempat pembuatannya langsung.

Lelah keliling mencari oleh-oleh, saya mampir ke Martabak House untuk makan siang. Menu yang ada di Martabak House cukup beragam. Mulai dari nasi goreng, steak, sampai martabak.

Yang lebih menyenangkannya lagi, ada diskon 50% setiap pembelian martabak semua jenis, khusus untuk pelajar atau mahasiswa. Cukup menunjukan kartu pelajar atau kartu mahasiswa, dan memasang promo tersebut di sosial media.

Walaupun saya nggak sempat mengunjungi tempat wisata yang ada di Semarang, tapi pengalaman beberapa hari di Semarang sungguh sulit dilupakan.

Drama Sebelum Pulang ke Jakarta

Sebelum berangkat dinas ke Semarang, saya sengaja hanya membeli tiket untuk keberangkatan saja karena belum tahu akan pulang hari apa. Mengingat kerjaan harus selesai lebih dahulu, baru bisa kembali ke Jakarta.

Sampai H-1 pulang ke Jakarta, saya dan teman kantor masih ragu mau pulang besok atau lusanya, karena beberapa pekerjaan belum selesai. Pas malamnya, ternyata pekerjaan sudah selesai dan bisa pulang ke Jakarta besok.

Drama kedua dimulai ketika kami mencari tiket. Saya baru tahu jika di website resmi PT. KAI, pembelian tiket online minimal dilakukan 2×24 jam. Karena malas membeli langsung ke stasiun, saya sempat mencari-cari alternatif lain. Saya pun menemukan salah satu aplikasi marketplace penjualan tiket bernama Pegipegi.

Saya langsung mengunduh aplikasi Pegipegi, dan mencari tiket kereta api untuk pulang besok. Bersyukurnya saya karena di Pegipegi bebas membeli tiket untuk kapan saja, bahkan keberangkatan di hari itu juga masih bisa membeli tiket di aplikasi Pegipegi.

Selain itu, mencari tiket kereta di Pegipegi juga sangat mudah. Tinggal masukan stasiun keberangkatan, stasiun tujuan, tanggal yang diinginkan, dan jumlah tiket yang dibutuhkan. Nanti akan tampil jadwal kereta, beserta keterangan lainnya.

pegipegi 2 - diantin.com
Tampilan aplikasi pegi-pegi

Untuk melihat jam keberangkatan serta ketibaannya juga cukup mudah, tinggal klik detail maka akan tampak jam keberangkatan dan ketibaannya. Jika jadwalnya sudah sesuai dengan yang diinginkan, bisa langsung pesan saja.

pegipegi 1 - diantin.com
Detail jadwal kereta

Memesannya juga sangat mudah. Jika sudah mempunyai akun Pegipegi, kalian bisa langsung login saja. Sedangkan untuk yang belum mempunyai akun langsung saja daftar, bisa menggunakan akun facebook atau daftar menggunakan email.

Enaknya lagi, di Pegi-pegi selain bisa memesan tiket kereta. Bisa juga memesan tiket pesawat dan hotel, jadi dalam satu aplikasi sudah bisa mencangkup semuanya. Andai dari awal memesan di Pegipegi, mungkin drama mencari penginapan dan tiket kereta tak akan kejadian.

Tiket sudah di ada, kerjaan sudah selesai, saya siap kembali ke Jakarta. Selamat berjumpa lagi Semarang, kota yang ternyata lebih panas dari Jakarta.

Untuk kalian yang mau traveling dan sedang mencari tiket kereta, langsung aja cek Pegipegi. #pegipegiyuk 

29 KOMENTAR

  1. Mudah dan praktis ya pesan tiket kereta dan penginapan sekalian di Pegipegi. Biasanya suami yg pesan tiket2 kalo bepergian, coba saya kasi tau tentang pegipegi. BTW ngiler banget sama tahu gimbal dan es campurnya 🙂

  2. ternyata tahu gimbal tuh tahu yg dikasih sayuran lalu dituang saos kacang, lalu ada gimbal udang? mantap tuh. kayak gado2 atau rujak mungkin yaa rasanya. jadi penasaran deh

  3. Asyik ya, perjalanan dinas sambil piknik tipis-tipis… Saya meskipun tinggal di Jogja malah belum pernah nengok lawang sewu.. Hihi.. Kalau makanan di Semarang yang saya suka tu nasi dan cumi-cumi kecil-kecil yang dimasak n masih ada tintanya..

  4. Aku tahun lalu ke semarang, kayak kota Jakarta aja cuma bedanya gak ada gedung-gedung tinggi. Nah aku sempet kulineran di simpang lima

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here